CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
KAU MENUNGGUKU?


__ADS_3

Makanan yang ada di depannya saat ini nampak sangat asing sekali. Wanginya memang enak tapi Hany ingat kata -kata Mbok Yum kalau makanan ter -bau itu adalah jengkol.


"Mas ... Bukannya ini bau ya?" tanya Hany setengah berbisik.


"Hemm ... Itu kata orang. Karena jengkol buatan Umi itu tidak akan bau. Bisa di buktukan," ucap Hanafi berbisik juga.


"Ada apa? Gak enak masakan Umi? Na suka makanan apa? Biar Umi siapkan untuk sarapan besok," ucap Umi Afi mencoba membuat Hany tetap dekat dengannya.


"Gak Umi. Masakan Umi enak. Cuma memang Na, yang masih suka pilih - pilih makanan. Maafin Na, ya, Umi," ucap Hany pelan.


"Butuh waktu aja untuk menyesuaikan diri. Umi berharap kamu betah di sini dan bisa menyesuaikan dengan keadaan di rumah ini. Kamu bebas melakukan apa saja yang penting kamu suka dan yang kamu lakukan itu baik," ucap Umi Afi menasehati.


"Makasih Umi. Bantu Na, biar bisa jadi istri yang baik buat Pak Ustad," ucap Hany polos.


"Kok manggilnya masih Pak Ustad?" tanya Umi pelan. Aby dan Dul langsung menatap Hany yang terlihat memerah di wajahnya. Rasanya malu sekali ketahuan memanggil dengan sebutan Pak Ustad sedangkan mereka sudah SAH menjadi suami istri. Setidaknya Hany menghargai Hanafi.

__ADS_1


"Ekhmmm ... Maksudnya, Byby Afi. Ya kan sayang? Na, manggilnya Byby Afi?" ucap Hany pelan. Malu sekali rasanya. Hanafi hanya mengulum senyum. Baginya semua tak masalah.


"Iya Sayang," jawab Hanafi lembut.


Suasana makan malam kembali hening dan semuanya sibuk dengan makan malamnya masing -masing.


Selesai makan malam, Hanafi berbisik, "Bantu Umi bawa piring kotor ke belakang."


Memang tidak di haruskan tapi setidaknya membantu mertua itu adalah adab yang baik, walaupun sudah memiliki pembantu atau asisten di rumahnya.


Hany menumpuk semua piring kotor dan membawanya ke dapur lalu meletakkan di wastafel tempat mencuci piring. Twrnyata di dapur ada dua asisten yang membantu Umi Afi.


"Letakkan di sana Na. Kalau mau buat susu, buatlah," ucap Umi Afi pelan.


"Ya Umi," jawab Hany pelan.

__ADS_1


Hany langsung kembali ke kamarnya. Ia naik ke lantai atas dan masuk ke dalam kamarnya. Ia berjalan menuju belakang kamar dan membuka hordeng serta pintu kaca. Di sana ada tangga juga yang menghubungkan ke arah pondok pesantren. Sepertinya agar memudahkan sampai ke pondok pesantren tanpa memutari jalan.


Benar saja, dari kejauhan Hanafi berjalan bersama Aby dan Dul. Sepertinya habis dari salah satu kobong ubtuk pengecekkan.


Senyum Hanafi terbit saat menaiki tangga ulir yang terbuat dari besi dan menatap Hany yang juga menatap Hanafi.


"Kamu sengaja menungguku?" tanya Hanafi penuh percaya diri.


Dengan santainya Hany menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak. Na hanya sedang mencari angin. Dan penasaran dengan pemandangan dari belakang," jawab Na dengan jujur.


"Oh ...." jawab Hanafi dengan wajah cemberut. Ia kira Hany sengaja menunggunya karena merasa kehilangan tapi ternyata sama sekali tidak.


Hanafi pun masuk begitu saja ke dalam kamar dan mencuci kakinya lalu merebahkan tubuhnya di kasur. Hany hanya melirik sekilas dan tetap menatap bintang yang indah betada di langit yang begitu jauh di gapai.

__ADS_1


__ADS_2