
Sudah satu jam pelajaran Indra berdiri di lapangan menghadap tiang bendera sambil bersikap hormat. Kakiny aseseklai di angkat bergantian ke atas karena sudah keram. Pergantian jam pelajaran telah berbunyi tapi Indra masih tetap berdiri di sana menunggu instruksi dari guru sejarah yang menghukumnya.
"Tegap grak," ucap Hany dari arah belakang sambil terkekeh.
Indra pun menurunkan tangannya yang sudah terasa pegal dan nyeri. Kepala Indra bergerak dan ingin menoleh ke arah belakang. Ia ingin melihat suara wanita yang ada di belakang.
"Jangan tolah toleh. Pandangan lurus ke depan!! Mau di tambah hukumannya?" teriak Hany dari kejauhan membuat Indra pun hanya bisa menurut.
Indra pun menatap luruske depan. Baju seragam putihnya sudah basah karena keringat yang bercucuran di dari dalam tubuh menembus keluar.
Hany pun berlari ke arah Indra dan tertawa keras kepada sahabatnya itu. Lalu memberikan sebotol air mineral dingin.
"Minumlah," ucap Hany pelan.
Indra menerima minuman itu dan membukanya lalu meminumnya hingga habis dan membuang botol kosong itu sembarang. Hany sejak tadi bediri di samping Indra dan ikut bersikap hormat memandang ke atas ujung tiang bendera itu.
Wajahnya yang sangat cantik itu pun menoleh ke arah Indra yang yang juga menatap Hany. Sahabatnya ini luar biasa. Jiwa persahabatan dan sosialnya begitu besar.
"Kenapa? Belum pernah lihat cewek cantik di depan mata? Atau baru kali ini lihat bidadari cantik?" tanya Hany ketus.
Ha ... ha ... haa ... Tawa Indra begitu lepas dan keras.
"Bukan itu," ucap Indra cepat. Wajhany begitu terlihat serius.
"Lalu? Apa?" tanya Hany pelan menatap tajam ke arah Indra. Hany pun ikut penasaran dengan ucapan Indra.
"ternyata begini candaannya bini orang," tawa Indra pun seketika menggelegar. Baginya ucapan itu begitu sangat lucu tapi agak sesak di hatinya.
"Sialan loe. Kirain apa? Gak usah sebut -sebut bini orang. Kamu mau satu sekolah tahu dan Na jadi bahan bullyan terus di caci maki dan akhirnya di keluarkan dari sekolah?" tanya Hany kesal.
"Gak. Maaf," ucap Indra pelan.
"Di maafkan," jawab Hany singkat.
"Na ...." panggil Indra pelan.
"Apa?" tanya Hany pelan.
"Menikah muda enak?" tanya Indra tiba -tiba.
Hany menoleh lagi ke arah Indra. Ia membuka satu bungkus permen karet dan mengunyah peremn itu dengan pelan merasakan manisnya yang begitu nikmat.
"Ekhemmm ... Gimana ya? Na juga baru beberapa hari menikah. Jadi belum tahu rasa sesungguhnya seperti apa?" ucap Hany pelan.
"Kenapa? Pertanyaan kamu mulai aneh," ucap Hany penasaran.
"Ekhemmm ... Gak apa -apa. Cuma nanya aja," ucap Indra pelan.
"Makan yuk? Kita ke kantin?" ajak Hany kmudian. Perutnya mulai keroncongan.
"Dih ... Belum istirahat. Ini aja masih di setrap," ucap Indra kesal.
"Na yang tanggung jawab. Lagi pula ini jam kosong. Pak Memet lagi gak ngajar, katanya istrinya melahirkan," ucap Hany pelan lalu menarik baju seragam Indra dengan kencang.
Sesampai di antin mereka memesan bakso rudal setan. Bakso viral di kantin sekolah. Bakso yang membuat melehoy hingga keringat bercucuran hingga ingus pun naik turun menahan rasa pedas yang nikmat.
"Jiah ... Bakso rudal setan. Meler dah ini hidung," ucap Indra yang sudah bisa memprediksi.
"Taruhan. Makan pedas. Apapun yang kamu minta Na kasih, kalau bisa ngalahin Na," tantang Hany dengan suara lantnag.
Indra hanya bisa mengangguk pasrah. Entah kenapa setiap permintaan Hany selalu di turuti dan tak bisa di tolaknya.
Meja makan kantin hanya di duduki oleh Hany dan Indra dengan duduk berhadapan. Masing 0masing mendapatkan satu mangkuk bakso rudal setan dengan satu botol air mineral ukuran sedang.
Hany menambahkan sambal pada masing -masing mangkuk bakso sebanyak lima sendok per mangkok.
"Hah ... Lima sendok?" tanya Indra dengan mata terbelalak.
"Iya lima sendok. Kurang?" tanya Hany pelan.
"Cukup Na. Jangan di tambah -tambah lagi," ucap Indra ngeri melihat mangkuknya sudah berwarna merah begitu.
hany sendiri adalah gadis yang tak suka makanan pedas. Ia sejak awal hanya ingin mengerjai Indra. Dalam hatinya tertawa ngakak. Entah gimana wajah Indra nantinya saat mulai menikmati makanan super pedas itu.
"Sudah siap? Kita mulai ya? Ini taruhannya," ucap Hany dengan mengeuarkan kartu ATM berwarna hitam miliknya.
Indra hanya bisa mengelus dadanya. Hany adalah seorang gadis kaya yang mandiri. Terbukti memiliki usaha bersama dengan teman -teman di SMA sebelumnya.
"Aku ngasih apa, Na?" tanya Indra pelan.
"Cukup habiskan. Kamu mau minta apa saja Na beri. Na kasih waktu lima belas menit dan semuanya harus habis. Kita mulai!!" teriak Hany sambil mengetukkan kepalan tangannya di meja sebagai tanda di mulainya pertandingan.
Dengan cepat, Indra mengaduk makanannya dan mulai memotong bakso besar dan memasukkan ke dalam mulutnya. Ia mengunyah dengan rakus tanpa merasakan pedas luar biasa di lidahnya yang membuat melepuh di sekitar kulit di lidahnya.
Hany hanya mengaduk - aduk bakso itu dnegan snatai. Lalu memotong -motong dan mencium aroma pedas yang sudah di patikan akan membuat perutnya sakit.
Indra sudah tak melihat kanan kiri, ia hanya fokus dengan makanannya dengan keringat mulai bercucuran. Hany hanya menatap Indra dengan rasa iba. Tak tega membuat chalenge ini. Chalenge yang tak SAh, karena Hany hanya mengerjainya saja.
Sepuluh menit berlalu. Indra masih berusaha menghabiskan bakso yang tinggal sedikit lagi. Wajahnya sudah memerah. Bibirnya sudah menbal sembilan senti meter dan berwarna sangat merah. Lidahnya mulai kebas karena muali mati rasa dari rasa pedas itu. Indra hanya bisa merasaan perutnya mulai sakit dan perih. Air matanya terus mengucur perih, dan napasnya mulai memburu.
Indra pun tersadar. Mangkuk di depannya sama seklai tak berkurang isinya. Kuahnya hanya di aduk -aduk agar bercampur menjadi satu. Indra menatap tajam ke arah Hany yang tertawa ngakak.
"Kamu gak makan? Tantangan macam apa ini?" tanya Indra marah. Hany tak tahu rsanya hareudang karena panas cape dan panas hawa bercampur jadi satu dan berujung emosi karena saingannya santuy mengalahkan diri sendiri karean sudah menyodorkan kartu ATM hitam.
Hany hanya menggelengkan kepalanya pasrah. Ia menahan rasa gelinya melihat wajah Indra yang terlihat kaku dan kesal.
"Maaf. Udah habisan. Nanggung. Habis ini kita cabut, pakai mahar. Belum pernah kan naik mahar?" goda Hany sambil tertawa.
__ADS_1
"Arghh ... Punya sahabat begini amat. Untung sayang," ucap Indra kesal dan mulai menyuapkan beberapa butir bakso kecil dalam jumlah banyak ke adalm mulutnya secara bersamaan.
"Pelan -pelan nanti keselek. Inget, bini orang nih. Jadi gak perlu di sayang sama kamu lagi," ucap Hany berbisik.
Indra hanya mengangguk dan menghabiskan semuanya. Hanya kuah bkso merah yang tersisa di sana. Bubuk cabai kering dan gruntulan cabai yang masih terlihat kulitnya benar -benar membuat perut meledak.
Indra langsung menghabiskan air mineral miliknya dan milik Hany hingga habis. Bibirnya masih tebal dan dower akibat pedas.
"Ya ampun. Itu bibir kondisikan, jebeng gitu," ucap Hany tertawa keras.
"Au ah ... Gak ngerasain pedes luar biasa," ucap Indra kesal.
Hany membayar bakso dan melihat di sekeliling sambil menatap jam tangan di pergelangan tangannya.
"Yuk. Sekarang," ucap hany sambil memberikan kode keras.
"Cabut sekarang? Yakin? Gak takut kena sanksi?" tanya Indra lantang.
"Berisik ah!! Bnetar lagi jam istirahat. Gak mungkin kita perhi pas jam istirahat, gerbang sekolah ramai. Mending sekarang," ucap Hany cepat sambil bergerak ke arah samping gedung sekolah.
"Na ... Gak bawa tas?" tanya Indra pelan.
"Gila kali. Ambil tas sama aja kita bunuh diri. Yang penting kunci mobil, ATM, duit cash, itu cukup," ucap Hany cepat dan langsung berputar ke rah samping hingga menuju halaman sekolah dari gang sempit.
Indra hanya mengikuti Hany. Lalu masuk ke dalam mobil spot mewah.
"Ini maharnya? Keren habis," ucap Indra pelan.
"Ya dong. Cari suami ynag begitu. Minta apa aja di beliin," ucap Hany asal. Ia fokus mengendarai maharnya hingga keluar dari gerbang sekolah. Kacanya tertutup dan gelap hingga satpam tidak mengtahui siapa yang ada di salam. Satpam itu hanya berpikir yang mengedarai mobil itu adalah salah satu guru di sekolah ini.
"Kita mau kemana?" tanya Indra cepat. Entah kemana Hany membawanya.
"Na laper. Mau makan dulu. Ada tempat lesehan yang kayaknya enak," ucap Na cepat.
"Di mana?" tanya Indra pelan sambil memegang bibirnya dan menggigit kecil karena gatal dari rasa pedasnya.
"Tadi serching di pusat kota belok kiri ada tempat makan pemancingan yang keren pemandangannya," ucap Na pelan menjelaskan.
Mobil sport mewah itu melaju dnegan santai menuju tempat yang di tuju.
Mahar sudah parkir di depan pemancingan. Hany dan Indra turun menuju beberapa saung yang ada di sana. Hany memilih saung yang di tengah tepat di atas kolam ikan.
Ia memesan beberapa makanan laut sesuai dengan keinginannya sambil membuat rencana untuk nanti malam.
"Na mau sholat dhuha dulu ya," ucap Hany pelan. Ia melepaskan gelang pemberian Hanafi di meja.
"Kok di copot sih? Pakai aja Na? Itudari Pak ustad kan?" tanya Indra pelan.
"Iya. Tapi suka ngangkut kalau lagi sholat karena banyak mata -matanya," ucap Hany pelan.
Hany pun keluar dari saung dan berjalan menuju mushola kecil dan mulai sholat dhuha.
Saat Hany kembali, di meja sudah banyak seklai makanan yang di pesannya. Di tambah perutnya memang sudah sangat lapar dan keroncongan.
Dengan cepat, Hany pun mengambil piring dan mengambil nasi putih secukupnya lalu mengambil beberapa makanan laut di sana. Ada yang di tepungin, ada yang di goreng, ada yang di bakar, ada yang di asam manis, ad yang di guyur saos tiram, dan masih banyak lagi.
"Na ... Habis segini banyak?" tanya Indra menelan air liurnya. Perutnya sudah begah karena meminum air putih sebanyak dua botol.
"Kan ada kamu. Kita makan bareng dong. Mau PS lima gak? katanya dari kemarin pengen PS lima," ucap Hany santai.
"Serius Na? Mau beliin PS lima?" tanya Indra cepat.
"Serius. Pakai banget," ucap Hany pelan.
Hany mulia menikmati makanannya dan tak lama ponselnya berbunyi.
Hany menatap layar ponselnya dan Hanafi melakukan panggilan video call.
"Siapa Na? Mukanya serius amat?" tanya Indra yang mulai menikmati udang goreng tepung.
"Suami Na. Gimana ya?" tanya Na bingung.
Hany menarik napas daam dan mengeluarkannya pelan. Ia menerima panggilan itu.
"Hai Sayang ...." jawab Hany sambil tersenyum.
"Kamu dimana Sayang?" tanya hanafi lembut yang sedang berada di dalam mobil berasam Dul, adiknya.
"Ekhemmm ... Makan Sayang. Sama Indra. Ini Indra," ucap Hany pelan sambil menunjukkan Indra yang ikut melambaikan tangannya kepada Pak Ustad melalui layar ponselnya.
Layar ponsel itu d kembalikan ke arah wajahnya dan ponselnya di sandarkan pada gelas yang tegak berdiri.
"Ini jam berapa Sayang/ Kok sudah bis akeluar kelas?" tanya Hanafi pelan.
"Itu Sayang. Di pulangkan lebih cepat karean salah satu guru, istrinya melahirkan jadi mau jenguk katanya. Iya kan, Ndra?" tanya Hany sambil menatap Indra.
"Iya Pak Ustad," jawab Indra keras.
"Oke. Jangan bohong sama Mas ya? Kalau bohong lihat ya, gembok kebuka pokoknya," ucap Hanafi tertawa.
Hany hanya diam tak menyahut. Ucapan orang dewasa dengan logo dua puluh satu plus plus.
"Sayang ... Na mau makan dulu ya. Habis ini mau anter Indra beli PS lima," ucap Na pelan.
"Jangan sore -sore pulangnya," ucap Hanafi menasehati.
"Iya," jawab Hany pelan.
__ADS_1
Hany mematikan teleponnya dan tersenyum bebas.
"Aman kan?" tawa Hany terkkeh keras.
"Paling bisa ya? Bohong sama suaminya sendiri," ucap Indra asal sambil mnegunyah makanan pelan.
"Bukan bohong. Hnaya sedikit beralasan. Bukankah kita sebagai perempuan juga butuh waktu untuk me time?" ucap Hany santai.
"Ya sih. Me time itu perlu tapi kan gak usah sampai berbohong juga. Bilang saja cabut," ucap Indra tertawa keras.
"Resek loe. Itu sama aja, Na, bunuh diri. Tapi, Na itu beruntung banget dapat Mas Afi. Dia baik, perhatian, dewasa, bijak, gak nuntut, gak galak, selalu lembut, royal, cuma Na selalu egois," ucap Na pelan.
"Coba ikhlas dong Na. dari dulu memang sudah takdirnya kamu dnegan Pak Ustad. Dari cerita kamu, di anolong kamu sejak awal, hingga akhirnya ternyata di apria yang di jodohkan Kakek Bram untuk kamu. Suka lucu gak sih"' tanya Indra yang tertawa.
"Ya juga sih. Kalau ingat lucu juga,' ucap Hany pelan. Ia megingat pertama bertemu Hanafi di kaantor polisi dan meminta tolong untuk mengeluarkan dia dari kantor polisi. Arghhh ... waktu cepat sekali. Sekarang ia malah sudah menikah dnegan lelaki yang sering menolongnya itu.
"Tapi ... Pak Ustad yakin gak cemburu. Kamu sama aku, Na? takutnya gimana? Secara kita berdua kan lawan jenis, Na," ucap Indra yang kini agak takut.
"Gak akan. Mas Afi tahu kalau kita bersahabat. Tapi, event nanti malam, adalah event terakhir, Na. Takutnya suatu hari Na, akan menjadi ibu, gak mungkin dong, Na membawa buntelan perut naik motor gede," ucap Hany tertawa keras.
"Oke. Reno kayaknya siap -siap aja. Dia masih penasaran sama kelihaian kamu, Na. Baru kali ini ada yang bisa menandinginya. Perempuan lagi," ucap Indra lantang.
"Itu hanya kebetulan," ucap Hany pelan.
"Tapi loe siap kan, Na? Habi ini motor mau aku ambil di tempat Kakek Bram," ucap Indra pelan.
"Siap. Jangan bilang kita ketemu. Bilang aja, itu motor mau di pake buat ke sekolah," ucap Hany pelan.
"Itu sih urusan gampang," ucap Indra pelan.
Satu jam berlalu. Hany sudah kekeyangan. Perutnya sudah mengeras dan sedikit membuncit hingga rok abu -abunya pun sedikit sesak. Makanan di saung itu begitu enak sekali. Indra pun sudah memucat karena kekenyangan. Perutnya sudah tak kuat menerima asupan tapi bibirnya masih terus ingin menghabiskan makanan yang masih tersisa.
"Habisin deh. Na beneran gak kuat, kenyang banget," ucap Na pelan.
Tepat pukul sebelas siang. Hany dan Indra pun keluar dari saung itu. Semuanya nampak baik -baik saja sampai Hany pun membayar semua makanan itu secara cash. ia melanjutkan perjalanannya menuju toko pusat games. Di sana, Indra mulai memilih PS lima lengkap dengan layanya juga untuk di letakkan di kamarnya.
"Na ... Ini mahal lho?" ucap Indra merasa tak enak.
"Gak apa -apa, Ndra. Santai aja. Anggap aja hadiah dari seorang sahabat," ucap Hany tulus.
Hany pun berjalan menuju tempat lainnya. Ia menemukn mainan -mainan lucu untuk anak -anak balita. Ia mengingat, di jamannya belum ada mainan se -unik ini. Mainan yang bisa merangsang pertumbuhan otak anak.
Ia berjalan lagi melihat boneka donat berwarna hijau. Lucu sekali. Taap pikir panjang hany pun membelinya dan membawanya untuk di letakkan di mobilnya yang baru.
Maklum perempuan kalau sudah masuk pertokoan, pasti ada saja yang di incarnya. Padahal tadinya tak berniat membeli apapun.
Semua sudah selesai. Indra sudah memilih dan Hany sudah membayar semua. Kini mereka sudah berada di dlaam mobil lagi untuk mengantarkan Indra pulang ke rumah.
"Ndra ... Beli es krim dulu ya. Kayaknya enak tuh, nongkrong di pinggir danau sambil minum es dung dung," ucap hany yang melihat banyak pengunjung untuk bersantai di sana.
"Yakin? Mau nongkrong di sana? Lihat itu banyak banget yang pacaran?" ucap Indra pelan.
"Ya gak apa -apa. Kita cuek aja. Kita kan mau lihat pemandangan sambil minum es krim," ucap Hany pelan sambil meminggirkan mobilnya.
Keduanya sudah duduk di atas tikar dekat bibir danau dnegan dua amangkuk es krim dung dung. Es krim home made dengan rasa kacang merah dengan coeklat dan taburan kacang di atasnya. Kalau kerennya sih kayak es krim sunday atau es krim mc flurry di salah satu restauran cepat saji.
Baru juga menikmati beberapa suap. Indra melihat pergelangan tangan kanan Hany.
"Na ... Gelang mahar kamu mana? Tadi gak di pakai lagi? Waktu habis sholat?" tanya Indra cepat.
Hany pun menatap lengannya ynag tak ada gelang di san. Kenapa bisa teledor sekali.
"Argh ... Gimana dong. Na harus kembali ke saung untuk cari gelang itu," ucap Hany bingung.
Ia meletakkan begitu saja es krim itu dan cepat masuk ke dalam mobil di ikuti dengan Indra. Mobil itu melaju sangat kencang dan Hany nampak fokus sampai tak berkedip.
Jantung Hany berdegup keras dan kencang tak beraturan Ia takut sekali jika Hanafi marah. Gelang itu adalah glang mahar, bukan perkara harganya. Setidaknya saat ini Hany adalah istri SAH Hanafi dn Hany harus menghargai semua pemberian suaminya sebagai mahar. Dan itu harus betul -betul di jaga dengan baik. Bukan malah di abaikan dengan keteledoran.
"Sabar Na. Pasti ketemu," ucap Indra berusaha menenangkan.
Hany tak menjawab. Tubuhnya mulai brkeringat dingin. Ia takut gelang itu tak kembali. Lalu, ia harus beralasan apa pada Hanafi, suaminya.
Pikiran Hany semakin kacau sekali. Kini otaknya hanya tertuju pada gelang itu.
Indra pun hanya melirik ke arah Hany. Ia tahu betapa bingungnya Hany sat ini. Kenapa juga tadi ia tidak memberi tahu Hany agar di pakai lagi gelangnya. Mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Mobil sport sudah masuk halaman saung tempat Hany dan Indra makan tadi. tempat itu mulai penuh dan ramai karena memang sudah waktunya makan siang.
Hany berlari menuju meja kasir dan menanyakan barangnya yang tertinggal tadi di saung bagian tengah.
Kasir itu hanya menatap Hany dan menjawab.
"Tadi memang ada yang menemukannya, karyawan kami. Tapi, ada orang yang mengakuinya. Bahwa ia pembeli gelang itu. Makanya kami berikan," ucap kasir itu santai.
"Gelang itu punya Na," teriak Hany frustasi.
"Maaf ya Kak. Kamu sedang sibuk. Lihat antrian di belakang banyak. Mohon Kakak jangan menghalangi orang yang mau membayar tagihan pesanan mereka," ucap kasir itu pelan memberitahu.
hany pun mundur. Indra juga berusaha mencari karyawan yang tadi menemukan dn bertanya siapa yang mengakui bahwa gelang itu milik orang terseut. tapi, karyawan itu beralasan lupa.
"Sudahlah Ndra. Nanti biar Na yang bicara dengan Mas Afi. Na harus siap dengan konsekuensinya," ucap Hany lemas.
Tubuhnya seolah ta ada tenaga. Rasanya lemas dan lemah. Untuk melangkah saja rasnya bgitu bergetar.
"Sabar ya Na. Maafin aku yang juga gak mengingatkan kamu tadi," ucap Indra yang juga masih merasa bersalah.
"Iya gak apa -apa. Udahlah Ndra. Gak ada yang salah di sini. Na yang teledor. Berhenti menyalahkan diri kamu sendiri," ucap Hany pelan.
__ADS_1
Keduanya sudah berada di dalam mobil Hany mulai menjalankannnya santai. Tubuhnya bersandar di jok kursi itu sambil menyetir dengan satu tangan.