
"Bersama dengan mu adalah satu hal ajaib dalam hidupku, Aku menyukai Semuanya yang ada pada dirimu dan tidak kutemui hal itu dalam diri
siapapun, Hanya ada pada dirimu, Bagiku kamu adalah sosok yang amat berbeda, Dan aku suka.
( Adinda Yaura Permata Wijaya )
.
.
.
• Happy reading •
Satu Minggu kemudian...
Hembusan angin sore menyeruak dalam ruangan berukuran sedang itu, tampak seorang gadis dengan Khimar berwarna maroon tengah duduk sambil melipat pakaian, sesekali dia menengok kearah pintu kamar berharap jika sosok yang dia tunggu sejak satu jam yang lalu datang.
Gadis itu menghembuskan nafas pelan entah mengapa satu minggu ini dia selalu ingin dekat dan bersama dengan sang suami, padahal hari-hari sebelum nya tidak.
”Kenapa Kayak manja gini sih." Monolog gadis itu sambil memukul kepalanya pelan.
Cklek!
Knop pintu terbuka perlahan dan menapakan sosok pria dengan kaos putih polos yang dipadukan dengan kemeja bermotiv kotak-kotak kecil.
Senyum seketika terbit dari bibir gadis itu, dia menghentikan aktifitasnya dan berlari kecil kearah pria yang berstatus sebagai suaminya.
”Kak Fandy!" Ucapnya pelan sambil memeluk sang suami, Fandy terkejut atas pelukan tiba-tiba dari sang istri. Namun dia juga bahagia karena memang dia sangat merindukan sosok yang telah dia nikahi beberapa bulan lalu.
”Kangen ya?" Tanya Fandy. Adinda mengangguk kecil dalam dekapan sang Suami. Hangat dan tentram rasanya jika sudah berada didekat Fandy.
”Kak Fandy. Boleh minta sesuatu gak?" Cicit Adinda dengan posisi yang masih sama.
”Boleh dong mau minta apa?" Jawab Fandy. Sambil sesekali mencium puncak kepala sang istri.
”Beliin Bakso sama sate ayam." Fandy terkekeh atas penuturan Adinda. Entah ini perasaan nya atau memamg benar, selera makan Adinda meningkat sejak satu minggu terakhir.
__ADS_1
”Oke deh nanti aku beliin, Tapi aku juga mau minta sesuatu sama kamu." Ucap Fandy lagi. Adinda mendokak dan menatap lekat-lekat manik mata Fandy.
”Apa?"
”Kamu ganti panggilan dong, Panggil aku mas aja ya, Kakak mulu." Ucap Fandy sambil tertawa. Adinda menghela napas pelan.
”Oke Mas Fandy!" Jawab Adinda antusias sambil mempererat pelukannya pada Fandy.
”Oh iya Din. Nanti aku bakal kuliah sambil kerja, Kebetulan Alhamdulillah aku diterima kerja di Toko walaupun cuman jadi tukang anter paket. Tapi yang penting aku bisa nafkahin kamu tanpa bergantung sama Papa. Sekalian buat ditabung buat beli Rumah sendiri." Jelas Fandy. Panjang lebar, Entah sejak kapan air mata terjatuh, Dia tersentuh dengan ucapan Fandy. Sungguh Fandy ternyata adalah sosok yang mandiri dan bertanggung jawab serta memiliki sisi kedewasaan tinggi.
”Makasi ya Mas Fandy. Aku beruntung dapat Kamu. Allah emang gak pernah salah dalam menjodohkan Hambanya. Aku cinta kamu Karena Allah Mas Fandy. "
”Iya Din. Maaf ya belum bisa bahagiain kamu, Aku butuh waktu. Insya Allah setelah lulus kuliah Aku bakal cari kerjaan yang lebih baik, dan beli Rumah sendiri buat kita tinggalin sama anak-anak." Ucap Fandy sambil mengelus Kepala Adinda yang terbalut Khimar Berwarna putih.
Adinda melepas kan pelukan nya dan menatap Fandy. Ada yang aneh dengan perkataan Fandy barusan. ”Anak?" Monolog Adinda. Fandy tertawa pelan.
”Iya Sayang. Anak-anak kita nanti." Fandy cekikikan tidak jelas Adinda merunduk dengan pipi yang merah seperti udang rebus, sesekali dia memegang perutnya yang datar, membayangkan sebuah malaikat kecil yang akan berada didalam sana.
Meskipun keduanya masih terbilang muda tapi mereka juga tidak akan menolak pemberian dari-NYA. Rejeki Berupah keturunan. Karena bagi keduanya jika sama-sama sudah pantas
menggelar status sebagai orang tua. Allah akan segera memberikan nya.
Adinda memejamkan matanya dan mencoba menikmati kenyaman untuk sekarang ini. Adinda tidak pernah terlepas dari Fandy. Fandy hanya diam sambil berpikir kenapa Adinda seperti menjadi manja seperti sekarang, Bagaimana tidak sudah lebih satu jam Adinda memeluk Fandy sambil memejamkan matanya.
Fandy bukan menolak atau merasa risih hanya saja Adinda juga meminta dibelikan Bakso dan Sate, Tapi dia tidak ingin lepas dari Fandy. Situasi ini amat membingungkan Bagi Fandy. Adinda tidak pernah semanja ini sebelumnya, Bahkan dia tidak mau keluar dari kamar dia hanya ingin bersama Fandy.
”Mas Fandy Bakso aku udah ada gak?" Tanya Adinda dengan mata terpejam dan kepala yang berada diatas dada bidang sang suami.
”Belum ada Din. Mas belum bisa beli——." Ucapan Fandy terhenti seketika saat merasakan Adinda terbangun dan duduk dengan bibir yang dimanyunkan.
”Kok belum ada, aku maunya sekarang!" Tandas Adinda dengan nada galak.
”Ya gimana kamu dari tadi meluk mas terus, jadinya Mas gak bisa gerak." Jawab Fandy sambil duduk dan memposisikan dirinya mengahadap Adinda.
”Oh jadi Mas Fandy gak suka aku peluk gitu?"
”Gak juga."
__ADS_1
”Jahat banget emang Hiks...Hiks." Fandy Mengerutkan Dahinya kenapa Adinda tiba-tiba menangis.
”Loh kok jadi nangis iya ini mau dibeliin kok, Tunggu ya." Fandy segera beranjak dari duduknya namun Adinda kembali menghentikannya.
”Gak usah gak jadi. Sana pergi! Aku benci sama kamu mas!" Teriak Adinda lalu berbaring dengan menutup wajahnya dengan bantal.
Sungguh demi Apapun Fandy bingung dengan berubahan sikap Adinda yang seperti anak-anak ini. Fandy menghela napas pelan lalu berjalan keluar dari kamarnya.
Adinda membuka perlahan bantal yang dia pakai untuk menutup wajahnya, Kosong Fandy tidak ada, Dia pergi apa dia marah karena Adinda mengusirnya dan berkata kasar seperti tadi? Adinda duduk dengan mata berembun yang siap mengeluarkan air.
”Mas Fandy Hiks..hiks. " sudahlah Adinda menyerah air matanya tidak dapat ditahan lagi. Adinda terisak seorang diri.
Tidak lama kemudian knop pintu terbuka, Dan menampakan sosok Fandy tengah berjalan kearah Adinda dengan sebuah kresek berwarna hitam.
”Din. Kok nangis?" Tanya Fandy sambil berjalan sedikit cepat kearah sang istri, Adinda. mendokak dan menatap Fandy.
”Mas Fandy. Mas marah ya sama aku?"
”Gak kok, Mana mungkin Mas marah sama kamu." Fandy duduk disamping Adinda.
”Tadi kenapa langsung pergi gak pamit Hiks...hiks."
Fandy menghela napas kasar kenapa Adinda berubah sekarang. ”Mas tadi habis pesanin Bakso nih." Ucap Fandy. Sambil menjukan kresek yang berisi bakso yang masih hangat yang tadi dibawanya.
”Jadi gak marah?" Tanya Adinda lagi.
Fandy mengucap wajah secara perlahan sebelum bersuara. ”Gak kok sayang, yaudah ayo dimakan dulu keburu dingin." Jawab Fandy. Adinda mengangguk lalu bergegas kedapur untuk menyiapkan Bakso porsi sedang itu.
Sebenarnya Fandy bingung dengan semua berubahan sikap Adinda yang seperti anak-anak. Tapi Fandy juga tidak ingin membesar-besarkan masalah, Entahlah dia akan menanyakan ini pada sang Mama pasti Mamanya tau apa yang sedang dialami oleh Adinda.
📕📕📕
Assalamualikum😁
Maaf kalau Agak gaje, semoga masih suka sama cerita ini ya:)
Jangan Lupa Vote Dan Komen!
__ADS_1
🌹Syukran🌹