CALON IMAMKU

CALON IMAMKU
LATIHAN BEBAS


__ADS_3

Hany turun ke lantai bawah dan menghampiri kedua orang tua yang sedang bersenda gurau dengan mesra. Rencananya Hany mau meminta ijin untuk membeli makanan dan obat kaplet yang akan dibeli di apotik untuk menghilangkan rasa sakit di kakinya yang masih terasa nyeri.


Wajah Hany terlihat sumringah dan bahagia. Hari


Indra hanya berani berada di belakang tubuh mungil Hany. Bukan tidak berani, lebih tepatnya malas berdebat dengan kedua Kakek dan Nenek Hany, nasihatnya itu bisa panjang kayak naskah pidato kepala sekolah.


"Assalamu'alaikum, Kakek Bram? Nenek Inggit?" panggil Hany dengan suara manja.


Kakek Bram dan Nenek Inggit cukup kaget mendengar teriakan manja dari cucu kesayangannya itu. Mereka sangat tahu dan hapal dengan semua yang diinginkan oleh Hany bila secara tiba-tiba bersikap sangat manis.


"Waalaikumsalam, ada apa Sakinah jangan suka teriak-teriak, nanti telinga Kakek tidak bisa mendengar permintaan manjamu itu" ucap Kakek Bram menggoda Hany yang terkekeh pelan sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang mungil.


Indra berjalan melewati Sakinah dan berdiri di dekat pot besar teras depan rumah Kakek Bram. Tubuh Indra bersandar pada dinding yang tingginya hanya setengah dari tubuhnya saja.


Hany menggelendot lengan Kakek Bram dengan sangat manja, berharap keinginannya bakal di wujudkan oleh Kakek Bram.


Kakek Bram hanya terdiam fokus dengan surat kabar yang sedang dibacanya.


"Apa Sakinah?" tanya Kakek Bram pelan tanpa menoleh ke arah Hany.


"Na, mau pergi dengan Indra ya Kek, mau cari bakso, laper. Sekalian mau beli salep biar bengkaknya hilang ini," ucap Sakinah dengan suara pelan. Dagunya di letakkan di bahu Kakek Bram dan memeluk Kakek Bram dengan erat.


Nenek Inggit hanya berdehem dengan sangat keras. Mencoba untuk tidak ikut menyela, hanya memperhatikan sikap cucu kesayangannya yang sedang meminta ijin Kakek Bram.


"Cuma mau beli bakso saja? Yakin gak mau aneh-aneh?" tanya Kakek Bram pelan dengan suara baritonnya.


Hany hanya terdiam menatap Kakek Bram yang seolah paham dengan apa yang akan Hany lakukan bersama Indra. Hany hanya memutar kedua bola matanya dengan malas, karena hal ini akan menjadi sia-sia.


Kakek Bram masih diam dan tidak menanggapi kekesalan Hany, lalu sekilas menatap Hany. cucu kesayangannya itu sedang terlihat murung sambil mengerucutkan bibirnya hingga terlihat beberapa sentimeter maju ke depan.


"Cuma mau beli bakso apa sekalian jalan-jalan pake si camel?" ucap Kakek Bram dengan tegas.


Hany menatap Kakek Bram yang terlihat sedikit mengancam.


"Beli bakso aja, Kek," ucap Hany pelan lalu menunduk.


"Jangan bohong dengan Kakek," ucap Kakek Bram menatap tajam ke arah Hany dan Indra.

__ADS_1


"Tidak Kek," ucap Hany pelan dan sedikit memelas.


Indra tidak berani membalas menatap wajah Kakek Bram. Tatapannya tadi seolah ingin membuat Indra akan mati digantung di pohon pisang oleh Kakek Bram.


Kakek Bram menatap tajam ke arah Hany.


"Kalau sampai bohong, kamu tanggung akibatnya sendiri, Kakek tidak mau ikut campur," tegas Kakek Bram mengancam dan menasehati.


Hany hanya mengangguk pelan, lalu mencium punggung tangan Kakek Bram dan Nenek Inggit.


"Na, pergi dulu ya," ucap Hany pelan dan berjalan menuju halaman rumah.


Indra juga menghampiri Kakek Bram dan Nenek Inggit lalu mencium punggung tangan itu dengan rasa hormat.


"Assalamu'alaikum, pergi dulu Kakek, Nenek," ucap Indra pelan dan berlalu dari teras menuju motor camel miliknya.


"Waalaikumsalam, hati-hati Indra, Sakinah," teriak Kakek Bram dari tempat duduknya.


Indra dan Hany sudah berada di halaman rumah. Indra mengambil motor KLX miliknya yang disimpan di garasi motor sebelah teras rumah besar itu.


"Na, pakai camel aja ya, sekalian coba biar tahu selahnya," ucap Hany pelan langsung menaiki motor camel itu.


Kedua motor itu beriringan melaju di jalanan sepi yang biasa untuk latihan bebas.


Motor camel adakah motor pertama yang dimiliki oleh Indra. Motor berwarna kuning menyala dengan stiker besar bertuliskan camel.


"Kita latihan dimana?" tanya Hany pelan saat memelankan laju motornya.


Indra menatap lurus dan memberhentikan motornya. Hany pun langsung menarik rem dengan tangan kanannya.


"Kaget nih, jangan dadakan dong," ucap Hany dengan sedikit keras dan ketus.


"Maaf deh, tadi lihat posisi, kayaknya disini pas deh. Tuh lihat, ada tikungan dan turunan terjal, smaa seperti arena balap nanti malam," ucap Indra pelan mengingat tempat arena yang akan mereka pakai untuk balapan nanti malam.


Hany mengangguk pelan dan menatap lurus ke arah jalan yang ditunjuk oleh Indra.


Tubuh Hany masih berada di atas motor besar itu lengkap dengan jaket yang pas dengan tubuhnya, hingga lekukan tubuh itu terlihat jelas. Kepalanya sudah memakai helm full face berwarna kuning.

__ADS_1


Hany membuka kaca helmnya dan menoleh ke arah Indra.


"Na, coba ya, Kang Indra pasang waktunya aja," ucap Hany pelan sambil menitah Indra dengan suara pelan.


Indra menatap Hany dan menganggukkan kepalanya pelan.


Hany menatap lurus ke depan dan menutup kaca helmnya. Tangan kanannya sudah menarik gas motor hingga suara mesin dan suara knalpot motor camel terdengar sangat nyaring dan melengking


Tangan kiri Hany menarik kopling dan kaki kanannya memasukkan gigi pertama lalu Hany menarik gas motor itu dengan cepat dan motor itu melaju dengan kecepatan tinggi seiring dengan ditambahnya gigi motor tersebut.


Hany sudah melesat jauh dari pandangan Indra. Motor camel itu masih terdengar sangat nyaring. Terdengar suara mesin yang menggema di seluruh jalanan sepi itu. Hany memang begitu lihai dan mudah beradaptasi dengan setiap motor yang dipakainya. Dengan mudah Hany mengendarai motor camel seperti sudah sering memakainya.


Suara motor itu makin mendekat dari arah depan dan melewati Indra yang berdiri di dekat motor KLX itu.


"Yap ... Mantap!!" teriak Indra sambil memegang stopwacth untuk menghitung waktu dan kecepatan Hany.


Indra begitu senang sekali, teriakan itu diiringi dengan lompatan kedua kakinya ke atas.


Hany sudah kembali dengan motornya setelah berbalik di ujung jalan dan berhenti tepat disamping Indra.


"Keren, Na, kamu emang joki perempuan terhebat yang pernah aku temui," ucap Indra pelan dan memuji skill Sakinah yang sangat memukau.


"Itu karena joki perempuan yang Kang Indra kenal cuma Na aja," ucap Hany pelan sambil terkekeh pelan.


"Hemm, sok tahu kamu. Mau coba lagi, biar lebih enak tuh badan ngikutin lekukan motornya," ucap Indra pelan menitah.


Hany menganggukkan kepalanya pelan tanda paham.


Hany berulang kali berlatih dengan motor camel itu. Motor yang baru saja dipakainya, namun langsung bisa diajak bekerja sama. Hany sudah cukup lihai menaklukkan motor camel itu dan membuat motor camel itu bisa diandalkan di setiap trek jalanan yang dilalui. Trek belokan curam pun bisa dilalui dengan mudah termasuk trek tanjakan yang cukup terjal, camel mampu melaju dengan cepat dan terasa sangat ringan.


Hany sudah lelah beberapa kali mencoba treknjalanan itu, dan sepertinya sudah sangat paham dan jelas.


Motor camel itu diparkir tepat disamping motor KLX Indra.


"Ini motor beneran enak. Tapi setelah ini ganti oli dulu dan isi setengah aja, biar enteng pas dibawa lari dengan kecepatan tinggi," ucap Hany pelan sambil memberi masukan kepada Indra.


"Siap Bosque," ucap Indra pelan sambil menunjukkan sikap hormat kepada Hany.

__ADS_1


Hany tertawa terbahak-bahak melihat kelakuan Indra.


"Jadi sudah siap tampil dengan camel nanti malam kan?" tanya Indra dengan suara pelan.


__ADS_2