
Acara malam pertama telah gagal. Hanafi sengaja menyewa kamar hotel untuk dua hari pun hanya terbuang sia -sia tanpa bisa menikmati seperti pasangan pengantin yang baru saja menikah.
Mobil Hanafi sudah sampai di halaman parkiran Pondok Pesantren milik Abinya. Hany sejak tadi tertidur pulas sambil mendengarkan lagu my love milik westlife.
"Na ... Sakinah ... Bnangun sayang," panggil Hanafi lembut sambil memarkirkan mobilnya tepat di samping mobil yang menjadi mahar untuk Hany.
Hany masih pulas dan tidak brgerak sama sekali. Mesin mobil masih menyala karena biar suhu ruang mobil tetap adem sebelum Hany keluar dari mobilnya.
"Na ... Bangun sayang. Gak bangun cium uga nih," ucap Hanafi menggertak.
Kedua mata Hany langsung membuka lebar. Kedua jarinya langsung berusaha membuka kedua matanya agar tidak menutup karena masih lengket dan mengantuk.
"Masih ngantuk tahu gak sih. Udah tahu, Na gak tidur," ucap Hany lirih.
"Kenapa juga gak tidur. Padahal kasurnya enak, tempatnya nyaman, itung -itung liburan," jawab Hanafi se -kenanya.
"Uh ... Pak Ustad kan mesum. Bisa -bisa Na di ambil alih nanti," ucap Na asal karena masih ngantuk.
__ADS_1
"Di ambil alih gimana?" tanya Hanafi bingung.
Hany menoleh dan menatap Hanafi yang terlihat bingung. Kedua matanya masih berusaha di buka dengan kedua jarinya agar terbuka lebar.
"Keperawanan Na, di ambil alih sama Pak Ustad," ucap Hany ketus.
"Kamu kan lagi datang bulan. Ngapain juga? Atau jangan -jangan kamu berbohong?" tuduh Hanafi mulai curiga.
Hany langsung melepaskn jari -jarinya dan kini kedua matanya benar -benar terbuka lebar karena kaget merasa tuduhan itu benar adanya. Maklum kalau orang salah tentu kepanikannya terlalu jujur kan? Reflek dan spontan cemas, jantung berdegup, tentu itu yang di rasakan. Karena di hantui rasa bersalah tingkat dewa.
"Gak lah. Pak Ustad mau lihat?" tantang Hany keras.
Hany langsung berdecih pelan. Ia mencari alasan lagi.
"Itu tandanya kamu berbohong? Kamu yng tantang saya untuk melihat? Saya sudah bilang mau, tapi kamu seolah tak mendengar jawaban saya?" tanya Hanafi pelan.
"Kamar Pak Ustad yang mana?" tanya Hany mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Ohh ... Mau di lanjut di kamar? Hayuk, mumpung saya masih libur, tak mengajar," ucap Hanafi polos.
"Ih ... Dasar mesum," ucap Hany ketus. Hany belum siap lahir batin. Ia merasa masih terlalu dini dan masih kecil untuk di nikahkan. Kalau bukan di jodohkan, mungkin Hany sudah pergi jauh.
Hany pun turun dari mobil Hanafi menatap mobil yang terparkir tept di sampingnya saat ini. Mobil sport warna putih keluaran terbaru dengan merk yang Hany inginkan sejak lama. Ini mobil mahal, dan Hanafi bisa membelinya, tentu kekayaannya tidak main -main.
Hanafi pun keluar dari mobilnya dan menata ke arah Hany yang melihat maharnya.
"Bagus? Kamu suka?" tanya Hanafi pelan.
"Suka. Bagus dan sesuai dengan keinginan, Na. Besok Na pakai ke sekolah," ucap Hany pelan.
"Saya antar," ucap Hanafi mulai posesif.
"Gak. Na mau setir mobil ini sendiri. Atau Na mau pergi sama Camel," ucap Hany mengancam.
"Camel? Siapa Camel?" tanya Hanafi penasaran. Ia tidak tahu soal Camel.
__ADS_1
"Ada. Camel adalah separuh jiwa Na," ucap Na menggoda.
"Siapa dia?' tanya Hanafi semakin penasaran.