CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
51


__ADS_3

Itulah karakter Hany Sakinah, ceria, ceroboh, cuek, ceriwis, dan cemiwiw. Wajahnya yang tetap terlihat cantik meskipun baru bangun tidur. Rambut yang awut -awutan dengan daster lecek yang sedikit kusel membuat penampilan Sakinah pagi itu benar -benar tidak mengesankan seorang manusia yang di manusiakan. Berantakan parah.


Tanpa banyak bicara dan pasrah dnegan keadaan. Hany menurut dan mengikuti perintah Mbok Yum. Apalagi ia sudah mendengar teriakan Kakek Bram dari lantai bawah dengan sangat keras. Hany sudah tak banyak pilihan dan tak ada penawaran lagi.


Mobildari rombongan Kakek Bram sudah berangkat menuju Hotel Buana. Hanya ada satu mobil, dengan posisi tempat duduk menurut yang di tuakan. Di depan ada supir dan Kakek Bram. Kemudian, di jok belakang ada Nenek Inggit, Hany dan Mbok Yum. Kebetulan orang tua Hany juga baru di beritahu setelah Hanafi pulang. Mungkin Papa Broto dan Mama Amalia sedang dalam perjalanan.


Bohong kalau Hany saat ini tenang dan santai. Sejak berita ini di turunkan dan terlontar tanpa dosa dari bibir Mbok Yum, tepat di saat itu perasaan Hany campur aduk.

__ADS_1


Namun, nasi goreng tadi malam tntu tidak bisa di muntahkan kembali utuh ke dalam piring. Sama seperti ucapan dan janji yang sudah di buat harus di tepati meskipun semua itu tidak sesuai dengan kehendak hati. Tapi, Hany berusaha menjadi perempun sejati yang tak mungkin mengingkarinya. Hany belajar untuk tidak menjadi seorang pecundang. Hany tidak mau di katakan sebagai gadis yang tak bisa di percaya. Lebih baik kalah di medan perang dari pada bilang aku mundur karena tak punya nyali.


Tahu kan? Hany Sakinah itu bukan seorang gadis yang mudah menyerah dan tak mudah patah semangat. Semua akan ia jalani meskipun resiko, bahaya dan rintangan itu sudah jelas terlihat di depan mata.


"Kamu panik Na?" tanya Nenek Inggit tiba -tiba kepada Sakinah yang terlihat sedikit tegang. Nenek Inggit memegang tangan Sakinah dan menggenggam erat. Perempuan tua itu tahu, cucu kesayangannya sedang berada di ujung rasa gundah gulana.


Bagaimana tidak? Menikah karena perjodohan. Menikah dengan seorang ustad yang usiaya juga sudah lebih dewasa dan tampak matang. Menikah yang tiba -tiba di majukan karena sebuah kesalaha fatal yang di buat sakinah.

__ADS_1


"Jangan pura -pura baik -baik saja, padahal hatimu sdenag runtuh," ucap Nenek Inggit tertawa menggoda.


"Runtuh? Runtuh kenapa?" tanya Sakinah yang tak paham dengan ucapan Nenek Inggit.


"Ya Runtuh. Karena sebentar lagi pertahann kamu akan runtuh," tawa Nenek Inggit semakin menggelegar tapa dosa. Mbok Yum pun ikut tersenyum karena pham dnegan maksud Nenek Inggit.


"Apa sih Nek? Na gak paham sama sekali," ucap Sakinah bingung. Wajahnya cemberut melihat Nenek Inggit dan Mbok Yum yang sengaja tertawa menggoda Sakinah. Tatapannya berpindah lurus ke arah depan dan tak usil berharap untuk terus bertanya pada Neneknya.

__ADS_1


"Gitu aja marah. Kamu kan mau nikah. Nanti malam berati malam pertama, berarti kan semua yang telah kamu jaga harus kamu berikan pada suami kamu. Ingat, dia itu ustad, dia bisa membela diri dengan rentetan dalil dan apa yang dia pahami mana yang hak dan mana yang batil, terus dia pasti akan menjelaskan hak dan kewajiban seorag istri, lalu dosa apa saja yang akan di terima sang istri bilatidak menuruti smeua perintah suami. Apalagi kalau menolak untuk ...."


"STOP Nek. Jangan racuni pikiran sakinah dnegna hal -hal berbau prno begitu. Na baru kelas tiga SMA. Jalan Na itu masih panjang kaak tol. Cita -cita Na itu juga masih tinggi sampai matahari. Jadi gk mungkin Na merelakan smeuanya hanya karena Na sudah menjadi istri." jawab Sakinah dengan suara lantang dan tegas sekali.


__ADS_2