CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
HORMAT PADA TIANG BENDERA


__ADS_3

Di Kelas, Hany dan Indra malah sibuk membahas event nanti malam yang akan di adakan tepat jam sepuluh malam. Keduanya sudah mencari cara untuk kabur dari rumah terutama Hany yang sedang mencari cara untuk bisa keluar malam dari pondok pesantren itu.


"Memang kamu bisa keluar dari sana, Na?" tanya Indra yang merasa tak yakin.


"Hemm ... Itu urusan mudah dong. Kamu tunggu aku dari pintu keluar pondok pesantren. Sepertinya pintu itu ada di dekat ruang belajar santriwan," ucap Hany sambil mengingat.


"Oke. Terus? Pak Ustad gimana?" tanya Indra pelan setengah berbisik kepada Hany.


Senyum Hany langsung melebar dan begitu sumringah.


"Pak Ustad lagi ada kerjaan di luar kota. Pulangnya besok pagi, jadi aman, bro ..." jawab Hany tertawa bahagia.


"Owalah ... Pantes, sumringah," cicit Indra kesal.

__ADS_1


"Dih ... Kamu barisan menjadi teman aku atau pak Ustad sih?" tanya Hany ksal.


"Ya kamulah. Kita kan sahabatan sejak kecil, walaupun akhirnya kamu menikah duluan dengan lelaki yang sempurna. Aku ikhlas, Na," ucap Indra setengah hati.


Hany pun mencubit pinggang Indra dengan keras hingga lelaki itu mengeluarkan suara lengkingan yang cukup keras.


"Arghh ...." teriak Indra keras dan langsung menutup mulutnya saat guru yang sedang berbicara di depan menatap ke arah Indra dan Hany.


Indra dan Hany saling berpandangan. Hany langsung memegang buku paket yang ada di depannya. Sekilas ia membaca tentang Ki Hajar Dewantara yang di kenal sebagai Bapak Pendidikan Nasional.


Hany pun dengan mantap melangkah maju. Ia mulai menjelaskan tentang sosok Bapak Pendidikan Nasional itu yang memiliki nama asli Raden Mas Soewardi Soerjaningrat.


Dengan suara lantang dan seperti sudah hapal di luar kepala, hany pun mulai menjelaskan biografi Bapak Pendidikan Nasional itu. Dari lahir hingga menutup matanya. Semuaa perjuangannya yang kemudian harus di teruskan kepada kita sebagai generasi penerus bangsa untuk memajukan negara tercinta.

__ADS_1


Guru sejarah itu hanya melongo tak percaya. Begitu juga dengan teman -teman Hany yang tak percaya kalau Hany begitu fasih menjelaskan. Dan smeuanya itu benar serta tepat sesuai dengan yang tercatat di buku paketnya.


Beberapa temannya memberikan apresiasi berupa tepuk tangan. Dengan begitu penjelasan materi tentang sosok Ki Hajar Dewantara selesai sampi di sini.


Kini giliran Indra yang maju dengan ragu. Ia tak tahu harus menjelaskan apa. Ia tak tahu apapun tentang materi sejarah. Indra hanya pintar di sains, seperti hitungan, matematika, fisika dan kimia. Slebihnya untuk soal hapalan, enol besar.


"Ayo cepat. Kamu mau jelaskan apa?" tanya guru sejarah itu ketus.


"Saya tidak tahu, Bu. Saya gak paham dengan materi sejarah," ucap Indra dengan jujur.


"Sudah ... Kamu ke lapangan sana. Berdiri dan hormat di sana. Dan kamu? Sakinah? Kamu boleh duduk ke kursi kamu," titah guru sejarah itu keras.


Indra dan Hany saling bertatapan. hany melengos kesal dan duduk di kursinya. Sedangkan Indra keluar dari kelas dan berjalan menuju lapangan besar untuk hormat dnegan tiang bendera hingga waktu istirahat berbunyi.

__ADS_1


__ADS_2