CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
MAKAN MALAM BERSAMA UMI


__ADS_3

"Sudah jangan bertingkah aneh. Mas gak mau maksa kamu untuk melqkukan hal yang gak ingin kamu lakukan," ucap Hanafi berbisik.


Hanafi hanya dia memeluk tubuh Hany yang sudah setengah twlanjang di bawah selimut yang sama. Hingga keduanya benar- benar tertidir dengan pulas.


Satu jam kemudian. Terdengar suara ketukan dari arah luar kamar. Hanafi membuka matanya dan turun dari tempat tidur lalu membuka pintu kamarnya.


"Umi ... Ada apa?" tanya Hanafi pelan.


"Ajak istrimu turun dan kita makan malam bersama di bawah. Aby dan Dul juga sudah ada di meja makan. Listrik bary menyala. Hujan juga sudah reda," titah Umi Afi pelan.


"Iya Umi. Afi bangunkan Na, dulu. Dia kelelahan," ucap Afi sopan.


"Jangan terlalu di forsir. Kasihan juga. Masih muda," ucap Umi menasehati sambil terkekeh.


Hanafi hanya tersenyum saja tanpa menjawab. Ia tahu arah pembicaraan Uminya.


"Ya sudah. Umi tunggu. Jangan lama -lama," titah Umi tegas.


Umi Afi adalah sosok Ibu yang hebat. Beliau selalu ada di dekat Abynya termasuk ikut dalam perjalan ke luar kota untuk urusan pekerjaan dan memberikan ceramah.


Untuk urusan pilihan jodoh. Umi dan Aby memberikan hak sepenuhnya kepada anak -anaknya.


Hanafi masuk ke dalam kamarnya lagi dan membangunkan Hany.

__ADS_1


"Na ... Yuk makan? Umi dan Aby sudah menunggu," ucap Hanafi pelan.


"Eunghh ... Iya," jawab Hany pelan. Nyawanya belum terkumpul sama sekali.


Hanafi berjalan ke lemari dan mengganti kaosnya.


"Arghhh ...." teriak Hany dengan suara keras.


Hanafi bergegas menghampiri Hany.


"Kamu kenapa?" tanya Hanafi bingung.


"Ekhemmm ... Apa yang sudah terjadi? Mas sudah melakukan itu?" tanya Hany lirih.


"Gak." jawab Hanafi tegas dan cepat.


"Kenapa baju Na? Terlepas?" ucap Hany bingung. Ia lupa jika ia sendiri yang menyodorkan tubuhnya untuk Hanafi.


"Kamu lupa? Kamu kan yang melepasnya satu per satu?" ucap Hanafi pelan mengingatkan.


Hany terdiam. Ia mengingat kejadian mati lampu tadi dan benar sekali. Hany yang dengan ikhlas meminta agar suaminya mau bercinta dengannya. Namun dengan tegas Hanafi menolak dan mereka akhirnya terlelap tanpa ada hal yang terjadi.


"Sudah. Pakai pakaian kamu dan kita turun ke bawah bersama. Tidak ada yangvterjadi di antara kita. Mas tidak akan pernah memaksa kamu untuk melakukan hal yang tidak kamu inginkan. Pernikahan terjadi kedua belah pihak bukan hanya salah satu saja. Jadi, Mas gak egois. Hanya saja, kamu harus bisa menghargai Mas sebagai suami. Itu saja," ucap Hanafi lembut.

__ADS_1


Setiap ucapannya hanya sebuah penjelasan bukan suatu tekanan atau ancaman. Hanafi selalu bicara dengan suara pelan dan lembut tanpa ada sentakan, gertakan dan nada tinggi.


Hanafi bangkit berdiri lagi dan menyisir rambutnya di depan cermin dan memakai parfum kesukaannya.


Perlahan Hany memakai pakaiannya secara lengkap. Dari pantulan cermin itu Hanafi hanya menatap tubuh mulus Hany yang memang terlihat sangat seksi sekali.


"Sudah siap?" ucap Hanafi yang sudah menunggu di depan pintu kamar.


"Sudah," jawab Hany lembut.


Hanafi tidak mau membuat Hany merasa malu pada dorinya sendiri. Ia membebaskab Hany dalam hal berpakaian tanpa harus menyuruhnya dengan paksa untuk memakai gamis dan kwrudung seperti Umi dan gadia -gadis santri lainnya.


Hany berjalan lebih dulu dan berhenti.


"Kenapa berhenti?" tanya Hanafi pelan.


"Mas Afi turun duluan saja. Na mau ganti baju. Rasanya gak pantas pakai pakaian ini," ucap Hany yang mulai sadar bahwa kini ia tinggal di lingkungan ponpes. Setidaknya ia bisa memakai pakaian yang tidak memicu syahwat lelaki lain.


Hanafi tersenyum senang. Tanpa harus di beritahu. Hany sadar kalau apa yang di kenakan memang kurang sopan.


"Mas tunggu di sini," ucap Hanafi pelan.


Hany hanya mengangguk lahan dan berlari menuju kamarnya. Ia memilih pakaian yang pantas dan sedikit tertutup walaupun Hany belum memakai jilbab sepeeti wanita sholehah pada umumnya.

__ADS_1


__ADS_2