CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
SAH


__ADS_3

Sesampai di Hotel Buana, semua langsung masuk ke ruang make up. Kakek Bram sudah rapi dnegan baju beskap, begitu juga dengan Nenek Inggit dan Mbok Yum yang sudah memakai kebaya dan kain panjang.


Hany masih duduk di kursi panas dan wajahnya sedang di vermak habis -habisan oleh perias pengantin. Tadi, perias pengantinnya tak percaya kalau pengantin wanitanya adalah Hany. Karena gadis bar -bar itu belum mandi dan masih menggunakan daster. Benar -benar tanpa persiapan sedikit pun.


Akhirnya Hany pun mandi dan mulai di rias serta memakai baju pengantin berwarna putih untuk acara ijab kabul.


Suara riuh tamu sudah terdengar di dalam masjid. Hany hanya bisa melihat dari layar ponselnya. Semua di lakukan live muali dari wal acara hingga akhir nanti.


Prosesi ijab kabul segera di mulai. Sebelumnya sesaui dengan permintaan Hany, ia menginginkan Hanafi untuk melafalkan surat ar rahman sebagai mahar.


Suara lantunan ayat suci alquran itu begitu terdengar sangat syahdu, hingga menyentuh hati Hany.


Setelah selesai melafalkan ayat suci alquran, dilanjutkan dengan pengucapan janji suci pernikahan melalui ijab kabul.


Suasana begitu khidmat saat penghulu sudah memulai acara tersebut. Papa Broto yang juga sudah hadir di sana secara langsung yang menikahkan Hany kepada Hanafi.

__ADS_1


"Apa kamu sudah siap?" tanya Papah Broto dengan suara lantang.


"Siap Pah," jawab Hanafi dengan semangat dan meyakinkan.


Papah Broto mengulurkan tangan kanannya untuk memulai acara ijab kabul ini.


"Saya nikah dan kawinkan engkau Ridwan Hanafi dengan putri semata wayang saya Hany Sakinah dengan mas kawin tersebut di atas di bayar tunai," ucap Papah Broto lantang saat tangan itu telah berjabat denagn Hanafi sambil di ayunkan sebagai tanda pengesahan.


Kini tiba giliran Hanafi yang menjawab dengan suara lantang dan keras.


Penghulu pun langsung berkta dengan keras dan penuh semangat.


"SAH?"


Serempak semua orang pun berkata, "SAH."

__ADS_1


Semua saling berpandangan dan tersenyum bahagia. Kakek Bram yang juga ikut berbahagia menepuk pelan pundak Broto.


Mamah Amalia yang sejak tadi menemani Hany pun ikut mengusap lembut punggung gadisnya yang kini telah menikah.


Nenek ikut yang juga bahagia dengan senyum tulus. Beliau duduk dengan Bundanya Hanafi bersama dengan para tamu undangan.


Hany Sakinah pun berurai air mata. Sejak tadi hatinya tersentuh mulai pembacaan surat ar rahman secara spontan oleh Hanafi sebagai mahar yang di minta oleh Hany. Lalu, suara SAH dari seluruh tamu undangan itu secara otomatis membuat status Hany berubah dalam sekejap saja.


Kini, Hany Sakinah bukan lagi gadis single, tetapi telah berstatus menjadi istri orang, walaupun ia masih duduk di kelas XII.


Tidak ada yang salah dan tidak ada yang berubah pada kehidupan Hany Sakinah setelah ini. Hany Sakinah tetap menjalani kehidpannya sebagai pelajar seperti biasanya. Hanya saja, mulai saat ini ia akan tinggal bersama suaminya di lingkungan pondok pesantren di kediaman sang suami.


Butuh adaptasi itu pasti. Tapi, tidak harus berpura -pura menjadi alim dan bis aberubah dlam sekejap atau satu malam saja. Semua butuh niat dan semua itu butuh proses.


Hany Sakinah pun masuk ke dalam Masjid menghampiri Ridwan Hanafi yang kini telah berstatus menjadi suaminya. Mama Amalia terus menggandeng putri semata wayangnya menuju tempat ijab kabul yang di terima oleh Papa Broto bau di sandingkan tepat di samping Hanafi.

__ADS_1


__ADS_2