
Hany tak peduli dengan pertanyaan Hanafi. Ia terus berjalan menuju rumah besar yaitu rumah yang betada di tengah Ponpes. Rumah itu adalah rumah utama. Di sana ada Abi, Umi dan Dul, adik Hanafi.
"Pengantin baru? Sini masuk, Na," ucap Umi mempersilahkan.
"Umi ...." jawab Hany pelan mencium punggung tangan Umi sambil memeluk Umi Hanafi dengan erat.
"Gimana? Bulan madunya?" tanya Umi Hanafi sambil tertawa menggoda Hany dan membalas peleukan itu.
Pertanyaan itu membuat Hany menatap Umi Hanafi lekat.
"Bulan madu?" jawab Hany lirih.
"Bukannya menginap tiga hari di hotel kalian sekalian bulan madu. Biar pulang ke Ponpes ada kabar bahagia," ucap Umi Hanafi pelan.
Hanafi yang baru saja masuk ke rumah besar itu langsung menyahut. Ia tidak ingin membuat Hany merasa tersudut. Hanafi berusaha se -bisa mungkin membuat Hany tetap betah berada di lingkungan Ponpes milik Abinya itu.
"Nanti pun pasti akan segera terisi Umi. Kemarin Sakinah sedang datang bulan," ucap Hanafi sopan tanpa ada rasa malu.
"Owalah ... Sedang datang bulan. Bagus. Tinggal di hitung dan nanti di sesuaikan tanggalnya, pasti jadi. Umi dan Abi sudah tidak sabar ingin memiliki cucu," ucap Umi pelan.
Hany menatap Hanafi yang melirik ke arahnya sambil mengangguk kecil. Kode itu membuat Hany merasa bersalah. Umi dan Abi Hanafi itu begitu baik padanya, begitu sayang dan sudah di akui seperti anak kandungnya sendiri.
"Maaf ya Umi," ucap Hany lirih. Hany pun mengendurkan pelukan di tubuh Umi.
__ADS_1
"Kamu lleah Na. Istirahat saja dulu. Umi edang memasak untuk makan malam. Nanti kalau sudah waktunya kita akan makan malam bersama. Nanti Umi panggil," titah Umi pelan.
"Iya Umi. Makasih ya," ucap Hany sopan.
Hany pun berjalan tepat di belakang Hanafi. Ia baru pertama kali datang ke rumah besar milik mertuanya. Rumah itu sungguh besar dengan dua lantai. Semuanya terlihat mewah dan elegan. Banyak lukisan berbau religi dan buah tangan yang tersusun rapi di buffet kaca yang berasal dari Mekkah.
Kedua mata Hany masih berputar mencari pemandangan yang baru dan begitu indah. Rumah yang bersih dan rapi walaupun tidak ada anak gadis di rumah ini.
"Sayang ... Ayo sini, awas jatuh," titah Hanafi kepada Hany yang tak melihat ada anak tangga di depannya. Kalau tidak di bei tahu, bisa -bisa Hany tersandung karena tidak fokus.
Hany pun menatap Hanafi dan menunduk lalu menaiki anak tangga berlanti keramik itu secara perlahan.
"Iya Pak Ustad. Makasih," ucap Hany pelan.
Ia memmbuka pintu kamarnya dan masuk ke dalam da meletakkan koper besar itu di dekat sofa pajang.
Hany ikut masuk ke adlam kamar yang cukup luas dengan gaya ruangan yang mirip seperti kamar hotel padaumumnya. Dindingnya berwarna abu -abu gelap dengan lampu kamar tersorot di setiap sudut kamar. Lemari pakaiannya besar dan panjang hingga mencapai lima pintu.
"Tutup pintunya, Sayang. Kalu perlu kunci pintunya, biar kamu bisa istirahat," titah Hanafi pelan.
Hanafi juga menutup pintu kaca yang ada di belakang dan menutup dengan hordeng berwarna senada.
Hany pun menurut dan berjalan menuju sofa panjang. Kali ini agak sedikit canggung dan kaku. Ia bingung karena memang belum terbiasa.
__ADS_1
"Terima kasih Mas," jawab Hany pelan.
Sudah waktunya mungkin ia berdamai dengan keadaan. Mau terima atau tidak memang perjodohan ini sudah berlangsung dan kini mereka sudah SAH enjadi pasangan suami dan istri yang tercatat.
Hanafi memutar tubuhnya. Baru saja selesai menaruh semua pakaian di kopr ke dalam keranjang cucian kotor dan meletakka koper itu di atas lemari yang tinggi.
Hanafi berjalan menuju Hany yang duduk manis di sana. Sikapnyajuga terlihat manis seperti kucing yang sedang berada dalam genggaman majikannya.
Hanafi bersujud di depan Hany dan memegang lutut Hany dengan lembut.
"Coba ulangi lagi kata -kara manis tadi. Aku takjub mendengarnya," ucap Hanafi pelan.
Hany menatap lekat dua bola mata indah Hanafi dengan senyum manis. Jantungnya tiba -tiba berdegub kencang.
"Hei ... Coba ulangi lagi?" pinta Hanafi lembut.
"Terima kasih Mas," ucap Hany pelan.
"Kasih di terima, Sayang. Nah ... Kan kalau manggil Mas tuh, rasanya adem banget. Nyes di hati kayak di guyur air es," ucap Hanafi pelan sambil memegang dagu Hany.
Deg ...
Hany terus memandang lekat ke arah Hanafi. Wajah lelaki di depannya saat ini benar -benar sangat tampan.
__ADS_1