CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
SARAPAN PAGI


__ADS_3

Pagi - pagi sekali, Hanafi sudah membangunkan Hany untuk melakukan ibadah sholat shubuh berjamaah. Sebab pagi ini, Hanafi harus pergi ke luar kota seharian, mungkin bisa pulang malam atau malah akan pulang esok pagi.


"Bangun sayang ... Yuk sholat shubuh berjamaah. Mas mau pergi pagi ini," ucap Hanafi pelan kepada Hany, istrinya.


Kedua mata Hany pun mengerjap pelan. Ia berusaha mencerna ucapan Hanafi dan mengumpulkan tenaga dan nyawanya untuk bangun dan fokus beraktivitas.


"Kedip -kedip terus. Ayo bangun sayang. Sudah adzan. Katanya mau belajar jadi istri yang baik dan sholehah. Di mulai dari sholat shubuhnya gak telat. Bangun pagi terus berwudhu dan sholat shubuh," ucap Hanafi sambil mengusap pelan rambut Hany.


"Iya Mas," jawab Hany lirih. Suaranya masih terdengar serak karena baru bangun dari tidurnya.


Hany pun terbangun dan terduduk bersandar karena masih belum bisa fokus.


Hanafi masih mengusap pelan kepala Hany dan mengecup kepala Hany dengan penuh sayang.


"Yuk, Wudhu dulu, Sayang," ucap Hanafi pelan.


Hany pun membuka kedua bola matanya dengan paksa. Lalu ia menurunkan kedua kakinya dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.


Hanafi menatap Hany yang terlihat lebih semangat di bandingkan kemarin -kemarin.


Ia juga menunggu Hany keluar dari kamar mandi dan menyiapkan dua sajadah serta mukena Hany di dekat tempat tidur mereka.


"Sudah? Mas mau wudhu," ucap Hanafi pelan saat Hany sudah selesai berwudhu.


Semua sudah siap berdiri di sajadah masing -masing. Hany lengkap dengan mukena putih dari seserahan yang di berikan oleh Hanafi. Mereka berdua sholat shubuh dengan khusyuk.


Setelah selesai, seperti biasa yang di lakukan oleh Hanafi duduk diam di atas sajadah dan mulai berdoa dan bersholawat.


Hany hanya menatap Hanafi yang terlihat beda. Jika seperti ini, gaya ustadnya jelas terlihat. Bukan itu saja, tampak samping Hanafi terlihat sangat tampan dan menawan. Kepalanya yang tertutupi dengan kopeah berwarna putih ala santri dengan baju koko polos serta sarung gambar batik pun makin terlihat sangat alim.


Hany pun terkesima melihat ketampanan Hanafi. Jantungnya pun ikut berdegub keras saat Hany mendengar lantunan ayat suci yang terlontar dari bibir tebalnya itu. Ini kedua kalinya Hany mendengar Hanafi membaca ayat -ayat suci al -quran.

__ADS_1


Hany hanya memutar butiran tasbih yang ada di telqpak tangannya. Ekor matanya tetap fokus melihat Hanafi yang tampak sangat khusyuk sekali dengan kedua mata terpejam.


Mukena yang di pakai Hany sudah di lipat rapi menjadi satu dengan sajadah dan di letakkan di atas meja rias. Setelah sebelumnya ia mencium punggung tangan Hanafi dengan penuh rasa hormat.


Hany pun keluar dari kamar dan meninggalkan Hanafi yang masih ada di sajadah.


Lalu, turun ke bawah menuju dapur. Suasana dapur pagi itu juga sudah ramai. Beberapa asisten sedang memasak untuk para santri sarapan pagi ini. Dapur di rumah besar itu ada dua. Sati dapur bersoh yang di gunakan keluarga dan satu dapur besar yang bisa di gunakan memasak oleh siapa pun.


"Pagi ...." sapa Hany kepada beberapa asisten yang sedang sibuk di sana.


Semua asisten pun meletakkan alat masaknya dan menatap Hany lalu mengangguk hormat.


"Ustadjah kenapa di sini? Mau bikin kopi buat Ustad?" tanya seorang asisten yang kemudian menghampiri Hany.


Hany malah celingukan bingung. Ia kira asisten itu mengajak ngobrol orang lain tapi hanya ada dia yang ada di sini. Tapi kenapa harus di panggil ustadjah. Bukankah Hany adalah perempuan dari kalangan rakyat biasa dan bukan dari dunia persantrian. Ilmu agamanya juga masih cetek sekali. Kalau cuma sholat, baca al qur'an dan sholawatan memang bisa. Selebihnua harus ada pendampingan khusus biar lebih pintar.


"Anda bicara dengan saya?" tanya Hany pelan dengan nada sopan.


"Ekhemm ... Saya mau bantu buat sarapan," ucap Hany ragu dan terlihat hati -hati sekali.


Asisten itu nampak terkejut. Dia juga bingung anatara senang dan takut di marahi Umi atau Ustad bila tahu Ustadzah Sakinah sedang ikut membantu di dapur. Karena memang aturannya tidak boleh.


"Jangan Ustadzah. Biar kami yang membuat sarapan. Kecuali Ustadzah Sakinah hanya ingin membuat sarapan untuk Ustad Afi," ucap asisten itu memcoba menjawab pelan tanpa menyinggung.


Keduanya sama -sama salah paham. Asisten itu mengira, Hany akan masak besar untuk menu sarapan. Pada kenyataannya, Hany hanya basa -basi saja, karena memang tidak bisa memasak.


"Ekhemmm ... Bisa bantu saya?" tanya Hany setengah berbisik sambil mendekatkan tubuhnya pda asisten tersebut.


"Bisa Ustadzah. Bantu apa?" tanya asisten itu pelan.


"Bantu saya untuk membuat kopi. Ekhem .. Bukan gak bisa, tapi saya belum hapal dengan situasi dan kondisi di sini. Lagi pula ...." ucapan Hany terhenti. Ia malu untuk bicara langsung dengan jujur kepada asisten tersebut kalau ia sebenarnya tak bisa membuat kopi. Racikannya selalu gagal.

__ADS_1


"Kopi? Kopi hitam untuk Ustad Afi?" tanya asisten itu memastikan.


"Iya," jawab Hany malu -malu.


Asisten itu tersenyum lebar. Lalu, mengangguk kecil ke arah Hany.


"Bisa. Ayo, Ustadzah ikut saya ke dalam. Kita buat kopi hitamnya," ucap asisten itu pelan.


Asisten itu langsung menarik tangan Hany agar mengikutinya ke dalam dapur keluarga. Hany pun hanya mengikuti saja.


"Kalau untuk kopi hitam kita pakai cangkir ini atau yang ini biar bisa mengukur racikan antara gula dan kopinya. Lalu, Kalau Ustad Afi, biasanya suka kopi tanpa ampas seperti kopi ini. Lalu, gulanya memakai gula diet seperti ini. Karena Ustad Afi sangat menjaga makanan, beliau tidak memakan makanan yang terlalu banyak kalori, seperti mie dan gorengan, itu bukan tipe makanan kesukaannya," ucap asisten itu menjelaskan dengan suara lembut dan pelan. Hany benar -benar memperhatikan dnegan benar, dari meracik dan mengambil gelas, dan kopi serta gula di tempat rak yang mana, agar setiap pagi, ia bisa membuatnya dengan benar tanpa meminta tolong lagi. Mungkin hanya segelas kopi tapi ini bisa membawa Hany ke surga sebagai bentuk pengabdiannya kepada suami.


"Ohh gitu ... Paham. Lalu, kalau mau buat sarapan? Bisa?" tanya Hany pelan.


"Ustadzah mau bikin sarapan pagi apa?" tanya asisten itu pelan.


"Mau bikin roti tawar gandum saja pakai selai. Saya juga mau bikin salad buah, bisa bantu siapkan buah -buahannya?" tanya Hany pelan.


"Tentu saja bisa. Sebentar biar saya ambilkan," ucap Asisten itu pergi ke arah ruangan yang sepertinya merupakan gudang tempat penyimpanan makanan.


Tidak lama, asiste itu membawa berbagai macam buah -buahan dan juga yoghurt serta keju.


Hany pun tersenyum mulai memotong buah -buahan itu dan mencampur semua buah itu kemudian di menumpahkan yoghurt dan keju parut.


Hany tersenyum puas. Llau membawa semua makanan dan secangkir kopi ke atas.


"terima kasih sdah membantu. Semoga Pak Ustadnya suka," ucap Hany pelan dan berlalu pergi.


"Tentu suka, karena istrinya yang membuat. Semua yang di buat oleh istrinya akan sellau di sukai oleh sang suami sebagai bentuk penghargaannya," ucap asisten itu sambil tersenyum lebar.


Hany hanya menanggapi dengan senyuman.

__ADS_1


__ADS_2