CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
LAGU VIRAL


__ADS_3

Tok ... Tok ...


"Na ... Ini pesanan kamu," ucap Hanafi pelan dari arah luar.


Hanafi memberikan satu kantong plastik hitam kepada Hany saat Hany membuka pintu kamar mandi.


Dengan cepat Hany menyambar kantong plastik itu. Di dalam kamar mandi Hany pun melancarkan aksinya. Ia langsung menempelkan pembalut ke pakaian dalamnya dan di pakai begitu saja.


Hany harus selalu cari alasan agar tidak terjadi hal - hal yang di inginkan. Ia keluar dengan langkah gontai. Raut wajahnya sengaja di perlihatkan murung agar Hanafi merasa iba padanya.


Hany merangkak naik ke atas kasur dan duduk bersandar di sandaran ranjang sambil berpura -pura memegang perutnya.


"Sakit banget? Perlu obat?" tanya Hanafi yang terlihat cemas. tangannya ragu ingin memegang perut Hany.


Hany hanya mengangguk kecil dengan wajah yang di sedih -sedihkan.'Untung saja, aku pernah ikut teater di sekolah setidaknya, aku bisa memerankan peran sedih dengan baik dan bisa di percaya oleh Hanafi,' batin Hany di dalam hantinya.


"Aku keluar dulu. Cari obat dulu, biar sakitnya hilang," ucap Hanafi dengan cepat.


Hanafi langsung mengganti baju dan pergi begitu saja keluar kamar untuk mencari obat.

__ADS_1


Pintu kamar sudah di tutup oleh Hanafi dengan rapat. Senyum nakal Hany pun langsung terbit dan Hany pun berdiri langsung loncat -loncat di atas kasur empuk itu.


Dengan suara serak -serak basah, Hany pun bernyanyi dengan suara keras dan membuat syair sendiri dengan nada lagu yang sedang viral 'JOKO TINGKIR'


Ceklek ...


"Na? Katanya sakit perut? Kok bisa teriak -teriak?" tanya Hanafi yang bingung dan takjub menatap Hany.


Hany pun menghentikan gerakan viralnya dan terduduk kembali di atas kasur.


"Ekhem ... Harus di buat bergerak biar gak sakit perutnya karena lama -lama hilang dan gak keram lagi," jawab Hany pelan terbata.


"Iya begitu. Tuh kalau di buat duduk langsung sakit lagi, melilit banget," cicit Hany dengan ekspresi wajah yang di buta terasa sakit sekali.


"Ekhem ... Sakit ya. Sini mau di usap? Katanya kalau di usap bisa sembuh, mau coba?" tanya Hanafi sengaja meneggoda Hany.


"Hah? Gak usah. Gak perlu. Nanti juga pasti hilang sendiri rasa sakitnya," ucap Hany pelan.


Hany pun beringsut turun dan ingin melanjutkansarapan paginya yang masih banyak pilihan menu makanan di meja.

__ADS_1


"Kamu mau kemana?" tanya Hanafi bingung.


"Makan lagi. Kalau lagi datang bulan gini. Maunya makan terus, jadi jangan heran kalau Na tiba -tiba gendut musiman, karena hormon," ucap Hany pelan menjelaskan.


"Oh ... Gendut karena hormon? Bisa begitu ya? Baru tahu juga," ucap Hanafi pura -pura.


Hany sudah duduk di sofa lagi dan mulai menikmati beberapa makanan yang masih ada di meja.


Hany mengambilsatu piring omlete di tambah rolade dan tempura goreng.


kali ini cara makan Hany terlihat sangat rakus sekali. Kalau tadi makan terlihat alim dan elegan, kalau sekarang lebih terlihat kepada sifat bar -barnya.


Hanafi hanya menatap Hany dari kasur. Ia juga sedang mencari cara menjebak Hany yang sedang berbohong.


Lucu juga menikah dengan gadis yang sifatnya sedikit bar -bar.


"Besok kita sudah tinggal di pesantren. Semu barang kamu sudah ada di kamar saya," ucap Hanafi tegas.


"iya," jawab Hany singkat seolah tak peduli. Bagi Hany hari ini ya hari ini, tak peduli esok gimana. Besok urusan besok kalau memang harus cari alasan ya, akan di cari solusinya esok hari.

__ADS_1


__ADS_2