
"Gimana? Mau ikut saran Mas? Atau kamu punya saran sendiri? Silahkan saja?" tanya Hanafi pelan.
Hany menatap ke depan dengan tatapan lurus tak berkedip. Perjodohan ini akan tetap terjadi. Cepat atau lambat. Mau besok atau lusa, atau bahka minggu depan. Tetap saja, ia akan menikah dengan Hanafi apapun kondisinya.
Tatapannya kini beralih ke arah Hanafi. Hany sudah ambil keputusan bulat.
"Oke. Kita menikah besok." jawab hany tegas dan lantang.
"Yakin?" tanay Hanafi mengulang kembali untuk memastikan keputusan Hany.
"Hany mengangguk pasrah.
"Yakin sekali. Lagi pula demi tidak mendengarkan ocehan Kakek. Tak masalah. Lgi pula, mau kapan pun bertahan, tetap saja perjodohan ini tetap akan terlaksana, entah lusa, minggu depan atau bulan depan. Jadi, ya sudahlah, besok juga tidak apa -apa. Tapi inget Na gak mau di larang -larang," ucap Hany dengan tegas memperingati.
Hanafi hanya mengangguk saja. Lihat saja, setelah ini aturan agama yang mengaturnya bukan aturan manusia. Hak dan kewajiban seorang istri harus di tegakkan.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan ke arah teras rumah Kakek Bram. Saat ini pukul dua pagi. hanafi nampak snagat tenang sekali dan Hany nampak sedikit gugup dan gelisah.
Semakin dekat dengan rumah besar itu, semakin terdengar suara Kakek yang masih berteriak entah kepada siapa. Dan sepertinya sangat ramai sekali.
__ADS_1
"Gak usah gugup. Mas akan buat suasananya mencair kembali. Percaya sama Mas, semua akan baik -baik saja," ucap Hanafi berusaha meyakinkan Hany.
Hany hanya bisa mengangguk pasrah dan menghembuskan napasnya agar hatinya sedikit lega.
Hanafi mengetuk pintu rumah itu dan mengucapkan salam.
Tok ... Tok ... Tok ...
Ceklek ...
"Assalamualaikum ..." ucap Hanafi memberikan salam saat pintu itu terbuka.
Ada indra, Mbok Yum, Nenek Inggit dan beberapa pelayan yang bekerja di rumah besar itu.
"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang berada di dalam rumah dengan serempak.
"Nak Hanafi?" ucap Kakek Bram bingung.
Di belakang Hanafi ada hany yang bersembunyi di balik badan kekar dan tegap itu. Memang tidak terlihat, Hany yang kecil dan ramping sama sekali tak terlihat dari depan.
__ADS_1
"Kakek ..." jawab Hanafi sambil menghampiri Kakek Bram dan mengecup punggung tangan Kakek Bram dnegan sopan.
Setelah itu Hany bergantian mencium punggung Kakek Bram dengna cepat danhormat. Kakek Bram pun melotot ke arah Hany. Ia tak menyangk cucu kesayangannya itu pulang bersama Hanafi dan bersembunyi di balik tubuh Hanafi.
"Sakinah!!" teriak Kakek Bram tiba -tiba.
Semua orang langsung menatap ke arah Hany yang menundk takut.
"Kakek ... Bisa kita bicara. Ada hal penting yang harus Hanafi ceritakan. Bisa kita duduk di sana," pinta Hanafi dnegan sopan. Ia berusaha meyelamatkan Hany dari omlean Kakek Bram.
Baru saja urat lehernya ingin berteriak kembali. Kakek Bram menatap ke arah Hanafi yang sopan dan sholeh itu lalu mengangguk kecil.
Hany yang tadi menarik napas dalam, kini bisa mengehembuskan napsnya dengan lega. ia menatap ke arh hanafi dan Kakek Bram yang malah asyik berbincang.
Hany takjub dengan sikap Hanafi yang benar bisa langsung mencairkan suasana pagi ini. Apa yang ia katakan selalu benar dan jujur.
Mungkin esok hari, janji Hany harus di tepati. Menikah dnegan Hanafi se -cepatnya. Setelah ini ia akan tinggal bersama Hanafi di pondok pesantrennya.
Mbok Yum langsung menraik Hany dan mengajaknya naik ke atas menuju kamarnya. Nenek Inggit pun ikut naik. Sedangkna Indara hanya duduk terdiadi sofa. Ia takut dengan amarah Kakek Bram barusan. Kapok mengajak Hany untuk macam -macam lagi. Apalagi ia sudah mau menikah.
__ADS_1