
Hany sudah berada di kamarnya. Ia sudah mengganti pakaiannya dengan daster pendek tanpa lengan.
Nenek Inggit berulang kali bicara dan menasehati, namun hany terlihat sangat cuek dan tak peduli.
Bukan tak peduli. Tapi tubuhnya sudah lelah dan kedua matanya sudah tak bisa di ajak kompromi lagi. rasanya ingin memejamkan kedua matanya setelah tubuhnya merasa nyaman di kasur.
Hanafi dan Kakek Bram masih berbincang serius di ruang tengah hingga kata sepakat pun di sepakati oleh keduanya.
"Jadi pagi ini akad nikahnya? Memang semua sudah di persiapkan?" tanya Kakek Bram yag agak terkejut dengan permintaan Hanafi.
"Kakek tenang saja. Semuanya sudah Afi siapkan. Pelaksanaan akad nikah di masjid dekat hotel Buana. Lalu, resepsi pernikahannnya akan di laksanakan di hotel Buana sekalian bulan madu. Jadi, Kakek Bram, Nenek Inggit, Sakinah, dan smeuanya hanya tinggal datang dan semua baju serta riasan sudah di persiapkan," ucap Hanafi tegas.
Kakek Bram menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia berujar kalau ia tak salah pilih calon suami untuk cucu kesayangannya itu.
__ADS_1
"Apa kau serius dengan perjodohan ini? Kau tidak menyesal? Kau tahu cucu kesayangan ku itu unik sekali," ucap Kakek Bram tertawa lepas.
"Insha allah saya sudah mencintai Sakinah. Sebenarnya sejak Sakinah kecil, saya sudah menyukainya, hanya saja, itu percintaan anak -anak, tapi lama kelamaan memang hanya Sakinah, perempuan yang selalu hadir dalam mimpi saya," ucap Hanafi pelan dan jujur.
Pagi sudah menjelang. Hanafi pamit pulang untuk persiapan akad nikah. Nenek Inggit dan Mbok Yum sudah turun sejak tadi dan memberitahukan bahwa Sakinah sudah tertidur pulas.
Pagi itu, suasan rumah begitu berisik. Semua orang sudah persiapan menuju hotel untuk di rias. Karena hri ini adalah hari bersejarah bagi Hany Sakinah.
"Non ... Nona Muda ... Bangun," panggil Mbok Yum sambil menggoyangkan tubuh hany pelan.
"Non ... Kita harus ke hotel Buana sekarang. Sudah di tunggu," ucap Mbok Yum dengan cepat.
Suara itu cukup mengejutkan Hany. Antara pikirannya dan dan nyawanya belum kumpul dan menyatu tapi setengah sadar ia bisa mencerna dengan baik pekataan Mbok Yum. Dengan berat kedua matanya perlahan membuka dan menatap lekat ke arah Mbok Yum yang sudah rapi dan memang akan pergi.
__ADS_1
"Mau kemana?" tanya Hany pelan. Ia berusaha mengumpulkan tenaganya dan duduk bersandar di sandaran ranjang tidurnya.
"Ke hotel Buana," ucap Mbok Yum singkat.
"Hotel Buana? Mau ngapain?" tanya Hany pelan setengah sadar.
"Menikah," jawab Mbok Yum singkat tanpa penjelasan.
"Menikah? Siapa yang mau menikah?" tanya Hany yang masih santai.
Ia membuka selimutnya dan mengambil susu putih di nakas samping tempat tidur itu dan meminumnya dengan cepat. Rasanya tenggorokan hany kering sekali jadi perlu air yang manis untuk mengaliri tenggorokan itu.
"Nona Hany yang mau nikah," jawab Mbok Yum singkat.
__ADS_1
Uhuk ... Air susu itu muncrat kemana -mana saat sudah di minum Hany. Ia tersedak sampai terbatuk karena kaget luar biasa. ia benar -benar lupa pada janjinya dnegan Hanafi. Jika Kakek Brm tidak marah, maka pernikahan bisa di ajukan dan ...
"Hah? Apa? Menikah? Astagfirullah ... Na belum siap," ucap Hany yang panik. Ia meletakkan gelas susu itu dan mengelap tumpahan susu itu menggunakan selimutnya dengan asal.