CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
SIAP ATAU TIDAK SIAP


__ADS_3

Ustad Hanafi sudah sampai di parkiran kantor Polisi, segera turun dari mobil sport mewahnya dan berlari ke dalam kantor Polisi itu.


Ada beberapa polisi yang berjaga disana, Ustad Hanafi pun menanyakan keberadaan Hany Sakinah, joki motor balapan liar yang terjaring malam ini.


Saat ini, waktu sudah menunjukkan pukul satu malam dini hari. Ustad Hanafi berjalan menyusuri lorong kantor polisi itu mencari satu ruang khusus untuk sosialisasi.


Satu per satu nama ruangan itu dibaca dengan benar, dan akhirnya ditemukan juga satu ruangan bernama Ruang Sosialisasi.


Ustad Hanafi mengetuk pintu ruangan itu dengan pelan, sambil mengucap salam. Handel pintu itu di buka karena ada sahutan dari arah dalam untuk masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ustad Hanafi sudah masuk ke dalam ruangan itu, dan mengedarkan pandangannya menatap satu per satu orang yang ada di dalam ruangan itu, namun tidak satu pun yang Ustad Hanafi kenal. Sosok gadis unik yang akan menjadi istri kecilnya itu juga tidak tampak di sekumpulan orang yang duduk manis di ruangan sosialisasi itu sambil mendengarkan ceramah dan nasihat dari salah satu polisi yang bertugas untuk menggembleng anak-anak yang terjaring razia sebagai penonton atau tim hore motor balapan liar.


"Siapa yang kamu cari, anak muda?" tanya satu Polisi tua yang sudah mulai beruban.


"Seorang gadis yang terjaring razia balapan liar motor di jalan xx, gadis itu sebagai joki motor," jwab Ustad Hanafi dengan suara pelan kepada Polisi tua yang sudah beruban itu.


"Owh, gadis si celana gemes itu?" tanya Polisi tua beruban itu sambil tertawa terbahak-bahak.


Ustad Hanafi menatap lekat kedua mata polisi itu dengan perasaan kesal karena memanggil calon istrinya dengan sebutan gadis si celana gemes.


"Jangan tertawa Pak, gadis itu adalah istri saya, dimana gadis itu berada?" tanya Ustad Hanafi pelan kepada Polisi tua yang sudah beruban itu.


Polisi tua yang sudah beruban tersentak kaget diawal namun tersenyum tipis seolah mengabaikan penjelasan Ustad Hanafi.


"Sudahlah anak muda, mana mungkin gadis cantik itu istrimu, lihat gayanya berpakaian dan kelakuannya hingga terjaring razia, itu sudah menunjukkan bukti bahwa gadis itu bukan gadis baik-baik. Tapi lihatlah dirimu anak muda, kamu sopan, baik dalam tutur kata, pakaianmu pun memperlihatkan kalau kamu berasal dari keluarga baik-baik," ucap Pak Polisi tua yang sudah beruban itu menjelaskan.


"Maaf, saya sedang tidak ingin berdebat, lebih baik Bapak beritahu saya, dimana gadis itu berada?" ucap Ustad Hanafi dengan tegas kepada Pak Polisi tua yang beruban.


"Baiklah, gadis itu ada di ruang isolasi, ada di ujung lorong ini bersama ketiga joki lainnya," ucap Polisi tua yang sudah beruban.


Ustad Hanafi mengangguk pelan dan tersenyum lebar.


"Terima kasih Pak Polisi, saya permisi dulu," ucap Ustad Hanafi pelan lalu memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Jagain istrinya agar tidak memakai celana gemes lagi, bikin yang lain harus menanggung dosa saja," ucap Polisi tua beruban itu.


Ustad Hanafi membuka handel pintu untuk segera keluar dari ruangan itu dan menoleh ke arah Polisi tua beruban karena mendengar ucapan unfaedahnya.


"Termasuk Anda Pak Polisi? Jaga pandangan Anda juga biar tidak terjerumus ke dalam dosa, satu lagi nasihat untukmu Pak Polisi. Jangan memandang kepribadian seseorang dari cara berpakaiannya dan bagaimana solusi seseorang itu bersikap dan bertindak, tapi lihat dari hatinya dan malamnya," ucap Ustad Hanafi pelan lalu keluar dari ruang sosialisasi itu.


Ustad Hanafi langsung berjalan dengan cepat menuju ujung lorong untuk mencari ruang isolasi tempat Hany Sakinah berada.


Ruangan Isolasi itu sangat tertutup, Ustad Hanafi mengetuk pintu ruang itu dengan pelan dan mengucap salam.


Pintu ruangan itu sudah terbuka lebar, karena dibuka dari dalam. Seorang Polisi berpangkat perwira sudah menyembulkan wajahnya dan melihat ke arah austad Hanafi yang ada di depan pintu.


"Siapa Anda? Ada keperluan apa?" tanya Polisi berpangkat perwira itu.


"Assalamu'alaikum, saya Hanafi, calon suami Hany Sakinah," ucap Ustad Hanafi dengan suara tegas dan lantang memperkenalkan diri kepada Polisi berpangkat perwira itu.


"Waalaikumsalam, ohh, silahkan masuk, gadis itu ada di dalam," jawab Polisi berpangkat perwira itu pelan dan mempersilahkan Ustad Hanafi masuk ke dalam ruangan itu.


Pandangan Ustad Hanafi langsung tertuju pada sosok cantik yang tertunduk dengan lesu. Cara berpakaian Hany Sakinah, calon istrinya itu memang tidak baik, auratnya sangat terbuka dan banyak pasang mata kaum adam yang senang melihat itu sehingga terjerumus ke dalam dosa.


Ustad Hanafi berjalan ke arah kursi pesakitan yang terbuat dari besi itu dan menghampiri gadis unik itu lalu duduk disamping Hany.

__ADS_1


Sambil melepaskan jaket besar yang dipakainya untuk menutupi sebagian anggota bagian tubuh Hany yang terbuka dan terlihat polos.


"Assalamu'alaikum, Na, pakai ini untuk menutupi itu," ucap Ustad Hanafi pelan sambil memberikan jaket itu kepada Hany dengan menunjuk ke arah anggota tubuh Hany Sakinah yang terbuka itu.


Hany menatap ke arah Ustad Hanafi, kedua matanya sudah memerah dan sembab, rasanya ingin menangis.


"Waalaikumsalam, Mas Afi?" jawab Hany dengan suara pelan.


Hany langsung menerima jaket itu dan memeluk Ustad Hanafi secara spontanitas.


Ustad Hanafi hanya terdiam dan tidak membalas pelukan itu sama sekali. Walaupun mereka sudah lamaran dan bertunangan tapi pelukan itu tidak boleh terjadi, karena bisa mengundang syahwat yang tidak baik.


"Kita berdua belum halal, nanti kalau sudah halal, kita bisa melakukan lebih dari ini," ucap Ustad Hanafi sangat pelan tepat di telinga Hany, suaranya terdengar setengah berbisik.


Hany yang mendengar ucapan itu langsung melepas pelukannya itu dan kembali duduk dan menutupi bagian kakinya dengan jaket besar milik Ustad Hanafi.


Hany menatap sendu ke arah Ustad Hanafi dan begitu pun sebaliknya.


"Maafkan, Na, Mas Afi, Na kelepasan karena senang Mas Afi bisa datang untuk menjemput Na," ucap Hany pelan kepada Ustad Hanafi.


Ustad Hanafi tersenyum manis.


"Dimaafkan Na, lain kali jangan pernah kamu ulangi lagi, hal seperti ini," ucap Ustad Hanafi pelan kepada Hany.


Polisi berpangkat perwira itu hanya tersenyum melihat keduanya.


"Dijaga dengan baik calon istrinya. Razia ini sebenarnya untuk mencari orang-orang yang ikut dalam perdagangan obat-obatan terlarang, tapi Alhamdulillah tidak ada yang positif pemakai," ucap Polisi berpangkat perwira itu dengan suara pelan menjelaskan.


Ustad Hanafi tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya pelan.


Reno dan kedua teman joki lainnya hanya menatap ke arah Hany dan Ustad Hanafi secara bergantian. Ada rasa tidak percaya dan ragu dengan pernyataan Ustad Hanafi, namun ucapanya terlihat tegas dan lantang.


"Sama-sama Pak Ustad," ucap Polisi perwira itu sambil tersenyum lebar.


Polisi perwira itu sejak tadi mengingat lelaki yang ada di depannya ini seperti tidak asing dengan pakaina casualnya. Setelah diingat-ingat, lelaki itu adalah Ustad Ridwan Hanafi yang menjadi mentor untuk anaknya di kampus. Selain itu, gaya berpakaian Ustad Hanafi yang berbeda membuat ragu Pikisis berpangkat perwira itu untuk menyapa terlebih dahulu.


"Anda kenal saya?" tanya Ustad Hanafi pelan sambil tersenyum.


"Anda, Ustad Ridwan Hanafi, bukan? Dosen Pembimbing di Kampus A," ucap Polisi perwira itu pelan sambil tersenyum lebar.


"Iya, betul sekali," jawab Ustad Hanafi pelan.


"Anak saya kuliah disana. Ini calon istri Anda? Anda tidak salah memilih kan?" tanya Polisi perwira itu pelan sedikit takjub dengan pilihan Ustad Hanafi.


"Oh, Iya, baiklah, kalau sudah tidak ada yang harus dijelaskan. Boleh saya membawa calon istri saya pulang?" tanya Ustad Hanafi dengan suara pelan bertanya kepada Polisi perwira itu.


"Oh, ya silahkan saja Ustad Ridwan," jawab Polisi perwira itu.


Hany dan Ustad Hanafi berpamitan dan keluar dari ruangan itu menuju parkiran mobilnya.


Hany berjalan disamping Ustad Hanafi dengan kepala menunduk. Banyak pasang mata melihat ke arah mereka berdua.


Keduanya hanya terdiam dan membisu tidak ada pembicaraan sedikitpun.


"Mas Afi, Makasih sudah bantu Na," ucap Hany pelan dan lirih.

__ADS_1


"Terus?" ucap Ustad Hanafi dengan pelan.


"Terus? Ya, Makasih sudah mau datang kesini untuk mengeluarkan Na dari sini," ucap Hany pelan.


"Lalu? Ada penyesalan tidak? Mau berubah tidak?" tanya Ustad Hanafi dengan suara pelan.


Hany hanya mengangguk pelan.


"Menyesal sekali," jawab Hany singkat.


"Masih mau diulangi lagi?" tanya Ustad Hanafi pelan.


Hany menggelengkan kepalanya pelan.


"Tidak Mas Afi," ucap Hany pelan


"Kamu yakin? Janji?" tanya Ustad Hanafi dengan suara pelan.


Hany menganggukkan kepalanya pelan dan menatap Ustad Hanafi dari arah samping.


"Sudah puas belum menatap Mas?" ucap Ustad Hanafi mengulum senyum.


Hany mendengar ucapan Ustad Hanafi hanya memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Percaya diri sekali, Anda, Mas Afi," ucap Hany pelan.


Ustad Hanafi hanya terkekeh pelan mendengar ucapan Hany.


"Jangan lupa sama janjinya," ucap Ustad Hanafi pelan.


"Janji apa?" tanya Hany pelan sambil menatap tajam ke arah Ustad Hanafi.


"Lupa? Atau pura-pura lupa?" tanya Ustad Hanafi pelan.


Hany menggelengkan kepalanya pelan.


"Lupa! Apa itu, Mas?" tanya Hany pelan.


"Kamu sudah melanggar janji untuk tidak keluar rumah selama satu minggu ini. Jadi besok, Kuta harus menikah, mau tidak mau, suka tidak suka," ucap Ustad Hanafi dengan tegas.


Hany mendengar ucapan itu langsung terbatuk-batuk kencang. Hany sangat kaget dan bahkan tidak percaya dengan ucapan Ustad Hanafi itu. Satu minggu yang akan datang saja, Hany tidak siap, bagaimana harus menikah besok?


"Na, belum siap," ucap Hany dengan suara lirih.


Ustad Hanafi hanya terdiam dan tersenyum di dalam hatinya.


"Itu bukan urusan Mas, mau siap atau tidak siap," ucap Ustad Hanafi pelan dan tegas.


"Ya, tidak bisa seperti itu dong Mas? Masa harus dipaksa sih?" ucap Hany pelan.


"Lho memang pernikahan kita ini dijodohkan, jadi ada paksaan disana. Bukankah Na juga bilang tidak suka dengan Mas?" ucap Ustad Hanafi pelan sambil menatap ke arah Hany.


Hany hanya terdiam kaku dengan semua ucapan Ustad Hanafi.


Perasaan seseorang bisa berubah setiap detik, apalagi jika perasaan itu didasari oleh kelembutan, maka semuanya akan berubah.

__ADS_1


Seperti istilah orang jawa, Witing Tresno Jalaran Soko Kulino. Perasaan cinta dan sayang itu bisa tumbuh karena kebiasaan, karena kebersamaan, karena kebaikan, karena kelembutannya. Ada banyak hal yang bisa membuat seseorang berubah menjadi mencintai kita.


__ADS_2