
...~Happy Reading~...
"Ayah, Aish mau cekulah kaya Adam cama Agam!"
Maira yang hendak menyiapkan makanan bekal untuk kedua anak nya, seketika langsung berhenti dan menoleh kepada putri bungsu nya, begitu pun dengan Arga yang baru saja menyelesaikan makanan nya ikut menoleh pada sang putri.
"Lancarin dulu ngomong R nya, nanti bisa sekolah!" kata Adam menjawab ucapan Aisyah, seketika membuat gadis kecil itu langsung memanyunkan bibir nya kesal.
"El,"
"Er Aish, Er!"
"Iya el kan!"
"Errrrrrrr! Bisa gak?"
"Bisa! Ellllllll!"
Adam langsung menepuk kening nya, karena merasa percuma mengajari Aisyah mengucap kata R yang ternyata sangat sulit bagi nya. Padahal, Adam dan Agam sudah lancar bicara sejak umur empat setengah tahun. Mengapa Aisyah hingga kini belum bisa juga, pikir Adam.
__ADS_1
"Sudah sudah!" Lerai Maira menghela napas nya berat, "Aish, nanti sekolah kok, sekarang Aish belajar dulu di rumah sama Bunda. Nanti baru deh masuk sekolah kaya Adam sama Agam."
"Tapi Aish mau na cekulah Bunda, gak mau di lumah, bocen!" keluh gadis kecil itu yang langsung meletakkan dagu nya di atas meja makan sambil memainkan sendok dan garpu nya.
"Kan ada Mochi sama Vero!" saut Adam lagi lagi membuat Aisyah mendengus.
"Mochi na kan agi hamil Adam. Jadi na gak bisa di ajak main, kacian."
"Cimol? Moli, pretty, Vero emmmt siapa lagi ya namanya?" Adam menggaruk kepala nya yang tidak gatal kala mengingat nama nama kelinci milik saudara kembar nya.
"Is is is, Adam payah. Kan Adam syudah sekolah kenapa gak bisa hafal nama kelinci Aish!" protes nya dengan kesal, "Ayah, Bunda, Adam sekolah na gak pintel, udah belenti aja, bial gantian cama Aish!"
"Enak aja!" seru Adam langsung protes. Bukan salah nya yang tidak bisa mengingat nama nama kelinci Aisyah.
"Aish mau ikut anter ke sekolah aja gak?"
"Agam!" Maira dan Arga seketika langsung menatap pada anak kedua nya dengan tatapan yang sulit di mengerti.
"Tapi cuma nganter aja. Baru nanti tahun depan Aish bisa ikut sekolah. Nanti, Aish bisa lihat lihat sekolah sebentar. Gimana?" kata Agam lagi tanpa memperdulikan tatapan dari kedua orang tua nya.
__ADS_1
"Aish mau!" gadis kecil itu langsung berseru saat mendapatkan tawaran mutiara.
"Tapi gak boleh nakal ya?" kata Agam lagi yang langsung di balas anggukkan kepala oleh Aisyah.
"Gapapa Ayah, Bunda. Kan cuma mengantar saja."
"Iya benel, kan cuma antel aja Bunda, Ayah. Jangan watil,"
"Kalau begitu, Bunda akan ikut juga." kata Maira seolah enggan dan tidak rela melepas putri nya untuk ikut ke sekolah.
Meskipun hanya sebentar, tapi rasanya begitu berat untuk nya. Akan tetapi, Arga langsung menggenggam tangan Maira agar mengiyakan permintaan putri nya.
"Baiklah, tapi nanti harus cepat pulang ya?"
"Oke Mommy!" kata Aisyah dengan wajah yang begitu riang.
"Bunda, Aish. kenapa jadi Mommy!" protes Adam lagi lagi membuat bibir Aisyah terangkat membentuk kekesalan.
"Satu kali duang Adam iks plotes mulu cama Aish."
__ADS_1
"Iya iya, maaf Aisyah. Adam gak ada protes lagi," Adam memperagakan dengan tangan mengunci mulut yang mana hal itu langsung membuat Aisyah kembali merasa menang dan senang tentu nya.
'Nasib jadi kakak, harus selalu ngalah?' kata kata yang mulai sejak kini harus di tanamkan pada diri Adam agar bisa lebih mengalah lagi pada Asiyah, seperti Agam.