
Hany sudah tertidur pulas dan terlihat sangat nyenyak sekali. Untuk membangunkan gadis cantik itu sangat kasihan rasanya, raut wajahnya terlihat sangat lelah dan letih. Tapi, di depan jalan sudah ada tempat makan favorit Ustad Hanafi jika pulang terlalu malam, disanalah tempat makan yang paling enak, aman dan nyaman. Menu makanannya juga sangat enak dan nikmat, kadang buat orang-orang yang menyantap makanan itu ingin menambah kembali.
Satu kucing kecil lewat begitu saja di jalan sepi itu membuat Ustad Hanafi kaget dan langsung menginjak rem dengan sangat kuat agar mobil itu bisa langsung berhenti tepat di depan kucing itu tanpa harus menabraknya.
Bruk ...
Tubuh Hany terhuyung ke depan hingga menubruk dashboard didepannya saat tertidur pulas.
"Awww ... Sakit tahu?!" teriak Hany dengan rasa kesal. Hany mengusap pelan keningnya yang mencium dashboard mobil.
Ustad Hanafi hanya terkekeh pelan, melihat gadis uniknya itu terkejut dan menubruk dasboard mobil.
Hany menatap tajam ke arah Ustad Hanafi dan tersenyum kecut, bibirnya mengatup rapat dan mengerucut ke depan.
"Senyam senyum gak jelas! Ini tuh sakit, lagian kenapa sih? Ngelamun? Apa ngantuk?" tanya Hany dengan suara keras.
"Maafkan calon Suamimu ini, calon istriku yang galak, tadi ada kucing lewat dan Mas kaget," ucap Ustad Hanafi pelan sambil tersenyum.
"Gak butuh pembelaan, ini jidat urusannya gimana? Benjol nih," ucap Hany dengan kesal.
"Nanti Mas obatin, lagi pula besok kita sudah resmi dan SAH jadi sudah boleh bersentuhan," ucal Ustad Hanafi pelan.
"Apa?! Resmi? SAH? Apa maksudnya?" tanya Hany dengan suara keras yang terdengar sangat cempreng.
"Ya, gak usah kaget begitu? Kan cuma nikah, yang ijab kabul juga Mas," ucap Ustad Hanafi pelan sambil fokus kembali ke jalan.
__ADS_1
"Nikah!!" teriak Hany semakin histeris.
"Hey, sudah diamlah, kenapa harus berteriak seperti itu?" tanya Ustad Hanafi pelan.
Mobil sportnya sudah menepi dan berhenti di pinggir jalan. Tepat disampingnya ada penjual nasi goreng dengan duduk lesehan menghadap jalan.
Ustad Hanafi dan Hany pun turun dari mobil.dan berjalan menuju tempat lesehan nasi goreng itu.
"Assalamu'alaikum ... Pak Ustad, apa kabar?" tanya penjual nasi goreng itu menyapa Ustad Hanafi pelan.
"Waalaikumsalam ... Sep, Alhamdulillah sehat ini, kamu gimana?" tanya Ustad Hanafi kembali kepada Septian.
"Alhamdulillah sehat juga Pak Ustad. Mau pesan apa?" tanya Septian pelan kepada Ustad Hanafi pelan.
"Nasi goreng spesial, sedang saja Jang terlalu pedas. Punya anak telurnya setengah matang," Ical Ustad Hanafi memesan makanan.
Baru saja masuk ke dalam tenda penjual nasi goreng, Septian memanggil nama Ustad Hanafi pelan.
"Pak Ustad, itu cewek boleh juga, kenalin donk," ucap Septian pelan sambil terkekeh pelan.
Ustad Hanafi menatap ke arah Septian David menatap kedua mata itu dengan tajam. Ustad Hanafi paling tidak suka, apa yang akan menjadi miliknya harus dibagi dengan yang lain.
"Apa yang kamu sukai dari gadis unik itu?" tanya Ustad Hanafi pelan sambil menatap gadisnya itu meletakkan kepalanya di meja.
Mau dalam posiis apapun, Hany selalu terlihat cantik dan mempesona. Itu adalah daya tarik Hany bagi kebanyakan laki-laki hidung belang dan playboy yang menyukainya.
__ADS_1
Septian menoleh ke arah Hany yang sedang tertidur dan memejamkan kedua matanya.
"Gadis itu cantik dan seksi, dan Sep yakin, gadis itu bukan tipe Pak Ustad Hanafi kan?" ucap Septian pelan sambil mengaduk-aduk nasi gorengnya di dalam wajan.
Ustad Hanafi hanya tersenyum kecut lalu berbisik pelan.
"Gadis cantik itu akan menjadi istriku besok pagi," ucap Ustad Hanafi dengan suara pelan dan tegas. Menegaskan bahwa Hany adalah miliknya.
Septian hanya terdiam dan tidak menjawab, mencerna jawaban dari Ustad Hanafi.
"Beneran calon istri Pak Ustad? Duh, masa iya, bukannya kalau Ustad itu pasti suka yang tertutup auratnya, terlihat sholehah, pakai gamis, rajin baca Al-Quran, tidak kelayapan tiap malam kayak begini," ucap Septian pelan memberi saran.
Ustad Hanafi hanya mendengarkan celotehan Septian itu dengan baik dan tersenyum.
"Itu kan kebanyakan Ustad, tapi ana mau cari yang bisa dan mau diajak lebih baik lagi, seperti gadis unik itu," ucap Ustad Hanafi menjelaskan dengan pelan.
Ustad Hanafi pun meninggalkan Septian yang masih ternganga dengan ucapan Ustad Hanafi. Septian melanjutkan membuat pesanan nasi goreng Ustad Hanafi, dengan perasaan sedikit kecewa. Padahal Septian sudah jatuh hati pada pandangan pertama saat melihat Hany.
Nasi goreng spesial itu sudah matang dan sudah diantarkan kepada pemesan. Ustad Hanafi masih sibuk dengan ponselnya dan membiarkan Hany tetap nyenyak dalam tidurnya di meja kecil itu.
"Ini Pak Ustad nasi gorengnya. Maafkan ucapan Sep, masalah tadi," ucap Septian pelan lalu beranjak dari tempat itu dan duduk di kursi lalstik menunggu pemesan datang kembali. Sesekali wajahnya menoleh ke arah Hany yang memang sangat cantik itu.
"Sayang, bangun ini makanannya sendiri sudah datang," panggil Ustad Hanafi pelan sambil menusuk-nusuk tangan Hany dengan menggunakan garpu.
Hany mengerjapkan kedua matanya dan membuka bola matanya perlahan. Tatapannya langsung tertuju pada Ustad Hanafi yang ada di hadapannya.
__ADS_1
Aroma wangi nasi goreng itu sudah membuat cacing yang ada di dalam perutnya semakin meronta ingin diberikan sari makanan secepatnya.
Hany langsung menegakkan duduknya dan makan nasi goreng yang ada di depannya.