
Hanafi mengulurkan tangannya untuk membantu Hany berdiri. tapi gadis bar -bar itu memang keras kepala dan memiliki gengsi yang tinggi.
"Na masih bisa sendiri. Jadi gak perlu di tolong. Jangan buang -buang waktu nanti ketinggalan sholatnya," ucap Hany asal.
"Mana ada sholat secara mandiri ketinggalan. Ini di tolak tangannya? Gak mau di bantu beneran?" tanya Hanafi mengulang kembali pertanyaannya.
Hany menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Gak perlu Pak Ustad. Bisa kok sendiri," jawab Hany pelan.
Ia berusaha menggapai wastafel dan berdiri dengan berpegangan pada keran wastafel. Tapi sayangnya Hany tak mampu. Kakinya sepertinya terkilir dan tak bisa menapak dengan sempurna.
"Argh ...." teriak Hany dengan suara keras merasakan linu di pergelangan kakinya.
Hanafi pun langsung memegang Hany dan mengangkat gadis itu kembali ke kamar. Hany terkejut dn hanya bisa diam. Celaananya sudah basah karena genangan air di lantai.
Perlahan Hany di letakkan di kasur empuk.
"Celanaku basah," jawab hany malu.
Hanafi tak menjawab. Ia langsung membuka kaos kaki Hany dan meletakkan di cucian. Lalu mengambilkan baju sebagai pakaian ganti Hany.
__ADS_1
"Mau ganti sendiri atau mau di gantikan? takutnya kamu masuk angin. Setelah itu biar aku pijat kakimu," titah Hanafi pelan.
Hany menerima satu paper bag dari Hanafi. Ia membuka paper bag itu dan berteriak saat melihat pakaian yang haus di kenakannya.
"Argh ... Na harus pakai ini?" tanya Hany keras.
"Ya ... gak juga. Kalau gak mau juga gak apa -apa. Paling kamu masuk angin. Kalau mau ganti lebih baik," ucap Hanafi pelan dan tertahan. Seperti menghentikan ucapannya sebelum lolos dari bibirnya.
"Lebih baik? Ini juga bisa bikin Na masuk angin. Lihat ini baju jaring ikan, cocok bukna nelayan. Bukan buat Na," ucap Hany ketus.
"Ya lebih baik. Ada tontonan gratis," jawab Hnafi dengan asal dan tertawa.
BUGH ...
"Dasar ustad mesum," teriak Hany dengan suara keras.
Hanafi pun melotot ke arah Hany. Ia sedang mengambil blsem untuk memijat kaki istrinya.
"Apa?" tanya Hanafi pura -pura tak terima.
"Ustad mesum. Coba mana ada ustad nyuruh peremuan pakai baju beginian," ucap Hany ketus.
__ADS_1
'Anak perempuan? Kamu itu istri saya. Lupa atau menolak untuk mengingat?" tanya Hanafi menjelaskan.
Skak mat ...
Hany tak bisa menjawab.
"Saya mau sholat shubuh dulu dan malas berdebat sama gadis bar -bara yang gak pernah mau kalah," ucap Hanafi pelan.
Setidaknya perlhan Hanafi ingin merubah sikap dan sifat Hany yang galak menjadi lebih lembut.
Hanafi pun langsung melaksanakan sholat shubuh. Sedangkan Hany hanay terdiam menatap pakaian super tipis dan berlubang. Tapi kalai tidak ganti ini celananya sudah basah dan membuat bokongnya tak nyaman. Kasurnya pun ikut basah.
"Tapi ... Gimana mau ganti," ucap Hany bingung.
Pelan Hany menutup tubuhnya dengan selimut dan melepaskan celana piyama dan ****** ********. Lalu ia melepas piyamannya yang sebenarnya hanya basah sedikit tapi tetap saja membuat tak nyaman.
Baju tipis itu ia kenakan dan tak berani memunculkan wajahnya dari selimut.
"Sudah selesai?" tanya Hanafi yang terlihat mendekat. Jelas bayangan itu menunduk untuk mengambil pakaian kotornya yang sengaja di geletakkan di lantai.
Deg ...
__ADS_1
Hany cemas. Baju ini benar -benar membuatnya risih. Apalagi ia tak memakai pakaian dalam.
"Na ... Masih pakai baju? Bisa pakianya kan? Jangan salah masuk ya," ucapHanafi terkekeh sendiri.