
Hany masih berusaha membuka matanya dan tetap memonton TV, walaupun sesekali ia mulai memejamkan kedua matanya sekilas karena rasa kantuk yang tak bisa di kendalikan.
Sesekali kedua mata Hany tertuju ke arah Hanafi yang sepertinya sudah pulas tertidur dengan selimut tebal menggulung tubuh polosnya.
Hany pun mulai berani selonjoran di sofa dan menghadap ke arah samping sambil menonton TV.
Hingga pagi pun menjelang, suara adzan shubuh menggema di seluruh ruangan kamar hotel itu dari ponsel milik Hanafi. Hanafi pun membuka matanya lalu bergegas bangun untuk berwudhu. Ia melihat sang istri yang sepertinya baru saja tertidur. Tadi Hanafi sempat melihat jam, tepat pukul dua pagi Hany masih terjaga.
"Na ... Sayang ... Bangun, sayang ..." panggil Hanafi sambil menepuk pipi Hany dengan sangat lembut.
"Eungh ..." Hany hanya meleguh pelan. sambil membalikkan tubuhnya seratus delapan puluh derajat.
"Na ... Bangun dulu sayang. Kita shubuh dulu berjamaah, nanti lanjutin tidurnya," ucap Hanafi pelan.
__ADS_1
Hany menelentangkan tubuhnya dan membuka kedua matanya pelan. Obyek pertama yang ia lihat adalah Hanafi, suaminya.
"Arghhh ...." teriak Hany dengan sangat keras. Hany langsung terbangun dan duduk seketika melihat Hanafi di sampingnya dan masih polos sama seperti tadi malam.
"Na ... Kamu kenapa? MImpi buruk?" tanya Hanafi pelan.
"Pergi Pak Ustad. Jangan seperti ini, Na belum siap," ucap Hany lirih. Hany memegang piyamanya dengan erat. Hany benar -benar sangat takut sekali.
Hanafi menatap Hany dengan lekat.
"Hah? Jangan -jangan? Apa yang sudah Pak Ustad lakukan pada saya?" tanya Hany ketus.
"Apa? Gak ada yang saya lakukan? Saya saja baru bangun." jawab Hanafi pelan menjelaskan.
__ADS_1
Hanafi pun berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Hany hanya menatap lelaki itu dengan bantal sofa yang di tegakkan untuk menutupi separuh wajahnya. Ia memeriksa pakaiannya yang masih rapat tertutup dengan kancing yang terkunci. Semuanya masih lengkap dan tidak ada tanda -tanda ada pemaksaan sewaktu ia tidak sadar tadi.
Hany mencoba berdiri dan berjalan bolak -balik untuk merasakan ada yang aneh atau tidak. Kata Mbok Yum, malam pertama itu bisa membuatnya tidak dapat berjalan. Tapi kali ini rasanya biasa saja. "Mungkin memang gak terjadi apa -apa. Kalau iya seharusnya aku juga merasakan aneh," ucap Hany lirih.
"Kamu ngapain jalan mondar -mandir gitu?" tanya Hanafi mengernyitkan dahinya. Masih shubuh sudah di buat bingung sama kelakukan konyol istri labilnya.
'Ekhemmm ... Gak apa -apa. Cuma latihan jalan, buat olah raga, biar gak lemes," ucap Hany sambil meringis bingung. HAny pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan ... BRUK ...
"Argh ...." suara teriakan itu begitu sangat keras.
Hanafi yang baru saja mau menggelar sajadah pun langsung membuka pintu kamarmandi yang tidak terkunci itu. Hany sudah terduduk di lantai dan meringis menahan rasa sakit di bagian bokongnya yang tercium lantai Tak hanya itu saja, Hanafi yang masuk ke dalam kamar mandi untuk membantunya pun membuat Hany semakin malu. Ia terjatuh karena kekonyolannya sendiri. Gimana ia tidak terpeleset dan jatuh, kalau kaos kaki tidur itu masih melekat di kakinya.
__ADS_1
Hanafi hanya tersenyum menahan tawa. Tapi tak mungkin ia lakukan.