
Malam itu menjadi malam yang membahagiakan bagi Grace dan Andika. Acara ulang tahun perkawinannya yang ke sepuluh itu menjadi tolok ukur, bahwa kebahagiaan itu menjadi kesempurnaan dalam berumah tangga hingga mencapai kata harmonis.
Banyak orang iri dengan pasangan Andika dan Grace yang nampak santai dalam menjalani roda kehidupan rumah tangganya. Tidak pernah sedikitpun terlihat mereka berdua berdebat dalam hal-hal kecil atau masalah besar sekalipun.
Acara malam itu berlangsung sangat lancar dan menyenangkan hingga tengah malam.
Grace berjalan menghampiri Andika yang sibuk dengan ponselnya sambil menikmati malam dingin itu. Grace telah selesai mengantarkan beberapa teman dan sahabatnya yang berpamitan pulang hingga ke pagar depan taman itu.
Satu kursi ditarik dan Grace duduk tepat di depan Andika hingga keberadaan Grace mengejutkan Andika. Andika melirik sekilas ke arah Grace yang menatap lekat pria yang telah menikahi dirinya selama sepuluh tahun itu.
Rasa cintanya tidak pernah sedikitpun pudar di hati Grace untuk Andika. Berawal dari teman satu bangku ketika SMA lalu menjadi sahabat dan berakhir pada ikatan yang lebih serius.
Tentu perjalanan cinta yang cukup panjang hingga berada di titik ini. Tapi keduanya tetap saling menghargai satu sama lain hingga tidak ada masalah yang muncul membuat keduanya memperdebatkan sesuatu yang tidak penting dalam rumah tangganya. Semua perbedaan selalu dibicarakan dengan baik dan kepala dingin. Selalu ada solusi disetiap masalah yang dihadapi.
Sifat dewasa Andika yang bisa menjadi pengayom bagi Grace membuat Grace pun juga selalu menurut dengan segala saran dan nasihat Andika.
Tapi, sepuluh tahun bukanlah penentuan bahwa semuanya baik-baik saja. Bukan dari mereka masalah keluarga itu muncul, namun permasalahan bisa saja hadir karena pihak ketiga, atau dari saudara terdekat bahkan orang tua dan sahabat.
Andika menutup layar ponselnya dan meletakkan ponsel itu tepat di sebelah cangkir kopi yang ada di depannya.
"Acara sudah selesai, mau pulang sekarang, atau masih mau kumpul dengan teman-temanmu?" tanya Andika yang masih duduk termenung sambil menyeruput kopi panas di atas meja taman. Suara Andika begitu lembut tanpa ada unsur paksaan. Andika benar-benar baik dan tulus kepada Grace dan selalu ingin membahagiakan Grace, orang yang begitu penting dalam hidupnya.
Grace tersenyum manis. Andika, suaminya itu begitu sabar dan setia kepada dirinya. Apapun yang menjadi permintaan Grace selalu dipenuhi oleh Andika tanpa terkecuali.
__ADS_1
"Itu kopi hitam panas? Sudah gelas ke berapa Mas?" tanya Grace terkekeh dan menutup mulutnya dengan satu telapak tangannya.
"Pintar sekali menggoda suamimu ini? Lihat saja, tidak ada ampun jika sampai di rumah," jawab Andika pelan sambil menoel hidung Grace yang duduk didepannya sambil menopang dagu dengan kedua tangannya. Andika tersenyum lebar sambil mengedipkan satu matanya memberikan kode keras kepada Grace, bahwa malam ini akan menjadi malam yang membahagiakan bagi mereka berdua.
"Ampun sayang, tidak lagi-lagi," ucap Grace tertawa sambil mengangkat tangannya dan menunjukkan dua jarinya hingga membetuk angka dua yang berarti peace atau damai.
"Masih lama Grace?" tanya Andika lirih karena sudah lelah berada di tempat keramaian seperti ini.
Ini bukan tempat bagi Andika. Andika tidak suka keramaian dan tidak suka menjadi pusat perhatian. Berbeda dengan Grace yang notabene seorang model dan sudah terbiasa dengan keramaian dan kehidupan yang begitu gemerlap.
"Kamu lelah Mas?" tanya Grace dengan suara lembut. Kepalanya menengok ke kanan dan ke kiri melihat para tamu undangan yang masih ada dan berbincang di kursi taman tersebut.
Andika mengangguk pelan dan mengedipkan satu matanya kepada Grace dengan nakal.
Hari ini adalah hari yang melelahkan bagi Andika. Dua hari yang lalu, Anna sekretarisnya yang sudah mengabdi pada perusahaan Andika, mendadak mengundurkan diri karena ada masalah keluarga. Andika sebagai pemilik perusahaan tidak bisa mempertahankan Anna karena sebab lain, walaupun Anna sangat dibutuhkan di perusahaan tersebut. Anna yang rajin, ramah, cekatan dan serba bisa itu sudah lima tahun menjadi sekretaris pribadi Andika.
"Bukan hanya lelah fisik Grace. Batinku juga lelah. Melihatmu seperti ini, semuanya terasa hilang dan membuatku bahagia. Senyumanmu itu selalu menenangkan hati dan pikiranku," ucap Andika pelan sambil menjawil dagu Grace yang tersenyum tersipu.
"Mas Andika itu paling bisa buat aku terbang ke angkasa. Jangan sampai sudah di atas lalu Mas jatuhkan aku hingga ke dalam jurang," ucap Grace tertawa lepas.
Tangan Andika menyentuh dan menggenggam lembut kedua tangan Grace yang berada diatas meja.
"Sampai kapanpun berjanjilah untuk tetap bersamaku Grace. Mas, tidak bisa hidup tanpamu," ucap Andika tulus dari dalam hati.
__ADS_1
Grace memandang lekat kedua netra gelap Andika yang terlihat jujur dan sangat tulus itu.
"Bukankah memang itu yang seharusnya kita jaga, bukan hanya janji semata. Maafkan atas sikapku dulu, Mas. Sudah saatnya aku tidak memikirkan karirku," ucap Grace pelan. Ada satu hal masalah yang muncul di awal pernikahan mereka hingga membuat keduanya sempat berseteru dan saling mendiamkan selama beberapa bulan.
Maklum saja, keduanya masih sangat muda dan memiliki karir yang cemerlang di bidangnya.
Ucapan Grace mengingatkan kembali masa itu, masa yang telah berlalu sepuluh tahun yang lalu. Masa sulit keduanya untuk bisa saling memahami satu sama lain. Pelajaran dan pengalaman itu membuat mereka akhirnya sadar akan kesalahan masing-masing.
Pernikahan itu menyatukan perbedaan dan tidak memaksa ataupun menuntut satu sama lain.
"Yuk pulang, lihatlah sudah mulai sepi," ucap Andika pelan. Dirinya tidak mau mengingatnya kembali kejadian beberapa tahun lalu di awal pernikahannya. Suasana itu membuat Andika merasakan sakit hati luar biasa. Luka yang sudah berhasil di lengan Andika seolah malam ini kembali dirasakan perihnya.
Raut wajah Andika yang terlihat berubah itupun sangat dirasakan Grace. Grace menghela napas panjang. Dirinya telah salah berucap. Mengucapkan sesuatu hal yang membuat Andika sakit hati dan kecewa.
Grace berusaha tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya pelan.
"Yuk kita pulang," ucap Grace pelan lalu berdiri dan mengalungkan tangannya ke sela tangan Andika yang sudah berdiri terlebih dahulu.
Keduanya berjalan menuju parkiran mobil. Tidak ada sahutan atau pembicaraan. Keduanya tampak diam seribu bahasa.
Andika diam dengan luka batin yang tersembunyi dan Grace diam karena menyesali ucapannya yang begitu saja lolos dari bibir mungilnya itu.
Sesampai di parkiran, tanpa kata Andika membukakan pintu mobil bagian kiri untuk Grace.
__ADS_1
"Terima kasih Mas," ucap Grace lirih kepada Andika yang berusaha keras menutupi semua kekecewaannya malam itu.
Andika menutup kembali pintu mobil setelah Grace masuk dan duduk di jok bagian depan samping jok supir. Andika berjalan mengitari mobil sambil memejamkan matanya. Berusaha setenang mungkin dengan menarik napas panjang dan dalam lalu perlahan di keluarkan.