CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
IJIN DARI KAKEK BRAM


__ADS_3

Sore ini Indra sudah datang menjemput Hany untuk mengajak gadis kesayangannya itu untuk latihan bebas di jalan baru.


Sepertinya yang sudah dijanjikan dan disepakati kemarin dengan Hany untuk mengikuti acara balapan liar malam ini. Acara ini adalah untuk Indra, namun sesuai dengan nazarnya untuk tidak mengikuti acara balapan liar seperti ini lagi. Hany mengusulkan dirinya untuk menggantikan posisi Indra sebagai joki dengan motor balap milik Indra yang terkenal dengan motor camel.


Indra masuk ke dalam halaman rumah Hany dengan motor camel miliknya. Motor itu sudah siap untuk turun ke jalan dan beradu dengan motor lainnya yang lebih memiliki kekuatan yang mumpuni, namun motor camel ini membawa hoki dan keberuntungannya sendiri. Joki yang membawa motor ini, namanya akan selalu dikenal dan dipuji.


"Assalamu'alaikum, Nenek Inggit, Sakinah ada?" tanya Indra dengan suara pelan menyapa dan memberi salam.


"Waalaikumsalam, Indra, sudah datang saja, mau kemana?" tanya Nenek Inggit menjawab salam Indra dan bertanya mau kemana mereka pergi.


Indra tampak terdiam berpikir karena kalau menjawab pertanyaan Nenek Inggit dan Kakek Bram itu harus jelas dengan alasan yang tepat tidak berbelit dan cara menjawabnya harus tegas tida gelagapan seperti orang sedang berbohong.


"Mau jalan-jalan Nek, biasa anak muda, malem mingguan," ucap Indra dengan pelan menjawab.


Nenek Inggit menatap kedua mata Indra dengan lekat dan tajam.


"Kamu lupa atau pura-pura lupa? Kalau Sakinah itu sudah akan menikah, dan sudah bertunangan," ucap Nenek Inggit dengan suara keras mengingatkan.


Indra hanya terdiam dan menundukkan kepalanya pelan. Ternyata ucapannya salah, Indra salah mencari jawaban, bukan karena lupa tentang status Sakinah saat ini tapi memang karena Indra tidak peduli dengan status itu dan akan tetap menjaga Sakinah dengan sangat baik.


"Maaf Nek Inggit, Indra cuma ingin mengajak Sakinah makan sore aja, cari cemilan yang disukai Sakinah, bukankah Sakinah sakit?" tanya Indra pelan kepada Nenek Inggit untuk mencari alasan.


"Nah itu karena Sakinah sakit dan sedang tidak baik-baik saja, jangan kamu bawa jalan walaupun hanya sekedar untuk makan. Sakinah sedang dipingit karena satu minggu lagi Sakinah akan menikah dan tugas Nenek Inggit untuk menjaga cucu kesayangannya Nenek dengan baik," ucap Nenek Inggit pelan menjelaskan.


"Yah Nenek, kan cuma sebentar aja, gak lama sebelum maghrib sudah pulang kok," ucap Indra pelan masih saja meminta ijin untuk membawa Hany pergi untuk latihan bebas dijalan raya.


Nenek Inggit menatap Indra tajam.


"Kamu yakin hanya dibawa untuk makan bukan untuk trek trekan," ucap Nenek Inggit menginterogasi Indra.


Nenek Inggit sudah hapal dengan kelakuan Indra dan cucu kesayangannya itu yang sama-sama suka dengan hal-hal yang berbau dengan otomotif atau motor besar. Mereka memiliki hobi dan minta yang sama.

__ADS_1


Pernah suatu hari, Hany diajak naik motor besar oleh Indra. Waktu itu usia mereka berdua baru akan masuk lanjutan pertama. Hany membonceng Indra yang baru saja bisa mengendarai motor besar milik Ayahnya dan kecelakaan tunggal itu tidak terhindarkan. Indra salah mengoper kopling harusnya menambah gigi agar kecepatannya bisa bertambah, namun ini malah mengopernya dengan mengurangi, akhirnya motor itu tersendat dan tidak seimbang lalu terjatuh dalam selokan.


Lucu memang kisah persahabatan kedua anak manusia berlainan jenis itu. Mereka berdua memang sangat kompak sejak kecil. Tumbuh bersama sejak kecil hingga dewasa dengan tempat yang berbeda namun tetap masih bisa saling berinteraksi baik.


"Nenek, kita berdua sudah dewasa, dan sudah lebih baik menyikapi suatu masalah bukan seperti anak-anak," ucap Indra pelan membela diri.


"Bukan itu maksud Nenek, Indra. Kamu sanggup menjaga Sakinah dan memulangkan Sakinah dalam kondisi baik-baik saja," ucap Nenek Inggit pelan kepada Indra.


Kakek Bram keluar dari arah dalam rumah menuju teras dengan membawa segelas kopi hitam manis. Kacamatanya diturunkan sedikit lalu menatap ke arah Indra dengan lekat.


"Sakinah diatas, sejak pagi belum juga turun, entah sedang apa cucu kesayanganku itu," ucap Kakek Bram pelan dengan menitah Indra untuk menghampiri Sakinah di kamarnya.


Indra bernapas lega, rasanya seperti mendapat angin segar dan nampaknya Dewi Fortuna sedang berpihak kepadanya. Jujur saja, jarang sekali Kakek Bram memberikan waktu yang mudah untuk Indra bisa bertemu Sakinah, apalagi saat ini, posisinya Sakinah sedang di pingit.


Indra santai dengan kepergiannya setelah ini, biar Hany yang mencari alasannya. Saat ini yang terpenting adalah bisa menemui Hany di dalam kamar tidurnya.


"Indra ke atas dulu ya Kek, Nek? Assalamu'alaikum," ucap Indra dengan suara keras dan langsung berlari ke dalam naik ke atas menuju kamar Hany.


"Waalaikumsalam," jawab Kakaek Bram pelan.


Pintu kamar Hany masih tertutup rapat, belum ada tanda-tanda kehidupan dari dalam kamar itu. Indra mengetuk pintu itu dengan pelan lalu mengucap salam. Beberapa kali Indra mengetuk pintu kamar itu, namun tidak ada satu pun jawaban dari dalam kamar Hany.


Indra mencoba membuka kamar itu dengan menurunkan handle pintu dan ternyata tidak dikunci. Pintu kamar itu terbuka lebar, Indra masuk ke dalam kamar itu dan menatap Hany yang masih tertidur pulas dengan masih memegang ponsel dalam genggamannya.


Indra berjalan menuju ranjang tidur itu dan duduk di tepi ranjang itu, menatap wajah cantik Hany yang masih terjaga dalam tidurnya tanpa terganggu sedikitpun.


Wajah cantik yang alami dan terlihat sangat polos. Hany sebenarnya gadis baik yang ramah dan lemah lembut. Jika tidak dijahati, maka Hany juga tidak akan berbuat semena-mena terhadap orang lain.


Hany membuka kedua matanya perlahan, merasakan ada sesuatu yang menganggu tidur lelapnya lalu menatap Indra yang sudah berada di depannya.


Hany terbangun dari tidurnya dan menarik selimut tebal itu hingga menutup bagian perutnya.

__ADS_1


Indra hanya tersenyum lebar, dirinya sangat hapal sekali Hany itu gadis yang sangat menjaga kehormatannya walaupun masih sering menggunakan pakaian yang membuka aurat dan membuat para kaum adam berdecak kagum akan kemolekan tubuhnya.


"Sejak kapan Kang Indra ada disini?" tanya Hany dengan suara pelan dan lirih.


"Baru saja, baru mau membangunkan kamu, malah sudah terbangun duluan," ucap Indra pelan sambil menatap Hany yang masih belum sadar karena nyawanya belum terkumpul sempurna.


Hany menarik napas dalam dan menghembuskan napas itu dengan kasar.


"Jam berapa sekarang Kang Indra?" tanya Hany pelan sambil mengucek kedua matanya.


"Jam dua siang. Jadi latihan gak?" tanya Indra dengan suara pelan.


"Jadi dong Kang Indra, Na ganti baju dulu ya," ucap Sakinah dengan suara pelan.


Hany lupa jika kakinya itu masih sakit, hanya saja rasa nyeri di kakinya sudah agak berkurang. Hany langsung beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju lemari pakaian.


"Aww ..." teriak Hany dengan suara keras sambil memegang pergelangan kakinya yang kembali sakit.


Indra langsung berdiri dan menolong Sakinah yang susah berjongkok memijat pelan kakinya itu.


"Kalau masih sakit, sudahlah Na, kita batalkan saja," ucap Indra dengan suara pelan.


"Jangan Kang Indra, Na pasti bisa dan kuat, cuma nyeri begini ajabgaknlerlu dipikirkan," ucap Hany pelan menjelaskan.


Padahal rasa sakitnya itu luar biasa seperti sedang berlari kencang dan keplitek.


"Na, ganti baju dulu ya," ucap Hany pelan.


Hany sudah siap dengan celana pendek yang bikin gemes dan kaos oblong yang pas pada tubuhnya. Rambutnya diikat ekor kuda, lalu memakai jaket kulit dan sepatu bot kesayangannya.


Hany sudah siap untuk menjajal motor camel milik Indra. Motor yang katanya sudah mencetak beberapa joki handal termasuk Indra.

__ADS_1


__ADS_2