Bukan Sekedar Obsesi

Bukan Sekedar Obsesi
Bab 94 : Detik-Detik Kelahiran Si Kembar


__ADS_3

Dan memapah Finola sampai di depan pintu lobi.


"Oke, kita udah sampai." Ucap Dan sesampainya mereka di depan pintu lobi.


Dan pun membuka penutup mata Finola.


Setelah dua penutup mata terlepas dari matanya, Finola pun membuka matanya perlahan.


Mata Finola membulat sempurna saat melihat perusahaan Papa-nya yang ada di depan matanya. Ditambah lagi spanduk yang menyambut kedatangan Finola.


"Ini berkas-berkas perusahaan Papa kamu, semuanya sudah di balikkan menjadi atas nama kamu." Ucap Dan sambil memberikan satu map yang berisi berkas-berkas PT. Filima.


Finola yang masih terkejut mengambil map itu dari tangan Dan lalu membuka map itu. Ia membaca dengan seksama tulisan yang ada di lembaran-lembaran kertas.


Air mata bahagia pun lolos begitu saja dari bola mata indah Finola.


"Ini gak mimpi kan Dan?" Tanya Finola masih tak percaya.


Dan mencubit gemas pipi Finola.


"Auw.." ringis Finola.


"Sakit?"


Finola menganggukkan kepalanya.


"Berarti ini nyata." Kata Dan lagi.


Finola langsung memeluk Dan.


"Makasih Dan." Ucap Finola sambil menangis haru dalam pelukan Dan.

__ADS_1


"Ekhem..." Bratt berdehem tepat di depan Dan dan Finola yang sedang berpelukan sambil membawa cake ulang tahun sekaligus penyambutan untuk Finola.


Sontak Finola melepas pelukannya dari Dan.


Para karyawan pun menyanyikan lagu selamat ulangtahun untuk Finola.


"Selamat ulang tahun Finola, maaf, aku hanya bisa ngasih lembaran-lembaran kertas itu di hari ulangtahun kamu." Ucap Dan setelah lagu selamat ulang tahun selesai di nyanyikan.


Mendengar kata-kata Dan, Bratt memutar bola matanya malas.


"Cih!! Sok merendah!" Decih Bratt dalam hati.


"Hish!! Ini tuh kado yang luar biasa banget Dan!" Kata Finola sambil memukul pelan lengan Dan.


"Sekali lagi terimakasih yah udah bantuin aku mendapatkan perusahaan Papa aku lagi. Aku gak tahu bagaimana harus membalas jasa kamu yang luar biasa ini." Ucap Finola.


"Hanya ada satu cara." Jawab Dan.


"Ekhem... Make a wish dulu! Pegel nih megang cake-nya!" Protes Bratt.


Namun baik Dan atau Finola tak ada yang menggubris Bratt.


"Apa?" Tanya Finola.


"Sut.. sut.." Bratt memberi kode agar Finola dan Dan menyadari keberadaannya.


"Cukup jadi istri dan ibu dari anak-anak aku." Jawab Dan.


Mendengar jawaban Dan, Finola menggigit bibir bawahnya dan tersipu malu. Sedangkan Bratt, yang mendengar sangat jelas lamaran Dan yang sangat tidak romantis itu hanya menghela nafasnya kasar.


"Bagaimana, kamu bisa kan?" Tanya Dan lagi karena Finola tak kunjung menjawab.

__ADS_1


Tanpa pikir panjang Finola langsung menganggukkan kepalanya.


"Huh... Sepertinya aku harus pergi dari sini sekarang juga!" Gerutu Bratt saat melihat Finola menganggukkan kepalanya. Bratt pun memutar tubuhnya karena tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dan benar saja prediksi Bratt, karena setelah Finola menganggukkan kepalanya, Dan langsung mencium bibir Finola.


Para karyawan yang ada disitu pun bersorak sorai melihat siaran langsung di hadapan mereka. Sedangkan Alea langsung menutup mata Fritz agar Fritz tidak melihat adegan ciuman Dan dan Finola.


*


*


*


Lima bulan kemudian.


Rumah Sakit Kasih Bunda.


Hari ini adalah jadwal Alea melakukan operasi sesar. Sebenarnya Alea ingin melahirkan secara normal, tapi Bratt tidak tega melihat Alea kesakitan. Karena Bratt pernah menonton proses melahirkan normal dari YT.


Baru menonton dari layar ponsel saja, tulang-tulang Bratt rasanya sudah ngilu semua, apalagi kalau ia harus menyaksikan langsung Alea melahirkan anak kembarnya secara normal. Bisa-bisa baru mendengar Alea menjerit, Bratt sudah pingsan.


Jadi demi mencari aman untuk dirinya dan untuk Alea, Bratt memaksa Alea untuk melahirkan secara operasi dan dengan menggunakan metode ERACS.


*


*


*


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2