Catatan Hati Mayra

Catatan Hati Mayra
Bab 72


__ADS_3

...~Happy Reading~...


Secangkir teh hangat di tangan Maira menjadi teman setia untuk menemani sore harinya sambil terus mengawasi ketiga anak nya yang tengah bermain di taman belakang. Atas permintaan Aisyah beberapa waktu yang lalu, kini taman itu berubah seperti kebun binatang dadakan.


Beberapa waktu yang lalu, Aisyah meminta di belikan kelinci pada opa Kenzo, namun laki laki paruh baya itu justru memberikan nya begitu banyak bonus. Aisyah meminta satu kelinci untuk menemani nya bermain. Namun, karena Kenzo merasa memiliki tiga cucu, jadilah ia membelikan tiga kelinci agar tidak berebut.


Kelinci berjenis Giant dan French Angora, dan awalnya hanya tiga, dalam waktu kurang satu tahun kini sudah beranak pinak menjadi satu RT. Hingga mau tak mau, Arga harus mengubah halaman belakang nya menjadi kebun binatang karena putrinya melarang keras kelinci kelinci itu di berikan pada orang apalagi sampai di buang.


Pernah kejadian beberapa waktu lalu, dimana kelinci pertama milik Aish meninggal, anak itu langsung menangis sampai terisak dan berujung anfal hingga di larikan ke rumah sakit. Sejak kejadian itu, Arga selalu memantau kesehatan kelinci kelinci itu dengan mendatangkan dokter hewan dua minggu sekali ke rumah untuk memeriksa semua ternak sang putri.


“Bunda!” Teriakan dari Aisyah sontak membuat lamunan Maira sedikit buyar.


Wanita yang mengenakan gamis lilac dengan kerudung hitam yang menutupi kepala nya itu segera meletakkan cangkir teh nya dan berlari menghampiri Aisyah yang kini tengah duduk berjongkok di depan kandang utama.

__ADS_1


Benar, kandang utama. Yakni adalah kandang untuk generasi kelinci pertama milik triple A. Aisyah sendiri yang meminta agar ayah nya memisahkan kandang setiap keturunan kelinci nya agar tidak bertukar umur.


“Ada apa Sayang?” Maira berjongkok tepat di depan Aisyah.


“Bunda lihat, sepeltinya mochi macuk angin.”


Mochi? Maira mengerjapkan matanya sejenak, ia menggaruk kepala nya yang tidak gatal sambil terus menatap ke arah putrinya.


“Mochi yang mana sih?” Maira akhirnya bertanya karena memang dirinya tidak bisa mengingat semua nama nama kelinci milik putrinya.


Adam dan Agam memang sudah bersekolah, akan tetapi tidak untuk Aisyah. Meskipun umur mereka sama hanya berbeda menit saja, namun kembali lagi Maira belum bisa melepaskan putrinya di dunia luar. Mengingat kesehatan Aisyah yang cukup lemah, jadilah ia membebaskan anaknya untuk di rumah dulu.


“Itu Bunda, yang itu.” Aisyah langsung masuk ke kandang dan mengambil salah satu kelinci yang dia maksud, dan memang benar Maira bisa melihat perut kelinci itu membesar.

__ADS_1


Tapi ...


“Sayang, dia gak masuk angin,” Maira menghela napas nya berat.


“Ini macuk angin, Bunda. Mungkin kalena kemalin hujan, meleka kedinginan, jadinya macuk angin. Kaya kemalin pas Adam juga macuk angin, pelut na besal.”


“Sayang, Mochi sedang hamil. Dia bukan masuk angin, sebentar lagi, Aish punya baby rabbit lagi.”


Untuk sesaat, Aish terdiam sambil menggendong kelinci nya, menatap lekat pada wajah sang ibu yang sedang menjelaskan padanya. Antara percaya dan tidak percaya jika kelinci nya hamil lagi.


Saat Aisyah sedang berkelana dengan pikiran nya, tiba tiba sebua suara yang begitu lantang dari kedua saudara nya, membuat lamunan Aisyah buyar. Gadis kecil yang berumur lima tahun itu segera menoleh dan menatap ke arah pintu dimana kedua saudara nya datang dengan membawa buku yang mungkin akan di perlihatkan kepada sang ibu.


“Ini gala gala Adam! Adam yang hamilin Mochii!” jerit nya seperti orang marah, membuat Maira seketika langsung mengerutkan dahi.

__ADS_1


Why? Kok bisa? Apa maksud Aisyah, mengapa bisa mengatakan seperti itu? Pikir nya bingung.


...~To be continue......


__ADS_2