
...~Happy Reading~...
Hari sudah berganti hari dengan minggu. Hampir satu bulan lamanya, Maira berada di rumah sakit. Bukan karena kondisinya yang belum sehat. Melainkan, ia tidak mau meninggalkan anak anak nya sendirian di rumah sakit.
Luka bekas operasi Maira sudah sepenuhnya pulih. Bahkan kurang dari satu minggu, ia sudah bisa beraktifitas seperti sebelumnya. Hanya saja, keadaan anak anak nya yang masih berada di incubator, membuat Maira tidak mau meninggalkan rumah sakit.
Berulang kali, Arga maupun keluarga nya yang lain, bahwa keluarga Maira sendiri juga sudah membujuk agar Maira pulang ke rumah terlebih dulu. Akan tetapi, jawaban dari Maira sungguh membuat semua orang terkejut dan terheran.
"Kalau umma atau Abi gak mau bantuin bayar rumah sakit, ya sudah, biar Maira jual aja mobil dan barang barang lainnya untuk membayar rumah sakit."
“Sayang, bukan itu maksud kami Nak. Tapi kamu sudah terlalu lama di sini, apa kamu tidak jenuh?”
“Jenuh? Bagaimana bisa Maira jenuh, jika malaikat malaikat Maira disini menemani Maira. Sudahlah Bi, Maira tahu kok kalau kalian keberatan membayar biaya rumah sakit.”
“Sayang, tolong mengerti bukan itu maksud kami.”
__ADS_1
“Terus apa Abi! Gak Cuma Abi, Umma bahkan Papa dan mama juga Arga!” Maira menatap sinis dan tajam kepada suami nya, “Semuanya nyuruh Maira untuk pulang dan ninggalin anak anak Maira. Biar kalian gak bayar rumah sakit, begitu kan!”
Menghela napas nya berat, semua orang langsung terdiam mendengar teriakan Maira yang di sertai dengan lelehan air mata. Entah bagaimana lagi cara mereka membujuk dan menjelaskan kepada Maira,bahkan mereka tidak pernah memikirkan soal biaya.
Apalagi, rumah sakit tempat Maira melahirkan adalah rumah sakit milik keluarga suami nya sendiri. Selain itu, jika memang abi Mike dan umma Chila juga keberatan soal biaya, bisa saja mereka juga memindahkan Maira ke Pranata Hospital, dimana itu juga rumah sakit milik keluarga Abi nya.
“Jahatt! Semuanya jahat hiks hiks hiks. Gak cuma mas Arga aja yang tega sama Maira, kalian semua juga tega.” Wanita itu langsung terduduk lemas di lantai sambil menutup wajah nya dengan dua telapak tangan nya, bahu nya naik turun menandakan betapa sesak nya dada itu sampai membuatnya terisak.
“Mai ... “ Sontak wanita itu langsung treperanjat saat merasakan sebuah rengkuhan hangat di bahu nya dari seorang laki laki yang tak lain adalah suaminya sendiri.
“Lepas!” Arga mengerutkan dahi nya, “Ku bilang lepas!”
Namun, harapan memang tak seindah kenyataan. Alih alih memaafkan dan hubungan keduanya membaik, Maira justru semakin membenci Arga dan mendiamkan nya. Baru beberaa hari lalu Maira mau bertemu dengan Arga. Maka dari itu, kini Arga memberanikan diri untuk memeluk istrinya.
“Sayang!”
__ADS_1
“Ksayangan mu gak disini. Mending kamu pergi cari kesayangan kamu di luar sana! Pergiii!” usir Mairasegera bangkit an masuk ke dalam toilet untuk kembali menangis, karena di dalam ruangan itu ada banyak keluarga nya.
“Sabar ya, Ga.” Abi Mike menghampiri menantu nya dan membantu nya untuk bangkit berdiri.
“Sampai kapan, Bi?’ Arga bergumam lirih dengan wajah yang begitu memelas.
“Maaf Ga, Abi gak bisa membantu terlalu banyak. Kamu harus bisa belajar dari hal ini, bahwa tak mudah bagi seorang wanita untuk melupakan setitik kesalahan kita, walaupun kau sudah memberikan kebahagiaan berlimpah untuk nya, sekalipun.”
“Nah itu bener. Papa juga setuju!” saut papa Kenz ikut menghampiri anak dan besan nya.
“Maksud nya apa nih?” Mama Naura langsung menatap tajam anak dan suami nya, “Kalian nyindir kami?”
“Astagfirullah, Mas. Jangan memberikan pikiran negatif pada Arga.” Umma Chila menghela napas nya berat. Kini di dalam kamar itu, seperti terbelah menjadi dua kubu, yakni laki laki dan perempuan.
Walaupun dua lawan tiga, dan pihak laki laki lebih unggul yakni tiga orang. Namun, tak membuat kubu laki lkai menjadi pemenang nya. Nyatanya tanpa pikir panjang, umma Chila dan mama Naura malah keluar begitu saja meninggalkan ruangan itu, yang mana membuat papa kenzo dan abi Mike segera berjalan cpat untuk mengejar para istrinya.
__ADS_1
‘Dasar SSTI.’ Arga menghela napas nya berat sambil menggelengkan kepala nya, melihat tingkah lucu para orang tua, tanpa mau berkaca pada dirinya sendiri.
...~To be continue ... ...