CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
MAU BAGAIMANA LAGI?


__ADS_3

Bendera sudah dinaikkan tanda dimulainya acara balap liar itu. Suara deru mesin motor memancing adrenalin masing-masing joki untuk segera menarik gas dengan sekencang-kencangnya agar motor bisa melaju dan melesat dengan sangat cepat dan terdepan.


Hany berada di posisi dua, dan di depannya ada Reno, sang joki yang mengajaknya taruhan. Gas motor Hany belum ditarik hingga maksimal, masih disisakan sedikit untuk jalanan dengan trek lurus.


Motor camel dan motor besar berwarna merah milik Reno sudah beradu dengan sangat genting, mereka berdua saling beradu mencari posisi pertama.


Hany cukup lihai di trek tikungan dan turunan serta tanjakan, karena tubuhnya yang mungil dan ringan.


Di depan jalan memang gelap, Hany mencari celah untuk bisa membalap Reno, Karen trek sudah mau masuk finish.


Baru juga melewati tikungan dan berbelok, bunyi sirine mobil polisi terdengarsangat jelas dan sangat dekat.


Hany yang mulai panik dan cemas, juga ikut bingung. Posisinya sudah tidak bisa lari karena sudah dikepung oleh beberapa mobil polisi yang siap menangkap dan membawa mereka ke kantor polisi.


"Berhenti semua, dan turun dari motor kalian!!" teriak satu polisi dengan suara keras dengan menembakkan satu letupan dari senapan angin yang diarahkan ke udara.


Hany mengehentikan laju motornya dan mematikan motornya lalu turun dari motor camel itu. Sama halnya dengan ketiga joki laki-laki yang lain yang ikut menjadi peserta balap liar. Mereka bertiga juga ikut turun dan menyerah di depan polisi.


Indra tertegun dan berlari mencari tempat persembunyian yang aman sambil melihat Sakinah dari kejauhan yang sudah digiring oleh beberapa polisi untuk naik ke mobil polisi. Motor camelnya pun juga sudah ikut diangkut ke atas mobil sumpung dengan tiga motor lainnya yang milik peserta joki lainnya.


Tubuhnya sudah gemetar, lututnya terasa sangat lemas, keringat dinginnya sudah keluar di sekujur tubuh Indra. Rasa takut bercampur panik dan juga cemas sudah melingkupi hati dan pikirannya. Jantungnya berdegup dengan sangat keras hingga rasanya tak kuat untuk berdiri menyeimbangkan tubuhnya berpijak pada bumi.


Indra benar-benar bingung apa yang harus dikatakannya pada Nenek Inggit dan Kakek Bram nanti jika harus menceritakan kejadian yang sebenarnya. Nasihat Kakek Bram dan Nenek Inggit yang sejak siang hanya diabaikan kini benar-benar terjadi. Pingitan ini memang hanya adat istiadat, tapi kalau kejadiannya seperti ini, siapa juga tidak percaya dengan adat istiadat.


Menyesal sudah pasti, kecewa sudah tentu, tapi kalau nasi sudah jadi bubur, apa yang harus disesali? Hanya bisa menangisi keadaan yang terjadi bukan?


Indra masih berada di persembunyiannya dan masih berpikir keras mencari cara untuk memberikan alasan yang tepat kepada Kakek Bram dan Nenek Inggit.


Setengah jam kemudian, tempat arena balap liar itu sudah sepi, setelah tadi terjadi hiruk pikuk, banyak orang berlarian kesan dan kemari untuk mencari tempat yang aman untuk melindungi diri mereka sendiri.


Indra sudah keluar dari semak-semak belukar yang membuat tubuhnya sedikit gatal-gatal dan memerah. Indra mencari teman atau mungkin kendaraan yang tertinggal untuk ikut pulang ke rumahnya. Namun, tempat itu benar-benar sepi, entah pada kemana mereka bersembunyi hingga tidak ada satu orang pun yang terlihat batang hidungnya.


Indra berjalan lurus mencari jalan untuk pulang, karena jika tidak ada orang, terpaksa Indra akan pulang dengan berjalan kaki sampai ke rumahnya.

__ADS_1


Indra mengedarkan pandangannya ke kiri dan ke kanan dan terus begitu hingga Indra benar-benar memastikan tidak ada orang satu pun yang senasib dengan dirinya.


Hany duduk diam di atas mobil Polisi dengan ketiga teman jokinya yang juga ikut sebagai peserta balapan liar barusan tadi.


Ketiga pria itu menatap Hany dengan kagum, salah satu dari mereka ternyata ada joki cantik yang sangat tangguh dan hebat. Raut wajah Hany tidak memperlihatkan rasa sedih, kecewa dan menyesal, semuanya tampak biasa-biasa saja, seperti tidak terjadi apapun juga.


Hany menegakkan tubuhnya dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran besi kursi panjang itu yang ada di atas mobil Polisi.


Bagi Hany, diangkut seperti oleh polisi bukan hal yang pertama kali, bahkan Hany sudah beberapa kali masuk kantor polisi hanya untuk masalah yang sama.


Reno duduk tepat di samping Hany, menatap gadis unik itu dari samping.


"Sakinah, gw lihat loe santai banget? Loe gak takut kalau orang tua loe harus datang ke kantor polisi dan acara malam ini bisa ketahuan?" tanya Reno dengan suara pelan ke arah Hany.


Hany hanya sekilas menoleh dan menatap ke arah Reno, dan tersenyum kecut kepada Reno.


"Ini bukan kali pertamanya gw ditangkap, dan ada yang lebih parah dari ini, makanya gw santai, lagi pula apa yang harus ditakuti? Kita tidak salah? Kita tidak merugikan orang lain? Kita tidak meresahkan orang lain? Dan kita tidak berbuat jahat sama orang lain! Kesalahan kita cuma satu, kita taruhan dalam arena balap liar ini," ucap Hany pelan menjelaskan kepada Reno yang takjub dengan penjelasan Hany yang begitu sempurna hingga mulut Reno terbuka sedikit sambil mengangguk pelan tanda paham.


"Jadi loe sudah sering kayak begini?" tanya Reno pelan kemudian bertanya kembali.


"Loe ternyata beneran keren, pantees Indra tergila-gila sama loe. Loe itu cantik, dan hebat," ucap Reno pelan lalu tersenyum lebar.


"Gak usah ngadi-ngadi ya, Gw sama Kang Indra sudah kayak saudara dekat," jawab Hany pelan kepada Reno tanpa ada senyuman sedikitpun.


Tiba-tiba pikiran Hany tertuju pada Kang Indra, bagaimana dengan nasibnya sekarang, apakah Kang indra selamat dari kejaran polisi atau malah sebaliknya, Kang Indra juga tertangkap razia dan berada di mobil polisi yang lain.


Tapi, sebenarnya bukan masalah ini yang sejak tadi Hany pikirkan. Hany lebih memikirkan, siapa yang akan membantunya mengeluarkan Hany dari kantor polisi tanpa syarat.


Jika harus minta tolong kepada Nenek Inggit atau Kakek Bram maka akan ada ceramah dan nasihat yang harus didengarkan oleh Hany selama tujuh hari tujuh malam tanpa berhenti dan tanpa ada titik koma.


Kalau harus minta tolong dengan Bapak Kang Indra, bisa-bisa Kakek Bram dan Nenek Inggit akan menanggung malu seumur hidup karena kelakuan cucu kesayangannya yang nakal dan meresahkan masyarakat.


Jika minta tolong Mbok Yum, tapi harus bicara lewat siapa, tentu saja Nenek Inggit dan Kakek Bram bisa memarahi Mbok Yum habis-habisan.

__ADS_1


Satu-satunya jalan, Hany akan menelepon Ustad Hanafi atau Mas Afi calon Suaminya itu. 'Kalau sampai ceramah, ya tinggal merajuk atau minta dinikahi secepatnya. Apa?! Menikah secepatnya? Astagfirullah, Hany kan memang sedang di pingit, lalu bagaimana ini,' batin Hany di dalam hatinya.


Mobil polisi itu sudah sampai di pelataran parkir kantor polisi. Semua orang yang ada diatas mobil polisi itu diturunkan dan digiring masuk ke dalam kantor polisi.


Mereka semua di kumpulkan di aula besar yang ada di kantor polisi, sedangkan keempat joki yang ditangkap terpisah dimasukan ke dalam ruangan kosong.


Semua yang tertangkap harus melaksanakan tes urine, untuk mengetahui apakah ada yang memakai obat-obatan terlarang atau tidak, kalau sampai ada maka akan ditindaklanjuti secara tegas. Perlakuan yang sama juga ditujukan kepada keempat peserta joki itu.


Hany sudah memberikan sampel urine untuk tes urinenya. Hany kembali duduk lagi di kursi pesakitan itu. Rasanya lelah dan letih, ditambah lagi kakinya mulai kambuh sakit dan nyeri saat dibuat untuk berjalan.


Satu polisi masuk ke dalam ruangan itu dan memberikan solusi terakhir. Setelah mendapatkan hasil tes urine dan dinyatakan bebas atau negatif atau tidak ada hubungannya dengan obat-obatan terlarang, maka mereka bisa segera menghubungi orang tuanya untuk menjemput mereka sekaligus menebus motor yang dijadikan alat atau obyek untuk balapan liar.


Satu jam kemudian hasil atas nama Hany Sakinah pun keluar dan hasilnya dinyatakan negatif.


"Nama kamu Hany Sakinah?" tanya satu orang polisi berjambang lebat.


"Iya, saya Hany Sakinah, ada apa Pak?" tanya Hany pelan dan sopan kepada polisi tersebut.


"Silahkan telepon orang tuamu untuk segera menjemput kamu disini," ucap Polisi itu sambil memberikan hasil tes urine itu kepada Hany.


"Iya Pak, saya akan telepon sekarang," ucap Hany pelan dan sopan.


Hany merogoh kantong jaketnya dan mengambil ponsel pemberian Mas Afi, ponsel itu sempat dimatikan agar tidak mengganggu acara balapan liarnya, dan kini ponsel itu dihidupkan kembali. Banyak notifikasi uang masuk pertanda banyak yang meneleponnya atau memberikan pesan singkat kepada Hany, lalu Hany mencari kontak suaminya itu, dengan segera meneleponnya. Dengan perasaan takut, cemas dan was-was serta panik, Hany mengucap bismillah dengan lirih lalu menekan tombol hijau untuk menelepon Mas Afi.


Tidak menunggu lama, baru satu kali dering telepon itu berbunyi, langsung ada seseorang yang berbicara dari arah seberang sambungan telepon itu.


"Assalamu'alaikum, Sakinah dimana kamu sekarang?" tanya Ustad Hanafi yang terlihat cemas dan panik.


"Waalaikumsalam, Na, ada di kantor polisi. Kesini bisa Mas Afi, ceritanya panjang, tolong Na," ucap Hany pelan dan lirih.


Suaranya nampak bergetar dan seperti akan menangis.


"Baiklah, Mas akan kesana sekarang. Kamu tunggu disana dan diam oke. Mas Afi akan berangkat sekarang," ucap Ustad Hanafi dengan sedikit tegas.

__ADS_1


Ada perasaan lega dan malu terhadap Mas Afi calon suaminya itu. Tapi, mau bagaimana lagi, Hany tidak punya pilihan lain untuk masalah ini.


__ADS_2