
Sudah pukul tujuh malam. Hujan masih deras dan petir masih terdengar beberapa kali walaupun tidak se -kencang tadi. Kilatan cayaha di langit pun berkurang. Desir angin kencang yang sejak tdi berhembus dan menggoyangkan smeua benda yang bisa bergorak hingga menimbulkan bunyi -bunyian yang membuat merinding mendengarnya.
Hanafi pun sampai melakukan sholat maghrib di atas kasur.
Ya, Hanafi tadi mengangkat Hany untuk pindah ke kasur. Setidaknya kalau di kasur Hany bjsa sekalian istirahat dan tubuhnya bisa di bungkus dengan selimut tebal.
Listrik masih padam. Hany masih memeluk Hanafi dan memgang erat lelaki tampan itu.
Kluruk ...
Suara perut yang tiba -tiba berbunyi keras terdengar nyaring dalam suasana hening seperti saat ini.
"Kamu lapar Na?" tanya Hanafi lembut.
Hany pun mengangguk kecil di dada Hanafi.
"Mau di ambilkan makanan?" tanya hanafi pelan.
"Jangan. Tetap di sini," ucap Hany lirih.
Hanafi mengulum senyum. Kalau saja setiap malam listrik padam seperti ini. Tentu, Hanafi sangat bahagia sekali bisa memeluk istri bar -barnya ini.
"Oke. Tetap di sini. Mas akan tetap di sini memeluk kamu setiap hari seperti ini. Na ... Mas bolehminta seauatu?" tanya Hanafi pelan.
"Apa?" tanya Hany pelan.
__ADS_1
"Kita kan sudah menikah," ucap Hanafi lembut.
"Hemm ... Terus," tanya Hany pelan.
"Kalau Na ke Mas, perasaan Na gimana?" tanya Hanafi pelan.
Deg ...
Deg ...
Deg ...
Hanya membuka matanya lebar menatao ke depan dada Hanafi yang semuanya terkihat sangat gelap gulita. Perasaannya saat ini? Entah ...
"Na ... Kamu dengar kan pertanyaan Mas?" tanya Hanafi pelan.
Terasa tertikam juga rasanya mendengar pengakuan Hany yang menjawab singkat.
"Hanya kagum?" tanya Hanafi pelan. Dalam hatinya harus bisa menaklukkan gadisnya agar bisa jatuh cinta pada dirinya.
"Ya hanya kagum. Cinta kan gak bisa di paksakan. Mungkin Na terlalu banyak teman lelaki jadi gak bisa merasakan suka," ucap Hany jujur.
Terdengar hembusan napas kasar dari indera penciuman Hanafi.
Hany mendongak menatap wajah Hanafi yang sedikit di atasnya. Tak sengaja bibirnya mencium leher Hanafi hingga membuat lelaki itu kaget.
__ADS_1
"Na ... Jangan membangunkan singa yangvsedang tertidur," ucap Hanafi menahan sesak dari bawah. Maklum lelaki kalau sudah tersentuh di bagian sensitifnya maka cepat sekali naik birahinya dengan perubahan di beberaoa bagian tubuhnya.
"Arghh ... Maaf. Na, gak sengaja," ucap Hany pelan.
Hembusan napas Hanafi mulai terdengar berat dan memburu.
Hanafi memilih diam dan tak bicara.
"Mas ...." panggil Hany pelan.
"Hemmm ...." jawab Hanafi singkat tanla menatap Hany seeprti biasanya.
"Kalau Mas mau, Na siap kok," ucap Hany lirih.
"Hemmm ...." jawab Hanafi hanya berdehem.
Tidak ada pergerakan. Hanafi berusaha memejamkan kedua matanya. Cinta memang tak bisa di paksakan. Apalagi soal bercinta. Hanafi tak mau membuat Hany tersudut dan melakukan serta menjalani pernikahan ini dengan terpaksa.
Hanafi mau mencoba tidak mengekang Hany dan membebaskan setiap hal yang ingin di lakukan asal semuanya itu positif. Pelan -pelan Hanafi sudah punya aturan agar grafik rumha tanggannya pun semakin hari semakin meningkat.
"Mas Afi marah sama Na?" tanya Hany pelan.
"Gak." jawab Hanafi singkat.
"Mas beneran gak mau?" tanya Hany pelan.
__ADS_1
Dengan nekat, Hany membuka celananya dan tank topnya. Jelas terasa di tangan Hanafi kalau tubuh Hany setengah telanjangbdi bawa selimut. Hanafi tak bergeming. Ia berusaha seolah -olah tak menginginkan itu. Padahal singa di bawah sana sudah berkali -kali mengaum untuk mendapatkan haknya.