CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
TARUHAN RENO


__ADS_3

Hany sudah berhasil keluar dari rumah besar itu tepat jam delapan malam. Sesuai dengan perjanjian dengan Mbok Yum, kamar Hany tidak di kunci. Hany yang mengganti dirinya dengan dua guling yang disejajarkan dan ditutupi oleh selimut tebal seolah Hany yang sedang tidur terlelap.


Hany keluar melalui pintu dapur belakang setelah tadi selesai makan malam bersama dengan Kakek Bram dan Nenek Inggit. Hany berpamitan untuk lebih dulu tidur dengan alasan kedua kakinya masih terasa nyeri dan linu bila masih dipakai berjalan.


Hany sudah berada di kamarnya dan telah bersiap untuk pergi malam ini bersama Indra ke tpat arena balapan liar yang jaraknya agak jauh dari rumah besar Kakek Bram.


Sewprti biasa Hany memakai pakaian kebangsaan, yaitu dengan memakai celana pendek gemes berbahan jeans dan atasan tanktop yang ditutup oleh jaket kulit yang di tutup rapat oleh kancing resleting.


Rambutnya dicepol ke atas dan wajahnya dibiarkan alami tanpa polesan sedikitpun.


Hany sudah berlari ke arah depan rumah menuju halaman dan jalan raya tempat Indra berada untuk menunggu Hany.


Tugas Mbok Yum menemani Kakek Bram dan Nenek Inggit menonton televisi agar melupakan Sakinah, cucu kesayangannya itu.


"Sakinah sudah tertidur, Yum?" tanya Nenek Inggit pelan sambil meletakkan gelas kosong di meja ruang tengah.


Mbok Yum nampak terkejut melihat Nenek Inggit yang sudah bersiap beranjak berdiri dan berjalan menuju anak tangga untuk ke lantai dua.


Seperti biasa bila malam sudah tiba, Nenek Inggit akan mengecek kamar tidur Hany, cuvu kesayangannya walaupun hanya sekedar memberikan nasihat atau mencium kening Hany dengan lembut.


Posisi Nenek Inggit adalah orang tua sekaligus penggantian Mama Amalia selama Hany berada di rumah ini. Sebisa mungkin Hany selalu dibuat bahagia dan. ditemani agar tidak terkesan seperti anak yang di buang atau dijauhi dari keluarga dan orang tuanya.


"Nenek Inggit mau kemana?" tanya Mbok Yum dengan suara pelan, namun terdengar kecemasan dari bibirnya.


Nenek Inggit menatap Mbok Yum dengan lekat pada dua bola katanya. Tidak seperti biasanya, Mbok Yum menanyakan kemana Nenek Inggit akan pergi.


"Tumben bertanya begitu kamu Yum?" tanya Nenek Inggit pelan.


Mbok Yum yang terlihat cemas dan salah tingkah itu hanya tersenyum menatap Nenek Inggit.


"Tidak apa-apa Nenek, tapi sepertinya Non Hany sudah tidur sejak selesai makan malam tadi. Kakinya masih terasa sakit dan linu," ucap Mbok Yum pelan beralasan.


"Ya sudah kalau tidak apa-apa, kamu geser dulu, Nenek mau ke aras lihat Sakinah tertidur," ucap Nenk Inggit pelan.


"Tapi Nek, kamarnya di kunci sepertinya, tadi mau mengantarkan susu putih juga tidak jadi," ucap Mbok Yum pelan.


Nenek Inggit menatap Mbok Yum dan menyimak ucapan Mbok Yum. Hati Nenek Inggit terasa ada yang aneh dengan penjelasan Mbok Yum.


"Kamu yakin kamarnya dikunci? Kan ada kunci serep. Nenek, amlah penasaran, mau naik dulu ah," ucap Nenek Inggit pelan sambil berlalu berjalan menaiki anak tangga itu.


Mbok Yum berlari mengikuti Nenek Inggit berjalan di belakangnya.


Nenek Inggit berhenti berjalan di tengah anak tangga dan menoleh ke arah belakang menatap ke arah Mbok Yum.


"Kamu mau apa berjalan dibelakang Nenek, Yum?" tanya Nenek Inggit dengan suara keras.


Mbok Yum hanya tertunduk lesu menatap Nenek Inggit yang sepertinya sedang murka.


"Kamu ini kenapa Yum? Seperti ada yang ditutupi," ucap Nenek Inggit dengan suara agak kerasa dan nampak sekali kekecewaannya.


"Tidak ada apa-apa Nek," jawab Mbok Yum dengan suara yang amat lirih.


"Cih, kamu Yum, awas saja jika ada yang kamu sembunyikan dari Nenek, kamu akan tanggung akibatnya," ucap Nenek Inggit mengancam dengan suara tegas dan lantang.


Nenek Inggit naik ke atas dan sudah berdiri di depan kamar Hany bersiap untuk membuka kamar itu dan melihat apa yang sedang dilakukan oelh gadis, cucu kesayangan Nenek Inggit.

__ADS_1


Indra sudah menunggu di depan pagar rumahmu besar Kakek Bram dan Nnek Inggit dengan motor camelnya. Sudah setengah jam menunggu disana, namun Hany tidak juga kunjung datang dan berangkat ke tempat tujuan.


Pikiran Indra mulai kalut dan kacau, jika memang Hany tidak datang dan membatalkan niatnya untuk pergi dan mengganti dirinya jadi joki dalam taruhan itu, mau tidak mau infra yang harus menyelesaikan sendiir taruhan itu dengan turun ke arena untuk ikut balapan atas namanya sendiri.


"Kang Indra sudah lama? Melamun aja?" ucap Hany pelan lalu memakai helm full facenya dengan sangat rapi.


Indra menoleh ke arah Hany lalu tersenyum lebar. Indra menatap Hany dari atas hingga ke bawah karena pakaian yang dikenakan Hany yang begitu simple dan terbuka.


"Alhamdulillah, akhirnya datang juga yang ditunggu," jawab Indra dengan suara pelan sambil mengaminkan doanya sendiri.


"Kenapa Kang Indra?" tanya Hany pelan.


"Tidak ada apa-apa, yuk kita jalan sekarang," ucap Indra pelan sambil menggelengkan kepalanya pelan lalu menyalakan mesin motornya.


Hany hanya mengangguk pelan dan langsung naik ke atas jok motor untuk membonceng di belakang Indra.


Indra langsung melajukan motor camelnya dengan kecepatan sedang karena hari sudah mulai malam, acara balap liar itu juga akan segera dimulai.


"Kenapa pakai pakaian seperti itu?" tanya Indra pelan sambil menoleh sekilas ke arah samping menatap Hany.


Kedua tangan Hany melingkar di perut Indra dengan berpegangan sangat erat.


"Memang salah? atau ada seragam khusus yang harus dipakai untuk seorang joki?" tanya Hany pelan kepada Indra saat motor itu masih melaju dengan sangat kencang.


Suara Hany yang terdengar pelan karena suara yang terbawa oleh angin malam saat itu.


"Tidak ada Na, tapi kamu itu terlalu terbuka dalam berpakaian, apalagi kamu kan mau menikah Na?" ucap Indra pelan menasehati.


"Na, harus pulang dan ganti pakaian?" tanya Hany dengan suara pelan.


"Tidak usah, ini sudah mepet waktunya, nanti kita terlambat," ucap Indra dengan suara yang agak tegas.


Hany dan Indra masih dalam perjalanan membelah jalan raya menuju arena balap itu. Suara dering ponsel yang ada di jaket Hany pun tidak terdengar karena suara angin yang terdengar lebih kencang di tengah Hany. Getaran dari ponsel itu juga dimatikan, hingga tidak terasa bergetar saat ada notifikasi telepon ataupun chat yang masuk ke dalam ponsel itu.


Setengah jam kemudian, Indra dan Hany sampai di arena balap itu. Ada empat joki yang akan bertanding malam ini, keempat joki itu, hanya Hany yang berjenis kelamin perempuan.


Hany sudah turun dari motor camel dan mengedarkan pandangannya ke seluruh arena balapan liar itu. Sudah banyak sekali orang yang datang, baik perempuan atau laki-laki semuanya ada.


Suara riuhan dan teriakan dari para penonton yang akan menonton dan menjadi saksi kemenangan acara balapan liar ini. Hany berjalan ke depan arena jalan yang sudah ditentukan untuk dimulai sebagai start.


"Indra!!" panggil seorang laki-laki dari arah samping.


"Haii, apa kabar Reno?" tanya Indra pelan.


Reno menatap ke arah Indra dan Hany yang ada di depannya.


"Baik Ndra, siapa dia? Baru lihat gw, gadis unik, lihat cara berpakaiannya," ucap Reno pelan seperti mengabaikan Hany.


"Dia Sakinah, joki motor camel," ucap Indra dengan tegas memperkenalkan.


Reno melotot dengan rasa tidak percaya, laku menatap Hany dari ujung bawah hingga ke atas. Wajahnya memang masih tertutup helm full facenya yang masih dikenakan oleh Hany dan tidak dilepas.


"Loe gak salah Ndra, model beginian mah, mending jadi pemandu karaoke, bukan joki," ucap Reno pelan dengan ketus.


"Loe lihat aja, gimana performancenya nanti," ucap Indra pelan setengah berbisik.

__ADS_1


"Kita taruhan, loe siap gak?" tanya Reno pelan kepada Indra.


Indra menganggukkan kepalanya dengan pelan dan mantap.


"Oke siap, gw gak takut. Loe ikut turun apa gak?" tanya Indra dengan pelan.


"Gw ikut turun, empat orang itu termasuk gw," ucap Reno dengan lantang dan terkesan sombong.


"Ok deal. Camel taruhannya," ucap Indra dengan mantap.


"Deal, gw naksir sama motor camel loe, Ndra," ucap Reno dengan antusias.


"Loe taruhannya apa?" tanya Indra pelan kepada Reno.


"Lihat motor gw itu," ucap Reno pelan sambil menunjuk ke arah motor besarnya yang berwarna merah menyala dan terlihat sangat keren.


"Itu baru? Gw baru lihat?" tanya Indra pelan kepada Reno.


"Iya baru seminggu dan udah gw korek, buat balapan malam ini," ucap Reno dengan semangat.


Indra mengangguk pelan dan tersenyum lebar.


"Sakinah, sini sebentar," pangi Indra dengan suara agak keras kepada Hany.


Hany menoleh ke arah Indra dan tersenyum manis lalu berbalik badan dan menghampiri Indra.


"Ada apa Kang Indra?" tanya Hany pelan dan menatap lekat pada wajah Indra.


"Kenalkan ini Reno, Reno ini Sakinah," ucap Indra pelan saling mengenalkan.


"Sakinah" ucap Hany pelan kepada Reno.


"Reno," ucap Reno pelan kepada Hany.


"Reno, mau mengajak kita bertaruh. Lihat motor besar berwarna merah itu, keluaran tetbaru, kamu mau Na?" tanya Indra pelan menatap Hany.


Hany menganggukkan kepalanya pelan.


"Boleh, Na gak takut, loe yang bakal jadi jokinya Reno?" tanya Hany pelan menatap Reno.


"Iya gw jokinya, loe takut Na? Gw salah satu peserta dari keempat joki itu," ucap Reno dengan mantap dan percaya diri.


"Oke," ucap Hany pelan sambil mencari posisi start.


Semua peserta joki sudah berada di posisi masing-masing dengan motor yang dipakainya masing-masing pula.


Panitia acara menjelaskan beberapa tata acara dan tata aturan serta hadiah apa yang akan mereka dapat. Hal apa yang bisa menggugurkan mereka dan mengurangi nilai.


Suara riang gembira dengan riuh tepuk tangan dari para penonton sebagai pendukung joki kesayangan mereka.


Indra berjalan menghampiri Hany yang sudah mengambil posisi start.


"Santai aja, jangan dibawa beban ya, kalah menang itu biasa," ucap Indra dengan suara pelan.


Acata balapan itu segera dimulai, semua peserta sudah siap dan sudah panas untuk segera melanjutkan motor balap mereka beradu di jalanan itu.

__ADS_1


__ADS_2