
Acara resepsi pernikahan pun selesai di malam hari. Mereka sengaja menyewa hotel itu dari pagi hingga malam hari untuk bagian ballroom dan beberapa kamar hotel untuk pasangan penganti baru serta beberapa kerabat yang ingin menginap untuk beberapa hari ke depan.
Hany sudah lebih dulu di dalam dengan perias yang membantunya untuk melepaskan semua baju kebaya dan kain panjang dan menghapus semua make up tebal di wajahnya. Hany juga sudah mengganti pakaiannya dengan piyama panjang yang tertutup rapat. Jujur Hany takut sekali dnegan yang namanya tidur dnegan lawan jenis walaupun itu sudah SAH karena ikatan pernikahan.
"Mbak ... Sudah selesai. Saya permisi pulang.Selamat menempuh hidup baru, dan selamat malam pertama," goda perias itu sambil tertawa keras.
Hany menatap lekat ke arah perias yang sedang menggodanya.
"Mbak perias tahu kan, pintu keluar dari kamar ini?" tanya Hany ketus.
"Tahu Mbak. Maaf ya," ucap perias itu yang langsung membawa tas besar berisi pakaian pengantin Hany tadi keluar dari kamar hotel.
Hany memegang ponselnya dan mencari tahu cara menghindari malam pertama tapi terlihat wajar. 'Ekhemmm ... Mungkin aku harus berpura -pura sedang haid. Biar tidak di apa -apakan,' batin Hany di dalam hati.
Dengan cepat, sebelum Hanafi masuk ke dalam kamar, Hany harus sudah berpura -pura tidur lengkap dengan selimut dan kaos kaki. Jangan lupa seluruh tubuhnya di balur dengan minyak kayu putih biar di kira sedang sakit. Ide yang cukup bagus bukan.
Hany pun langsung merebahkan tubuhnya dan memakai selimut tebal hingga di bagian leher. Aroma kayu putih setengah botol yang di balurkan di seluruh tubuhnya sudah tercium menyengat di seluruh kamarnya, tubuhnya mulai merasakan hangat.
Skip ...
Hanafi sedang duduk di restaurant hotel bersama beberapa kliennya yang datang terlambat ke acara pernikahnanya.
"Selamat menempuh hidup baru Pak Hanafi. Mana istrinya?" tanya salah satu kliennya dari luar kota.
"Terima kasih. Istriku sedang mengganti pakaian, mungkin langsung istirahat, tadi kaykanya kurng enak badan," ucap Hanafi pelan.
"Iya Pak. Tidak apa -apa. Bapak boleh datang ke hotel kami juga sebagai hadiah honey moon anda seklaian menikmati laut yang indah," ucap klien yang lainnya.
"Boleh. Nanti kalau ada waktu yang pas saya akan ke sana bersama istri saya," jawab Hanafi dengan senang.
Hanafi menemani kliennya menikmati makan malam bersama.
"Pak ini kado dari kami," ucap klien lain yang memberikan kado kecil terbungkus rapi.
__ADS_1
"Apa ini? Saya jadi curiga?" ucap Hanafi pelan.
"Buka Pak." ucap salah satu rekannya yang duduk di ujung meja.
"Oke. Saya buka. Hah? Ini kan untuk perempuan?" ucap Hanafi tertawa.
"Ya Pak. Biar istrinya semakin cantik memakai baju itu, Pak."
"Tak hanya cantik tapi juga seksi."
"Biar Bapak tambah bergairah."
Suara tawa itu nampak bahagia menggoda Hanafi yang tersipu malu.
"Sepertinya sudah malam, dan Pak Hanafi sudah mulai gelisah. Kita biarkan beliau menerjang batu karang yang masih keras,"
Suara tawa itu kembali terdengar riuh dan renyah. Hanafi hanay bisa ikut tertawa mnedengar kekonyolan rekan -rekannya yang memang tidak akhlak.
ceklek ...
Hanafi pun masuk ke dalam kamar dan mengunci kamar hotel itu. Lalu menyalakan lampu kamar hingga terang. Hanya masih terpejam dengan guling yang di dekap erat.
Hanafi mencium aroma minyak kayu putih dan melihat botol minyak kayu putih yang tergeletak di nakas dekat Hany tertidur. Ia lalu membuka jas hitamnya dan melepas dasi, lalu kemeja putihnya tpat di depan lemari kamar hotel itu dengan sikap cuek.
Kebetulan lemari pakaian itu tepat ada di samping Hany dan pas sekali posisi Hany saat ini sedang menghadap ke arah lemari pakaian. Secara tidak lansung Hany akan melihat sesuatu yang indah di malam pertamanya.
Dengan santaunya Hanafi memelorotkan celana panjangnya dan hanya terlihat ****** ********.
Sontak Hany berteriak dengan sangat keras sekali, "Argh ...."
Hanafi menoleh ke arah Hany dan reflek menarik selimut yang di pakai Hany untuk menutup bagian bawahnya.
"Kamu belum tidur, Sayang?" tanya Hanafi lembut. Ia berusaha menenangkan dirinya dari rasa kaget.
__ADS_1
"Selimut aku. Mataku ternodai," ucap Hany semakin keras. Ia menutup kedua matanya dengan telapak tangan. Namun karena rasa penasarnnya Hany membuka matanya dan mencari selimut dari sela -sela jarinya.
Hanafi tersadar. Keduanya kan sudah menikah. Sudah halal melihat yang sedikit aneh -aneh. Hanafi melepaskan selimutnya dan di berikan kepada Hany.
"Argh ...." lagi -lagi Hany berteriak dengan keras.
Hanafi malah semkain menggodanya dan berjalan mendekati Hany.
"Apa yang kau takutkan sayang. Kita sudah SAH." ucap Hanafi pelan dan berusaha menggapai kaki Hany.
Hany langsung terbangun dan bangkit lalu berdiri di atas kasur empuk itu. Tubuh Hany merapat di dinding dan tersenyum kecut. Bukan takut, tapi Hany memang risih karena belum terbiasa.
"Gak usah panggil sayang dan jangan mendekat," titah Hany yang terlihat cemas.
"Lho ... Ini malam pertama kita, sayang," ucap Hanafi santai. Hanafi pun merangkak naik ke atas ranjang membuat Hany pun seketika loncat ke lantai. Sudah seperti amcan tutul yang ingin pergi dari sergapan musuhnya.
"Hany teriak nih," ucap Hany semakin keras. Napasnya mulai tak beraturan dan dadanya terlihat naik turun karena jantungnya berdetak keras.
"Mau teriak? Silahkan? Kamar ini ada peredam suaranya. Jadi memang cocok untuk pasangan pengantin baru seperti kita. Kamu mau teriak sekeras apapun juga tidak masalah." ucap Hanafi santai.
Hanafi langsung merebahkan tubuhnya di atas kasur. Tubuhnya di biarkan polos hanya menggunakan ****** ***** saja.
Hanya hanya bergidik ngeri. Tak pernah membayangkan satu ranjang dan berbuat gituan dengan lelaki. Uh ... Jauh sekali dari pikirannya.
"Kamu gak mau tidur di sini?" tanya Hanafi menatap lekat Hany yang masih berdiri menjauh dari ranjang.
Hany hanya menggelengkan kepalanya cepat.
"Gak. Aku di sofa saja," ucapnya ketus.
Hany pun berjalan menuju sofa dan duduk di sana sambil menyalakan televisi dan menikmati cemilan yang ada di meja itu. Hany tidak boleh lengah apalagi tertidur. Bisa -bisa, nanti dia di perkosa atau di paksa melakukan gituan.
Hanafi mengulum senyum melihat tingkah laku gadis bar- baranya yang kini telah menjadi istrinya. Memang unik sekali, dan tingkah uniknya itu yang membuat Hanafi jatuh cinta kepada Hany. Sikap cuek, apa adanya namun tetap terlihat cantik, serba bisa dan berani serta mandiri. Apapun akan di lakukan tanpa ada kata menyerah.
__ADS_1