CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
BIJI KELENGKENG MELAMBAI


__ADS_3

Hany pun menyembulkan kepalanya saja. Tubuhnya yang memakia baju nelayan itu harus di tutup rapat karena ad alelaki mesum di depannya.


"Gimana aku memijatnya? Kalau semua kamu tutu rapat, Na," ucap Hanafi pelan sambil menghembuskan napasnya.


"Malu Pak Ustad. Ini baju setengah telanjang. Mana Na gak pake daleman, masa iya hutan lebat Na terlihat, belum lagi, biji kelengkeng Na juga pasti menyembul," ucap Hany jujur.


Sontak ucapan itu membuat Hanafi tertawa keras dan etrkekeh. Ia bahkan tak percaya HAny akan emmiliki istilah untuk semua hal yang sudah di halalkan itu.


"Kok tertawa? Ada yang lucu?" tanya hany bingung.


Hanafi pun pelan duduk di tepi ranjang dengan masih terkekeh pelan. Sedikit membayangkan memang biji kelengkeng berwaran hitam pekat dan bulat keras, lalu hutan lebat yang mungkin sedikit gondrong. 'Argh ... Malah membayangkan yang tidak -tidak,' batinnya kacau.

__ADS_1


"Memang tertawa di larang? Ada aturannya kah?" tanya Hanafi pelan mencoba memegang kaki Hany dan akan memijatnya.


"Eits ... Jangan sentuh -sentuh. Na masih virgin. Oke? Itu tangan jangan mgang apapun, nanti bisa bahaya. Ini kita cuma berdua di kamar, yang ketiga pasti ada seta," ucap Hany ketus sambil kedua matanya menerawang ke segala arah.


"Kaki kamu terkilir kan? Mau saya pijat, bukaan mau di apa -apakan. Duh, saya juga gak semangat lihat gadis bar -bar begini, selalu overthinking," ucap hanafi menjelaskan.


"Kaki aja. Jangan yang lainnya," tegas Hany membuka edikit selimutnya hingga memperlihatkan kakinya yang sakit karena terkilir.


Perlahan Hanafi pun mulai memijat kaki Hany dengan memakai balsem seadanya.


hany mengangguk kecil. Ia terduduk dan bersandar pada sandaran tempat tidur. Tadi Hany sempat berteriak saaat bagian yang sakit di putar sedikit biar engselnya kembali normal. Ia lupa kalau baju nelayannya mulai terlihat dan menampakkan biji kelengkeng dari balik baju nelayan itu. Selimut yang menutupinya tadi sudah melorot turun dan di abaikan oleh Hany karena Hany mulai fokus dengan kakinya yang di pijat.

__ADS_1


Sesekali Hanafi hanya tersenyum dan melirik. Biji kelengkeng seolah sedang melambai dirinya. Pikirannya muali kacau sebagai laki -laki, kejantanannya pagi ini teruji kembali. Kalau pun tidak kuat, toh sudah halal.


"Sudah enak?" tanya Hanafi kembali.


"Sudah lebih baik. Makasih ya," ucap Hany pelan sambil berusaha mencoba memutar -mutar kakinya yang sudah mulai bisa di gerakkan dan tidak lagi terasa sakit.


Hanafi bangkit berdiri lalu meletakkan balsem itu dan mencuci tangan di wastafel. Ia tidak mau bertindak ceroboh yang malah memicu amarah Hany. Lebih baik Hanafi memendam keinginannya dnegan menunda malam pertamanya.


Saat Hanafi berada di wastafel. Hany menutup kembali kakinya dnegan selimut. Dan ... Ia berteriak tapi ia tutup dengan kedua telapak tangannya. Begitu cerobohnya Hany hingga baju nelayannya dengan mudah di nikmati Hanafi tadi. LIhat saja potongan baju nelayan ini, begitu sesi dan terbuka di semua bagian.


Ia menarik selimut dan menutupnya kembali. Hanafi masuk dan menelepon bagian customer service untuk memesan makanan dan ingin memeberikan beberapa pakaian kotor untuk di laundry.

__ADS_1


Hany yang berpura -pura tertidur pun mendengar Hanafi pesan makana untuk sarapan. Kenapa pesannya sedikit? Padahal ada Na di sini, batin Na kesal.


Hanafi duduk di sofa mulai memutar film disney terbaru kesukaannya. Ia mencoba untuk tidak menganggu Hany yang sedang beristirahat.


__ADS_2