CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
48


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang ke rumah Kakek Bram memang tidak lama lagi. Paling juga tidak sampai sepuluh menit.


Jujur, pikiran Hany kacau dan degup jantungnya kembali ikut berolah raga. Ia tahu persis bagaimana Kakeknya itu akan marah besar padanya.


Seperti tahu akan kegelisahan Hany. Hanafi hanya mengulum senyum saja.


"Kamu cemas?" tanya Hanafi pelan.


"Cemas? Gak lah. Buat apa cemas?" ucap Hany yang berpura -pura tenang.


"Oh ... Ya sudah," jawab Hanafi pelan.


Mobil Hanafi sudah masuk ke dalam halaman rumah besar Kakek Bram. Dari luar semua tampak tenang seperti tidk terjadi apa -apa


"Kok diem? Ayok turun, Na," titah Hanafi pelan. Ia sudah mematikan mesin mobilnya dan membuka kunci mobil dan membuka pintu untuk segera turun.


Hany hanya membuka sabuk pengaman dan tetap diam di tempatnya. Ia tidak berani keluar dari mobil itu. Tentu ia akan di marahi oleh Kakek Bram tanpa ada rasa ampun lagi.


"Hei ... Kenapa? Ayok turun," titah Hanafi kembali.


"Na takut Mas. Kakek pasti marah besar pada Na," ucap Hany lirih.


"Takut? Main balapan aja gak takut? Kenapa pulang ke rumah malah taku?" tanya Hanafi pelan.

__ADS_1


Ia sengaja menyempilkan nasihat atau kebaikan tanpa Hany sadari.


Hany menoleh ke arah Hanafi yang juga sedang menatapnya lekat.


"Mas Afi lagi nyindir Na?" tanya Hany dengan tatapan tajam.


Hanafi langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Gak ada menyindir. Bukan kah yang Mas ucap itu adalah sebuah fakat?" tanya Hanafi membela diri.


"Iya. Memang fakta, tapi nyelekit. Nih ... Sakitnya tuh di sini," ucap Hany dengan menunjukkan bagian dadanya dengan telapak tangannya.


"Maksud mas itu ... Buat apa takut dengan Kakek Bram. Kalau Kakek Bram marah itu adalah hal yang wajar, akrena kamu bersalah, tlah melanggar kesepakatan. Intinya kamu harus terima konsekuensinya dengan ikhlas tentunya," ucap hanafi pelan menjelaskan.


"Emmm ... Sebagai calon suami gak ada gitu perasaan ingin menolong atau membantu calon istrinya?" tanya Hany mencari kesempatan.


Hany hanya diam. Setiap pembelaannya selalu ada tangkisan tepat dan benar dari Hanafi. Hany mencoba menarik napas dalam dan menghembuskan dengan pelan.


"Apa sekarang tidak ada cara untuk menolong Na?" tanya Hany lirih.


Hanafi berpura -pura berpikir dan menyandarkan tubuhnya di sandaran jok mobilnya. satu tangannya memegang dagunya sendiri.


"Ada gak?" tanya Hany semakin cemas.

__ADS_1


Hanafi mengangguk pelan.


"Ada." jawab Hanafi singkat.


"Apa? Coba sebutkan," ucap Hany cepat semakin penasaran.


Ia tidak punya waktu lagi. Kalau keberadaannya saat ini di ketahui oleh kakek Bram bahwa ia sudah ada di rumah. Tentu teriakan nyaring dari dalam rumah bisa terdengar jelas sampai ke telinga Hany di dalam mobil saat ini.


"Kok Mas gak yakin kamu mau mengikuti saran Mas," ucap Hanafi semakin membuat Hany penasaran.


"Apa sih? Udah bilang aja, Mas. Pasti Na ikutin," cicitnya pelan dan pasrah.


Hany pikir jalan keluarnya itu apa. Ternyata semua itu di luar dugaan hany.


"Yakin? Kamu pasti mau?" tanya Hanafi pelan dan memastikan jawaban Hany.


Hany tegas menganggukkan kepalanya.


"Yakin dong. Kenapa harus gak yakin. Iya kan" ucap Hany berusah menenangkan hatinya.


"Oke." jawab Hanafi singkat.


"Iya apa? jangan cuma oke - oke saja. Saran untuk Hany itu apa?" tanya Hany penasaran da mulai kesal karena merasa di permainkan oleh Hanafi.

__ADS_1


"Kita menikah besok," ucap Hanafi tegas.


Hany menoelh ke arah Hanafi dan melongo tak percya dengan saran yang sama sekali tak pernah ada dalam pikiran Hany.


__ADS_2