CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
KEPANIKAN KAKEK BRAM


__ADS_3

Malam ini menjadi malam terburuk bagi kedua orang tua itu. Mereka adalah Nenek Inggit dan Kakek Bram. Apa yang mereka khawatirkan akhirnya terjadi juga, Sakinah harus pergi dengan mengendap-endap dengan bantuan Mbok Yum untuk mengikuti acara balap liar di tempat yang telah ditentukan.


Nenek Inggit begitu murka setelah membuka pintu kamar Hany dan tidak menemukan gadis nakal, cucu kesayangannya itu.


Rasanya telah salah memberikan perhatian dan kasih sayang jika harus berakhir seperti ini. Nenek Inggit hanya kecewa, kenapa harus mengendap seperti maling, padahal kalau mau meminta ijin, mungkin akan diijinkan asal ada timbal balik perjanjian.


Mbok Yum hanya menunduk karena rasa bersalahnya begitu besar. Sejak tadi Mbok Yum menjadi bulan-bulanan amarah Kakek Bram, yang dianggap tidak becus mengurus anak ak majikannya itu, dan dengan mudahnya dirayu dengan uang untuk membantu meloloskan Hany mengikuti acara balapan liar itu.


Kakek bRam dan Nenek Inggit memang sengaja tidak menghubungi Ustad Hanafi karena takut ada masalah setelah itu, walaupun Ustad Hanafi sudah menawarkan bantuan untuk hal apapun yang berkaitan dengan Hany, calon istrinya.


"Kalau sudah begini, bagaimana bisa mencari Sakinah?" tanya Nenek Inggit dengan suara keras.


Mbok Yum masih tertunduk, rasanya ingin lari dan pergi dari rumah itu dan mencari anak majikannya itu.


"Kamu itu Yum, dikasih kepercayaan tapi tidak pernah diindahkan, amanat yang diberikan juga tidak amanah, lalu harus bagaimana? Hanya kamu yang dekat dengan Sakinah, seharusnya kamu bisa memberikan nasihat baik, apalagi Sakinah itu akan menikah. Nanti kalau ada apa-apa, kita harus bicara apa kepada Kyai Ubay dan Umi Zahra, terlebih kepada Ustad Hanafi. Kejadian ini sama saja, membuat malu keluarga kita, nama baik keluarga jadi tercoreng tidak karuan," tegas Kakek Bram dengan suara lantang dan sedikit marah.


Mbok Yum makin menundukkan kepalanya dalam-dalam, tidak berani membalas tatapan Kakek Bram dan Nenek Inggit, apalagi menjawab ucapan dari kedua orang tua itu.


Suasana malam ini benar-benar membuat adrenalin naik dan hawa nafsu untuk marah pun semakin berkobar.


"Assalamu'alaikum," ucapan salam terdengar sangat jelas dari arah depan teras rumah diiringi dengan ketukan pintu yang yang pelan.


Suara itu laki-laki dan tampak terdengar sangat pelan. Yani berlari dari arah ruang TV menuju pintu ruang tamu untuk membuka pintu rumah itu.


"Waalaikumsalam," jawab Yani pelan sambil membuka pintu rumah tersebut.


Indra sudah berdiri di depan pintu rumah itu dengan wajah yang sangat kusut dan terlihat sangat lelah sekali. Keringatnya bercucuran hingga mengeluarkan bau asam dari tubuhnya, bajunya terlihat basah karena keringat.


"Masya Allah Kang Indra, masuk? Non Hany mana?" tanya Yani pelan sambil mengedarkan pandangannya ke arah luar seolah mencari-cari keberadaan Nona Mudanya itu.

__ADS_1


Indra hanya tertunduk dan menggelengkan kepalanya dengan pelan dan pasrah. Satu jam lebih Indra berjalan kaki dari tempat arena balapan liar itu, tidak ada stau pun kendaraan yang lewat yang bisa ditumpanginya hingga mendekati desanya. Jalanan sangat sunyi sepi karena malam sudah sangat larut. Indra Seperi anak hilang, orang yang terusir dari rumahnya sendiri, atau bahkan seperti orang yang melakukan diri dari rumah karena jiwanya terganggu.


"Kakek Bram dan Nenek Inggit ada?" tanya Indra pelan dan terdengar sangat cemas.


"Ada di dalam, masuk dulu, sepertinya Kang Indra sangat lelah," ucap Yani pelan sambil mempersilahkan Indra masuk ke dalam rumah besar itu.


"Iya, terima kasih Yani," ucap Indra pelan dan masuk ke dalam rumah besar itu.


Tubuhnya yang sangat lemas langsung duduk begitu saja di sofa empuk itu dan bersandar dengan nikmat, urat punggungnya terasa pegal dan nyeri tapi kini sudah agak mendingan.


Yani masuk ke dalam ruang keluarga dan memanggil Kakek Bram dan Nenek Inggit untuk segera menemui Indra yang sudah ada di ruang tamu, namun tanpa membawa Hany, cucu kesayangannya Nenek Inggit.


"Nek, ada Kang Indra? Tapi tidak bersama Nin Hany," ucap Yani pelan dengan sedikit bergetar.


"Apa?!" teriak Kakek Bram dengan sangat keras saat mendengar ucapan Yani.


Kakek Bram langsung berjalan menuju ruang tamu dan menemui Indra yang sedang menikmati duduk bersandarnya di sofa empuk itu sambil.memejankan kedua matanya.


Nenek Inggit sejak tadi hanya membututi Kakaek Bram, raut wajahnya sudah cemas luar biasa.


Indra tersentak kaget dan langsung membuka matanya dan duduk tegak menatap Kakek Bram yang sedang murka.


"Kamu dengar Kakek?! Sakinah kemana?!" teriak Kakek Bram dengan lantang dan sudah tidak sabar.


Kesabarannya sudah habis saat mengetahui Sakinah tidak ada dirumah sejak jam delapan malam, dan kini waktu sudah menunjukkan pukul satu malam, hati siapa yang tidak cemas memikirkan anak gadis yang belum pulang.


"Maafkan Indra Kek, Sakinah ... anu ... Kek, Ehh Sakinah itu Kek ..." ucap Indra dengan tergagap dan bingung.


"Sakinah kenapa?!" teriak Kakek Bram dengan suara keras.

__ADS_1


Indra menarik napas dalam dan dengan pelan dihembuskan dari rongga hidungnya. Rasanya sangat takut sekali untuk berkata jujur, tapi memang keadaannya mau tidak mau harus jujur apa adanya tentang Sakinah.


"Sakinah ditangkap Polisi, terkena razia saat balapan," ucap Indra dengan pelan dan terbata-bata.


Kakek Bram melotot ke arah Indra, wajahnya sudah merah padam ingin mengungkapkan kemurkaannya kepada Indra.


Napas Kakek Bram terdengar tersengal-sengal menahan amarahnya.


"Bagaimana sekarang, kita jemput saja Sakinah, kasihan," ucap Nenek Inggit dengan lembut.


Nenek Inggit sudah tidak mampu lagi untuk berteriak dan marah-marah. Energinya sudah habis tadi mengungkapkan kekesalannya dan kekecewaannya kepada Mbok Yum. Saat ini mendapatkan kabar Hany ada di kantor polisi saja sudah cukup menenangkan, minimal Hany dalam keadaan baik-baik saja.


"Lalu kamu sebagai sahabat malah meninggalkan Sakinah sendirian?! Sakinah itu perempuan!! Bukan laki-laki seperti kamu, Indra!!" teriak Kakek Bram penuh amarah sambil menunjuk ke arah wajah Indra dengan telunjuk tangan kanannya.


"Maafkan Indra, Kek. Tadi, Sakinah tertangkap saat masih pertandingan, dan Indra ada di bagian penonton, semuanya terjafi begitu sangat cepat, hingga Indra langsung menyelamatkan diri dengan bersembunyi di semak-semak belukar yang gatal," ucap Indra pelan dan lirih.


Kakek Bram berusaha menenangkan hatinya dengan menghembuskan napasnya kasar.


Dadanya tiba-tiba terasa sakit dan sesak. Kakek Bram duduk di sofa ruang tamu dengan memegang kepalanya yang terasa sakit dan nyeri.


"Ambilkan air hangat," teriak Nenek Inggit dengan agak keras menitah Yani.


Yani pun segera berlari ke arah dapur dan mengambil dua gelas air hangat, satu untuk Kakek Bram dan satu lagi untuk Indra.


"Minum dulu Kek," ucap Nenk Inggit pelan dengan senyum manis sambil memberikan satu gelas air hangat itu untuk diminum oleh Kakek.


Yani juga memberikan satu gelas air hangat untuk Indra.


"Ini minumannya Kang Indra, biar agak tenang," ucap Yani dengan suara pelan.

__ADS_1


Indra menerima satu gelas air hangat itu dan meneguknya hingga setengah gelas.


Malam ini benar-benar semua orang disibukkan dengan urusan Hany Sakinah yang nekat keluar untuk mengikuti acara balapan liar itu.


__ADS_2