CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
KESEDIHAN MAMA AMALIA


__ADS_3

Hanafi langsung menggandeng Hany untuk mundur dan duduk di pelaminan yang sejak tadi hanya di jadikan sebagai pajangan saja.


"Duduklah ... Biar aku pijat kakimu agar sedikit hilang kerm dan sakitnya," ucap Hanafi pelan.


Hany hanya diam dan menurut saja. Ini bukan pertama kalinya, Hanafi memijat kaki Hany. Saat itu Hany pernah terkilir juga saat akan turun ke bawah. Karena tidak hati -hati kakinya terkilir dan tubuhnya jatuh begitu saja di lantai.


Pelan sekali, pijatan itu pun memang membuat kaki hany sedikit terasa enteng dan sakitnya menghilang.


"Sudah enakan?" tanya hanafi pelan sambil memutar mutar kaki Hany.


"Lumayan. Tapi kayaknya selopnya di lepas saja. Na gak kuat," ucap Hany lirih.


Gais bar -bar macam Hany memang sulit di ajak terlihat seperti wanita sejati. Tapi kecantikannya mumpuni dengan artis korea bisa di sejajarkan.


"Ya sudah lepas saja tidak apa -apa. Nanti kalau ada yang mau foto, biar kamu saya gendong," ucap Hanafi santai.

__ADS_1


"Hah? Kalau ada yang mau foto, di gendong? Apa maksudnya?" tanya Hany melotot..


Hanafi menatap lekat kedua mata Hany yang bulat dan indah. Ia hanya tersenyum pada istrinya.


"Ukuran kita berbeda. Apa kamu tidak menyadari itu?' tanya Hanafi pelan. tatapannya masih lekat pada HAby dan belum di lepaskan untuk melihat hal lainny.


"Ukuran kita? Ukuran sepatu?" tanay Hany mulai kesal.


Ini hari pernikahan dan bukan bermain tebak tebakan.


"Ukuran sepatu juga bisa." jawab Hanafi pelan. Ia menunduk lagi dan memijat kaki Hany kembali. Dalam hatinya tertawa keras. Betapa polosnya istri mungilnya ini.


Mama Amalia menhampiri Hanafi dan Hany, menanyakan apa yang sedang terjadi.


"Ada apa?" tanya Mama Amalia pelan.

__ADS_1


"Keram Ma," jawab hanafi pelan.


"Ma? Na lapar," ucap Hany pelan sambil memegang perutnya yang masih terlihat rata. Sejak pagi Hany belum makan apapun kecuali minum susu putih saat masih berada di rumah Kakek Bram.


"Mau makan? Mama ambilkan ya?" ucap Mama Amalia penuh kasih sayang.


Mama Amalia pun turun dari pelaminan dan mulai mengambilkan makanan untuk putri kesayangannya. Tak terasa air matanya pu luruh begitu saja saat Mama AMalia mengambilkan beberapa makanan kesukaan Hany. Ia merasa selama ini belum menjadi orang tua yang baik. Amalia dibuk dengan pekerjaannya sebagai model senior. Waktunya sellau habis di sanggar atau di luar kota untuk mengajar juniornya. Papa Broto juga sama sibuknya dnegan memimpin perusahaan yang saat ini sedang jaya -jayanya hingga tak ada waktu untuk memperhatikan Hany Sakinah selama ini. Sampai -sapai Hany harus salah pergalan dan lebih menyukai balapan liar. Sudah tentu ini karena Hany Sakinah kurang kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Setelah selesai mengambil makanan. Mama Amalia pun naik ke atas pelaminan allau memberikan piring yang berisi penuh dnegan makanan.


"Ini sayang. Makan dulu, nanati sakit. Kamu harus bertenaga sampai besok pagi," goda Mama Amalia sambil mengedipkan satu matanya kepada Hany Sakinah.


"Bertenaga sampai besok pagi. Ini saja Na sudah capek Ma. Kalau bis amau rebahan dan tidur pulas tanpa ada yang mengganggu. Suapin Na ya Ma," cicit HAny dengan mnaja.


Mama Amalia hanya tertawa.

__ADS_1


"Kamu gak malu sama suami kamu Na? Sejak tadi lihat ke arah kamu terus. Seharusnya kalian muali membiasakan makan berdua dan saling menyuapi biar tambah mesra. Ini makanannya, Mama tinggal dulu," ucap Mama Amalia pelan.


Mama Amalia buru -buru pergi dari tempat itu. Ia tak bisa menahan tangisnya di depan Hany yang polos dan manja. Usia Hany amsih sangat belia, dan masih terlihat sangat polos. Walaupun Hany itu gadis pintar di sekolahnya, tapi secara pengalaman tentang kehidupan itu kurang.


__ADS_2