
...~Happy Reading~...
“Karena bayinya prematur, maka mereka harus berada di inkubator sampai kondisi nya benar benar stabil. Kedua bayinya sangat sehat, hanya saja organ dalam nya belum sepenuh nya matang. Sedangkan bayi ketiga yang mana berjenis kelamin perempuan, ia sangat lemah. Saat lahir, bahkan ia tidak menangis, karena itu kami berusaha melakukan pertolongan agar membuat bayi itu menangis. Alhamdulilah, kini bayi itu sudah bisa menangis, tapi kondisinya lebih memprihatinkan dari dua kakak nya.” Jelas dokter panjang lebar, seketika membuat Arga semakin terdiam.
Tanpa berlama lama, Arga pun segera pergi ke ruangan bayi, dimana tiga bayinya di rawat di sana, di salah satu ruangan khusus yang hanya ada tiga bayi saja. Arga tidak bisa menyentuh bayi bayi nya, karena mereka masih sangat kecil dan akan beresiko jika ia mengeluarkan mereka dari inkubator. Terlebih untuk anak perempuan nya.
Melihat wajah wajah yang begitu mungil di dalam sebuah kotak itu, membuat hati Arga terasa begitu perih. Dada nya sesak hingga membuat air matanya tak kuasa ia tahan. Arga meng-adzani ketiga bayi nya satu per satu dengan sekuat tenaga menahan tangis.
Hingga saat ia meng-adzani bayi terakhir. Ia semakin tak kuasa menahan tangisan nya, ia pun memecahkan nya dan terus memukul mukul dada nya yang terasa begitu sesak.
__ADS_1
Andai saja, tidak ada kesalahpahaman antara dirinya dan Maira. Andai tidak ada tragedi yang membuat istrinya terjatuh, mungkin ketiga bayinya masih berada di dalam perut sang istri. Mereka akan di lahir kan beberapa minggu lagi, dimana kondisi mereka sudah matang dan jauh lebih sehat, tanpa perlu masuk inkubator.
“Assalamualaikum, putri Ayah ... Sehat selalu ya kalian. Maafkan Ayah jika sudah menyakiti bunda kalian. Ayah mohon, kalian harus kuat dan bertahan agar kita bisa berkumpul ya Sayang ... “ gumam Arga begitu lirih sambil meraba kaca inkubator.
Usai mengecek keadaan anak anak nya, Arga segera bergegas menuju ruangan Maira, karena saat ini wanita itu sudah sadar dan hanya di tunggu oleh orag tua nya. Hingga kini, di antara mereka belum ada yang bisa menghubungi keluarga Maira yang di bandung. Entah kemana abi Mike dan umma Chila sampai tak bisa menerima panggilan dari papa Kenzo.
“Sayang ... “ Arga mendekati brankar Maira, dimana wanita itu masih terbaring begitu lemah.
Maira yang melihat kedatangan suaminya, seketika langsung berpaling seolah enggan untuk menatap wajah suami nya, “Pergi.”
__ADS_1
“Mai ... maaf. Kamu hanya salah paham, jangan marah dong.” Arga tidak gentar mendekati istrinya. Tidak menuruti permintaan Maira yang menyuruh nya pergi, kini Arga justru mendudukkan dirinya di kursi samping brankar Maira.
“Justru itu, aku capek salah paham terus. Makanya kamu pergi, jangan ingetin aku sama salah paham itu lagi!” cetus Maira pelan dan hampir tak terdengar karena harus menahan sakit akibat luka operasi nya.
Arga langsung menghela napas nya panjang, ia merebahkan kepala nya di sebelah bantal Maira dengan posisi tubuh masih duduk.
“Mai, aku tuh sayang banget loh sama kamu. Aku cinta sama kamu, apalagi sekarang kita udah punya tiga malaikat yang wajah nya ganteng ganteng kaya aku. Aku gak mau kita berantem mulu, baikan yuk. Pliss, perasaan dulu sebelum kita nikah, kita gak pernah berantem deh. Kenapa setelah nikah kita berantem mulu sih, udah dong Mai, ayo kita baikan. Aku tahu aku salah, tapi aku tuh gak pernah niat buat bikin salah apalagi nyakitin kamu. Ayo Mai, kita baikan aku janji akan lakuin apa aja yang kamu mau, tapi kita baikan. Pliss!” pinta Arga panjang lebar tanpa titik maupun koma, hingga membuat Maira terdiam, namun dalam hati mendengus ingin mengumpat suami nya.
...~To be continue ......
__ADS_1