CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
ADA DARAH


__ADS_3

Keduanya saling bertatap mata dan ing berpandangan lekat tanpa berkedip. Hany yang juga kagum dengan ketampanan Hanafi. Begitu juga dengan hanafi yang kagum akan kecantikan Hany yang alami.


"Ekhem ... Berat Pak Ustad," ucap Hany pelan.


"Aku suamimu. Dan aku tidak ingin kau panggil ustad," titah Hanafi tanpa mau turun dari atas tubuh mungil Hany.


"Bisa turun dulu?" tanya Hany pelan.


Hanafi menggelengkan kepalanya cepat.


"Apa panggilan spesial kamu untuk aku?" tanya Hanafi cepat.


Hany menarik napas dalam dan memejamkan kedua matanya. Ia nampak berpikir. Hanafi pun semakin mendekati wajah Hany dan memberanikan diri untuk mencium bibir gadis bar -bar itu.


Cup ...


Kedua mata Hanafi pun terpejam sesaat. Lalu mmebuka bersamaan dnegan Hany yang terkejut dengan perbuatan Hanafi.


Hanafi memperdalam ciumannya. Tubuhnya seolah meminta lebih mengikuti hasrat dan nafsunya pada pasangan SAHnya.


"Eungh ...." Hany sedikit mendesah. Hany berusaha melepaskan ciuman itu.


Tapi sepertinya Hanafi sudah sedikit kalap. Ia terus mencari kenikmatan dari permainan lidahnya.


"Ekhemmm ... Pak Ustad. Sudah ya," pinta Hany yang terlihat sedikit ngos -ngosan.


"Heumm ... Sudah? Pak Ustad? Bukankah ...." ucap Hanafi yang kembali mencium Hany.


Tubuh keduanya mulau panas membara dengan napas memburu. AC yang dingin di dalam kamar pun terasa sumpek dan berhawa panas.


Kluruk ...

__ADS_1


Suara perut Hany, kali ini begitu sangat keras. Gadis itu benar -benar sedang lapar.


"Kamu lapar?" tanya Hanafi pelan. Mau tidak mau ia harus menghentikan aktivitasnya yang baru saja memanas dan akan melangkah ke tahap selanjutnya.


Hany mengangguk pasrah. Tubuhnya sedikit basah karena keringat.


Hanafi pun turun dari tubuh Hany dan duduk tegak di sofa itu. Begitu juga hany yang ikut duduk bersandar di sofa itu dengan tubuh setengah telanjang. napasnya agak berat karena harus menopang tubuh Hanafi yang tidak enteng.


"Mau makan apa, Na?" tanya Hanafi yang bingung memilihkan untuk Hany.


Hany melihat beberapa makanan dan memilih kroket ayam serta pie buah yang sejak tadi di incarnya. Ia mengambil piring kecil dan mengambil beberapa makanan pembuka lalu menikmatinya.


"Enak?" tanya Hanafi yang memilih makanan berat. Nasi goreng kambing dengan omlete dan nugget.


"Enak dong. Makanan hotel aman ada yang ga enak," ucap hany asal ceplos.


"Makan yang banyak. Setelah ini kita mau olah raga seharian sampai benar -benar bisa gol," ucap Hanafi dengan wajah serius.


"Iya olah raga," jawab Hanafi menyuapkan satu sendok nasi goreng kambing ke dalam mulutnya.


"Di hotel ini ada gym? Boleh juga. Na belum pernah coba sih," ucap Hany tertawa sungkan. Ia menghabiskan potongan terakhir kroket ayam dan kini mulai mengingit pie buah yang manis.


"Itu gymnya," jawab Hanafi singkt sambil menunjuk ke arah tempat tidur dengan dagunya.


Hany menatap Hanafi dan menatap ke arah yang di tunjuk Hanafi.


"Kasur? Buat matras?" tanya Hany pelan. Ia meletakkan piring kecilnya dan menyudahi sarapannya. Hatinya mulai terasa tak enak. Ada bau -bau drama setelah ini.


"Kok sudah? Katanya lapar? Kamu baru makan satu setengah cemilan saja," ucap Hanafi pelan sambil mengeruk habis nasi goreng kambing ke dalam sendoknya.


"Pak Ustad gak lagi bercanda kan? Itu kasur? Bukan tempat untuk olah raga," ucap Hany pelan.

__ADS_1


"Memang kalau kasur tidak bisa di pakasi oleh raga. Cardio juga bisa di lakukan di kasur kan? Bisa di lakukan berpasangan juga," ucap Hanafi pelan.


Kini, Hanafi mengambil puding buah dengan caramel yang manis.


"Na ... Mau ke kamar mandi dulu ya?" ucap hany pelan.


Ia begergas ke kamar mandi walaupun kakinya masih terasa sakit.


Di dalam kamar mandi, Hany hanya duduk di kloset sambil mencari cara lain.


"Sial ... Bibir gw udah gak perawan lagi nih. Tapi ... ternyata ciuman itu enak juga. Pantes, anak ABG banyak yang doyan," cicit Hany lirih.


"Argh ... Apaan sih. Malah berpikir yang enggak -enggak. Gimana gak enak, itu kan did lakukan karena nafsu, makanya enak, kecanduan, dan terus ingin mengulang," bisik Hany pada dirinya sendiri.


Pikitan Hany mulai kacau. Ia bingung harus bagaimana. Setidaknya hari ini ia bisa terbebas.


"Huft ... Kenapa kemarin gak bawa softex ya? Apa pura -pura minta tolong pak Ustad aja ya?" pikir Hany mulai rusak dan mencari alasan.


Hany pun membuka pintu kamar mandi dan berteriak keras.


"Pak ... Pak Ustad ... Tolongin Na, Pak," ucap Hany keras.


HAanafi pun berlari dan menghampiri Hany.


"Kenapa? kakimu sakit lagi?" tanya Hanfi dengan serius.


Hany menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Pak ... Belikan Na pembalut. Na lagi datang bulan. Tadi pas buang air kecil ada darah. Sekalian pakaian dalamnya ya," titah Hany pelan.


"Ohh iya. Sebentar ya, Sayang," ucap Hanafi pelan lalu bergegas meminta OB membelikan untuk istrinya melalui telepon.

__ADS_1


__ADS_2