
Pesanan sarapan pagi Hanafi sudah datang semua di kamar hotelnya. Meja yang ada di depan TV sudah penuh dengan menu yang di pesannya. Sedangkan Hany masih berada di bawah selimutnya dan malu untuk ikut nimbrung turun dan ikut duduk untuk sarapan pagi.
"Sial ... Mana perut udah laper, wangi makanannya menggoda lagi," ucap Hany di bawah selimut.
Perutnya sejak tadi meronta untuk di isi makanan tapi belum juga terealisasi. Karena sejak malam Arsy belum makan lagi kecuali saat acara resepsi pernikahannya. Itu juga Mama Amalia yang berinisiatif mengambilaknnya.
Hanafi melihat ke ara tempat tidur. Ia terkeke di dalam hatinya. Ia tahu Hany tidak tidur, jelas terlihat dari selimut tebal yang kembang kempis dengan cepat. Itu menunjukkan Hany sedang terjaga.
"Kalau mau makan kesini, gak usah menggerutu di bawah selimut," ucap Hanafi pelan.
Hanafi masih fokus menonton film kartun disney kesukaannya. Walaupun bergelar ustad, sifat kekanak -kanakkan dan manjanya juga tetap ada.
Deg ...
Hany menahan napasnya dari dalam selimut. Kedua matanya melotot. Tubuhnya terasa gerah dan mulai berkeringat. Sudah mulai terasa pengab tapi kan tidak mungkin ia turun dari tempat tidur dan berjalan dan duduk manis memeaki baju nelayan ini. Mana sudah ga pake daleman lagi. Bisa -bisa Hany di terjang belum pada waktunya ini.
"Hah ... Gimana ya? Laper banget lagi," cicitnya mulai kesal sendiri.
Ada rasa pro kontra di dalam dirinya. Ada bisikan malaikat yang bicara pelan di telinganya. 'Kamu itu sudah SAH, jadi apa yang harus kamu gengsikan. Bagus juga, kalau kamu membuat Suamimu bergairah padamu, akan menjadi pahala untukmu.'
Tapi, Setan neraka juga ikut datang membisikkan hal -hal yang mebuat Hany juga jadi ketakutan. 'Kamu tahu, kalau kamu ikut makan dan kamu memaki baju itu. Maka habislah kamu di habisi oleh suamimu. Keperawanan kamu hilang dan itu rasany sakit.'
'Jangan dengarkan kata setan. Kamu pilih ibadah dan dapat pahala, atau kamu mau durhaka pada suamimu?' bisik malaikat.
'Kamu seperti wanita malam memakai baju jaring -jaring itu. Suamimu hanya nafsu yang di ke depankan," bisik setan.
__ADS_1
'Itu seragam untuk ibadah. Lebih baik melakukan itu di depan suamimu dari pada di depan laki -laki yang bukan mahramnya,' bisik malaikat itu.
"CUKUP. Diam semua." teriak Hany di bawah selimut sambil membuang malaikat dan setan itu untuk pergi jauh dari pikirannya.
Akal sehatnya harus di jalankan sesuai logika dan realita. Pelan Hany membuka selimutnya. Rasa laparnya membuat gengsi dan harga dirinya harus di turunkan sedikit.
Hanafi sejak tadi melihat pergerakan HAny dan tetap asyik menonton disney tanpa ada gangguan.
Selimut dari tubuh Hany pun di sibakkan. Perlahan kakinya turun dari tempat tidur dan berjalan menuju Hanafi yang fokus pada TV besar di depannya.
Dengan langkah cepat, Hany duduk manis di samping Hanafi dan bicara lembut sekali.
"Na laper Pak Ustad," ucap Hany pelan seklai.
"Eh ... Ada perempuan cantik. Seksi banget sih. Saya juga laper," ucap Hanafi pelan.
"Boleh makan?" tanya hany pelan. Posisinya di sini memang istri. Tapi yang membayar semuanya kan Hanafi. Mahar mobilnya juga sudah ada di dalam garasi pesantren.
Hanafi mengaguk kecil.
"Boleh. Ada syaratnya." jawab Hanafi yang merasa sok di butuhkan sekarang.
"Syarat? Na kan istri Pak Ustad? Mau ikut sarapan harus ada syarat?" tanya Hany jujur.
"Ohh ... Sudah mengakui kalau istri sayaa?" tanay Hanafi lembut sambil sambil menatap lekat Hany yang duduk diam dan membalas tatapan itu.
__ADS_1
"Iya dong.Ini buktinya?" ucap Hany sambil menunjukkan cincin kawinnya. Padahal dengan begitu ia terjebak sendiri dnegan kata -katanya.
"Berarti saya boleh makan juga dong?" tanya Hanafi sambil mengedipkan satu matanya.
"Makan bareng?" tanay Na pelan.
"Iya harus bareng. Masa saya makan sendiri?" tanya Hanafi pelan. Tatapannya makin lekat dan tajam.
"Ahh ... Boleh banget." jawab Hany cepat. Ia tidak tahu oertanyaan itu adalah pertanyaan jebakan.
"Bener? Boleh?" tanya Hanafi mencoba memastikan.
"Iya boleh. Yuk makan," ucap Hany pelan.
Hany melempar pandangannya dan menatap pie buah di depannya. Baru saja tangannya akan menggapai pie buah itu. tangan Hanafi langsung menagkapnya.
"Buaknkah kitamau makan bersama?" tanya Hanafi pelan. Tiba -tiba saja tubuh Hany sudah terdorong dan terlentang di sofa itu dan posisinya Hanafi sudah berada di atasnya.
"Pa -Pak Ustad? Pak Ustad mau apa ada di atas Na?" tanya Hany panik.
Hanafi hanya menatap wajah Hany yang terlihat cemas. Posisi itu membuat Hany tak berkutik lagi berada di bawahnya. tangan Hanafi mengusap lembut pipi Hany.
Lalu, bibirnya mulai mendekat ke arah wajah Hany dan membuat gadis itu memejamkan kedua matanya.
Cup ...
__ADS_1
Hanafi hanya mengecup pipi chubby Hany yang menggemaskan.