Catatan Hati Mayra

Catatan Hati Mayra
Martabak


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Malam hari nya, karena terlalu lama di rumah Yusuf, membuat Arga pulang terlambat. Maira yang awal nya sedikit merajuk karena keterlambatan suaminya pulang ke rumah, sedikit terobati saat sang suami membawakan nya makanan yang ia mau.


Namun, saat ia membuka bingkisan yang di bawa oleh Arga. Seketika itu juga, wajah yang semua kesal, berubah sumringah kini kembali kesal kembali setelah membuka bingkisan tersebut.


"Kenapa? Kamu gak suka? Aku beli nya di tempat biasa loh," tanya Arga mengerutkan dahi saat melihat ekspresi wajah istri nya yang di luar ekspetasi.


Arga berfikir, Maira akan senang dan antusias seperti biasa. Namun, entah mengapa malam ini, justru wajah itu terlihat datar dan menatap nya tajam.


"Aku tadi pesen apa?" tanya Maira datar.


"Martabak kan? Red velvet full keju mozarella?" Arga kembali mengerutkan dahi nya.

__ADS_1


"Iya tapi kenapa martabak ini!" seru Maira dengan mata berkaca kaca.


"Hah? M—maksud nya gimana? Aku udah beli di tempat biasa loh, Sayang. Red velvet full mozarella. Apa yang salah?" tanya Arga menggaruk tengkuk nya bingung.


"Aku maunya telur, kenapa ini manis!" Satu air mata lolos membasahi pipi Maira saat mengucapkan keinginan nya dengan bibir memanyun kesal.


Deg!


Arga langsung terdiam. Ia kembali mengingat pesanan istrinya pagi tadi. Martabak red velvet full mozarella, hanya itu bukan? Dan bukankah red velvet itu identik dengan martabak manis? Lantas mengapa jadi martabak telur?


"Aku kan udah bilang full keju di atas nya. Aku mau martabak telur Ga, gak mau manis kaya gini. Kamu mau bikin aku tambah gendut gara gara makan manis malem malem begini!" seru Maira semakin kencang menahan isak tangis nya.


Tentu saja Arga semakin di landa kebingungan. Bagaimana bisa ia tahu kalau istrinya menginginkan martabak telur bukan manis. Sedangkan Maira sendiri tidak mengatakan pada nya.

__ADS_1


Arga menarik napas nya panjang sambil mengusap wajah nya dengan cukup kasar. Jika ia menjawab seruan Maira, tentu perdebatan ini akan berlangsung lama. Dan alamat nya akan tidak beres, seperti contoh dirinya akan tidur di luar kamar.


Tidak bisa. Arga tidak mau tidur di luar lagi. Dirinya tidak bisa membiarkan istrinya sendirian. Apalagi ia tahu, setiap malam Maira sering terbangun dan harus pergi ke toilet. Bagaimana Arga bisa mengawasi Maira jika dirinya tidur di luar? batin nya.


"Astaghfirullah, maaf Sayang. Tukang martabak nya salah denger. Padahal tadi aku udah bilang loh, maaf ya. Mungkin aku juga yang salah, lupa ngingetin bang martabak nya. Maaf," ujar Arga memilih mengalah dan langsung memeluk istrinya.


"Hiks hiks hiks, jahat banget. Aku laper Ga, aku mau makan, aku nungguin kamu tapi kamu malah gak bawa makanan hiks hiks."


Arga kembali menarik napas nya panjang. Bagaimana bisa ia tidak membawa makanan. Padahal, di depan mereka, di atas meja kini tergeletak beberapa bungkus martabak berbagai rasa di sana.


Setiap kali Maira menginginkan makanan, pasti Arga akan membeli lebih untuk para pekerja nya. Dan kini di atas meja itu, bukan hanya martabak manis namun juga ada martabak telur. Hanya saja, martabak telur itu biasa tak ada yang berwarna merah atau red velvet sesuai keinginan Maira.


Entah lah, Arga sendiri sebenarnya juga heran, apakah ada martabak telur berwarna merah? Hanya saja, keheranan nya ia tahan dan pendam daripada harus bertengkar nantinya dengan Maira. Lebih baik mengiyakan semua perkataan sang istri dan pasrah.

__ADS_1


...~To be continue......


__ADS_2