CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
OMELAN KAKEK BRAM


__ADS_3

"Enak, Na?" tanya Ustad Hanafi pelan sambil menyap nasi gorengnya dengan pelan.


Hany pun menatap Ustad Hanafi lalu memutar kedua bola matanya dnegan malas.


"Bukan enak, tapi Na, laper," cetus Hany dengan Asal.


Secepat kilat Hany pun menghabiskan nasi goreng pesanannya itu.


Baru juga tiga suap nasi goreng masuk ke mulut Ustad Hanafi, Na sudah menyapu bersih makanan sederhana itu masuk ke dalam perutnya tanpa bersisa.


Dengan sengaja Na berserdawa dengan sangat keras agar Ustad Hanafi itu ilfil terhadap Hany.


mendengar serdawa yang cukup keras, Hanafi menatap Hany lalu tersenyum lebar.


"Kalau bisa lebih keras lagi, pasti tenggorokanmu akan terasa lega, Na?" ucap Hanafi tanpa ekspresi.


Beginilah cara menasehati gadis muda yang labil, tidak perlu kekerasan, tidak perlu bentakan, cukup dnegan sindiran halus, namun tak terkesan menyindir.


Hany menatap lekat, ia hanya tertegun dengan jawaban Hanafi yang santai dan seolah Hany tidak melakukan kesalahan atau hal memalukan.


"Mas Hanafi gak malu?" tanya Hany sedikit rahu dengan menyeruput sisa minumannya hingga habis.


"Malu? Untuk apa? Serdwa itu hal ynag wajar, bukan? Tentu kamu juga berpikir dua kali kalau melakukan hal tadi di depan Aby dan Umi atau di depan Kake Bram dan Nenek Inggit?" ucap Hanafi yang begitu santai dan dingin.


"Hemm ...." jawab Hany seolah tak peduli.


Tapi, ada benarnya juga. Hany tidak akan melakukan hal bodoh dan konyol yang memalukan dirinya sendiri di depan orang yang lebih tua atau di depan orang yang penting.


Sejak tadi Hanafi memnag tidak menatap Hany. Hanafi mencoba menjaga pandangannya sampai esok pai. Ini sudah larut malam, takutnya akan ada setan yang membisikinya untuk membawa gadis labil ini.


"Ka-kamu sudah habis makannya? Cepat sekali?" tanya hanafi sedikit heran saat melihat piring di depan Hany sudah bersih tanpa ada sisa nasi satu biji pun.


Hany mengangguk dengan cuek.


"Na, bukan putri solo, yang makan harus pelan dan di kunyah seratus kali agar lembut selembut bubur baru bisa menelan. Kata Mama jadi perempuan itu harus cepat, secepat de flash<" cetusHany dengan asal. Lalu, terkekeh sendiri menyadari kekonyolannya yang luar biasa membuat orang kesal.


"Kalau mau pesan lagi tidak apa-apa?" tanya Hanafi dengan suara lembut.

__ADS_1


Hany menggelengkan kepalanya dengan cepat.


"Tidak. Na, mau pulang. Lelah banget, tapi ...." ucapan Hany terhenti, tiba-tiba saja Hany bergidik ngeri membayangkan Kakek Bram yang pasti akan murka.


Indra pasti sudah banyak cerita panjang lebar. Sekarang Hany harus mencari alsan yang tepat agar Kkaek Bram dengan mudah memaafkan Hany.


"Tapi apa?" tanya Hanafi pelan dan menyelesaikan makan malamnya.


"Tidak apa-apa. Gak usah kepo ya Pak Ustad, " ucap Hany sedikit ketus.


"Ohh .. Ya sudah. Kamu pulang sendiri berani kan? Mas mau langsung ke Pondok," ucap Hanafi sedikit mengancam.


Hany pun terbelalak dan megedar pandangannya. Malam ini sudah larut, bahkan sebentar lagi akan memmasuki dini hari. Sepi dan tidak ada kendaraan seperti angkutan, taksi online ata ojek, lalu hany harus pulang dengan cara bagaimana, kecuali menumpang dengan Ustad Hanafi.


"Mas Hanafi, beneran mau ninggalin Na sendiri di sini?" ucap Hany pelan. Tempat ini lebih menyeramkan di bandingkan amukan Kakek Bram yang sudah bisa di pastikan nanti.


"Lho itu kan terserah kamu, Na? Tugas Mas sudah selesai untuk membantu kamu keluar dari kantor polisi. Lalu, katanya lapar, di traktir makan malam. Terus katanya gak boleh kepo. Berrati tugasnya Mas selesai dong?" ucap Hanafi pura-pura serius sambil menhan tawanya.


"Ih ... Gak gitu juga dong. Katanya Na, calon istri, masa iya di tinggal di sini sendiri?" ucap Hany dengan suara lantang. Kata kata itu lolos begitu saja dari bibir Hany secara spontan dari hati.


Uhuk ... Hanafi spontan terbatuk saat mengahbiskan minumannya. Airnya pun menyembur sedikit ke meja hingga membuat Hany pun tertawa lucu.


"Coba ulangi kata kata tadi? Calon istri?" tanya Hanafi pura pura kaget.


Hany hanya mengangguk pelan. Malu juga rasanya mengakui bahwa ia adalah calon istri Ustad Hanafi. Perjodohan ini tetap harus berjalan kan? Walaupun salah satu pihak tidak menerimanya.


"Calon istri? Emang aneh ya?" tanya Hany ragu.


Ustad Hanafi menggelengkan kepalanya cepat.


"Tidak ada yang aneh, hanya saja kamu sudah sadar bisa berucap kata itu?" tanya Hanafi yang mulai ragu dan penasaran.


Perasaan Hany tidak salah makan atau minum. Kepalanya hanya terbentur dasboard mobil, itu juga tidak keras.


"Maksud Mas Hanafi, Na, tidak waras?" ucap Hany dnegan kedua mata melotot.


"Bukan itu. Na, gak salah makan kan? Atau tadi terbentur dasboard mobil melukai salah satu memori otak Na?" tanya Hanafi plan sambil memicikngkan kedua matanya.

__ADS_1


Hany pun memutar kedua bola matanya dengan malas.


"Yuk, Pulang, Na capek, Mas?" rengek Hany sedikit manja.


"Sudah siap dengar Kakek Bram marah?" tanya Hanafi pelan dengan nada menggoda.


"Mas Hanafi sedang menggoda, Na?" tanya Hany pelan dengan nada kesal.


"Mas hanya mengingatkan. Setelah ini kamu harus bertanggung jawab penuh dengan apa yang sudah kamu lakukan. Hanya kejujuran yang bisa membuat Kakek Bram memaafkan Na, tanpa ada maslaha baru, di bandingkan harsu berbohong atau mencari alasan lain. Paham?" tita h Hanafi kepada Hany yang semula sudah akan mencari alasn dan ebrbagai modus untuk ngeles dan menghindari amukan dari Kakek Bram.


Hany pun menunduk, mengangguk pasrah.


Kesalahannya begitu fatal dan tak termaafkan. Apalagi Hany sudah terlalu sering keluar masuk kantor polisi dengan permaslahan yang sama.


"Memang, besok kita menikah?" tanya Hany tiba-tiba kepada Hanafi yang sedang membuka dompetnya mengambil satu lembar uang merah untuk membayar dua piring nasi goreng yang sudah habis.


Kedua mata Hanafi pun menatap Hany yang terlihat sedih. Entah apa yang di pikirkan gadis ABG macam Hany.


"Jadi dong? Semua mahar pun sudah siap, sama persis dengan apa yang Na minta. Mas akan mengabulkan semuanya tanpa menghitung berapa banyak uang mahar yang harus Mas keluarkan untuk kamu. Dan besok adalah hari pernikahan kita," teg sHanafi kepada Hany.


Hany hanya mengangguk pasrah. Percuma mencari masalah yang Hany pikir Kakek Bram akan membatalkan pernikahannya itu karena malu. Tapi, ini semua tak berlaku pada Hanafi yang sudah teguh mencintai Hany dan tekad bulat menikahi gadis ABG labil itu.


"Bantu Na, mengahadapi Kakek Bram? Mau kan Mas?" tanya Hany lirih.


Tubuh Hany sudah lemas pikiran Hany pun lelah. Lebih baik berlindung di belakang Hanafi yang memnag bisa membantu dirinya untuk lepas dari masalah ini.


"Iya," jawab Hanafi singkat tanpa ekspresi. Hanafi pun berdiri dan membayar nasi goreng itu.


Hany ikut berdiri dan berjalan tepat di belakang Hanafi tanpa melihat ke depan, hanya menunduk dan melihat ke arah bawah.


"Sep. Ini uangnya," ucap Hanafi pelan sambil memberikan lembaran merah kepada Asep.


"Iya Pak Ustad. Meni gede pisan artosna? Can aya kembalianna Pak Ustad?" ucap Septian pelan.


"Ambil semua buat penglaris. Doain aja hubungan kita langgeng," ucap hanafi pelan sambil menggoda Hany yang ada di belakangnya.


Spontan Hany memukul pelan punggung Hanafi kesal.

__ADS_1


"Haturnuhun pak Ustad. Alhamdulillah. Pasti ku Asep doakeun. Geulis," ucap Septian dengan polos dan jujur.


__ADS_2