Catatan Hati Mayra

Catatan Hati Mayra
Latihan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Assalamualaikum!” ucap Arga dan Maira bersamaan saat memasuki rumah orang tuanya.


Ya, panggilan telfon yang mengganggu acara Arga dan Maira, adalah panggilan telfon dari sang mama mertua, yang meminta mereka untuk datang ke rumah.


Keadaan sedikit urgent, membuat keduanya mau tak mau menggagalkan un-boxing nya dan langsung meluncur menuju rumah keluarga Nolan.


“Walaikumsalam, lama banget sih datang nya?” jawab seorang laki laki yang sudah menunggu kedatangan dua adik nya sejak tadi.


“Kakak mau kemana sih?” tanya Arga sedikit kesal.


“Ada acara, makanya aku mau nitip. Mereka gak mau sama Oma nya,” jawab laki laki itu yang tak lain adalah Raka, kakak pertama Arga.


“Kalau gak mau ikut Mama, kenapa gak kakak ajak aja. Ngapain mesti nyuruh Arga ke sini? Emang kami baby sister!”


Ya, kedatangan Arga dan Maira kali ini, di karenakan kedua anak Raka dan Ryana yang rewel ketika hendak di titipkan kepada sang nenek. Namun, keduanya juga tidak mau di ajak pergi, melainkan mereka ingin bermain bersama Arga dan Maira.


“Kalau mau, udah dari tadi aku ajak!” keluh Raka langsung menghela napas nya dengan berat.


“Mereka tuh dari tadi udah kekeuh banget, mau nge-mall sama tante Maira katanya. So, untuk hari ini aja, biarin aku sama Ryana Qualitytime dulu. Biarin kita pacaran lagi, dan anggep aja kalian belajar ngasuh anak!”

__ADS_1


Dan akhirnya, mau tak mau. Arga pun mengiyakan permintaan sang kakak. Karena percuma juga, jika ia menolak, dirinya tidak akan bisa. Karena saat ini, istrinya sudah menuruni tangga dengan menggandeng dua tuyul kakak nya dengan penuh semangat.


Yang mana, justru membuat dirinya mendengus semakin kesal karena harus menunda kembali apa yang baru saja ingin ia gapai.


‘Kakak lucknat emang! Gak kerjaan, gak pribadi sama sama ngeselin!’ umpat Arga dalam hati nya sambil melirik tajam ke arah sang kakak.


...🍁🍁🍁🍁...


Seperti yang di inginkan kedua keponakan tuyul nya, kini Arga dan Maira membawa keduanya untuk mendatangi salah satu Mall yang cukup besar di kota Jakarta.


Dirinya hanya bertugas menjadi seorang supir dan bodyguard saja, karena kedua keponakan nya sama sekali tidak mau melepaskan tangan sang tante.


Kemana pun mereka berjalan, melangkah dan pergi Maira harus menggandeng dua tangan mungil di tangan nya.


“Belum! Sama Bunda gak di kasih makan, tadi,” jawab sang adik yang bernama Jero.


FyI, kedua anak Raka dan Ryana bernama Jeremy Nolan dan Jeromy Nolan. Usia keduanya hanya terpaut satu tahun lebih saja. Maka tak heran jika Maira mengira bahwa keduanya adalah anak kembar, selain itu memang nama keduanya juga hampir sama, Jeremy dan Jeromy.


“Ya udah, kalau gitu kita makan dulu. Habis makan, baru kita main, oke!”


“Tapi kami udah makan, Tante!” seru Jeremy sang kakak, yang langsung membuat dahi Maira mengerut bingung.

__ADS_1


“Jadi, kalian itu udah makan apa belum?”


“Belum! Udah!” jawab keduanya bersamaan, membuat Maira dan Arga semakin di landa kebingungan.


“Jero, apa kau tidak kenyang? Tadi kita sudah makan!” kata Jeremy menatap kesal kepada sang adik yang memiliki nafsu makan cukup besar.


“Tadi hanya sedikit, kak!” jawab sang adik dengan membentuk ukuran kecil dengan jari telunjuk dan jempol nya.


“Sedikit?” Jeremy langsung mengerutkan dahi nya, “Tadi sama Bunda, kamu sudah di suapin. Terus sama Oma juga gitu, perut mu itu terbuat dari apa? Pokok nya aku mau main! Aku gak mau makan!” imbuh nya langsung bersedekap tangan di dada lantaran kesal dan lelah harus di paksa makan terus menerus.


Bukan tanpa alasan, sebenarnya Jeremy sendiri juga sama seperti Jeromy yang memiliki nafsu makan besar. Hanya saja, anak pertama dari Raka dan Ryana itu memiliki rasa gengsi dan sok jual mahal.


Dia juga sedikit pemalu dan takut jika di katai rakus oleh keluarga nya. Akan tetapi, jika ia melihat adik nya makan atau membeli makanan, ia juga sangat sulit mengendalikan diri untuk tidak meminta.


Maka dari itu, Jeremy berusaha melarang adiknya meminta makan jika dirinya merasa sudah cukup kenyang, daripada nanti dirinya juga akan ikut makan juga.


'‘Kamu mau punya anak kaya mereka?” tanya Maira tanpa sadar menyandarkan kepala nya pada dada bidang Arga sambil terus mengawasi perdebatan dua tuyul di depan nya.


“Mau punya anak, tapi gak kaya mereka juga,” jawab Arga menggelengkan kepala nya pelan.


Tentu saja, ia berdoa jika kelak ia memiliki anak tidak akan seperti keponakan nya. Jeremy, Jeromy terlebih Badai.

__ADS_1


Sepertinya, cita cita Arga ingin memiliki seorang anak perempuan saja, setidaknya biar bisa sedikit kalem, di bandingkan anak laki laki seperti ketiga keponakan nya yang begitu abstrak.


...~To be continue ......


__ADS_2