
...~Happy Reading~...
‘Bilang sama Oma kalau om Arga dan tante Maira gak ikut sarapan. Udah sarapan sendiri di kamar!’
Kata kata yang di ucapkan oleh Arga kepada dua keponakan nya, seketika membuat semua orang dewasa yang berada di meja makan itu terdiam dan mengerutkan dahi.
“Kamu semalam beli makanan di luar?” tanya Raka kepada dua anak nya. Karena Arga mengatakan sudah sarapan di kamar, Raka berfikir mereka membeli makanan di luar dan di makan pagi ini. Walau sebenarnya, itu sangatlah tidak mungkin.
“Beli tapi di makan sama Jero, dan langsung habis!” jawab Jeremy kembali melanjutkan acara makan nya.
“Kok aku yang di salahin, kamu juga ikut makan!” kata Jeromy seolah tak mau di salahkan.
“Aku cuma bantu kamu ngabisin doang. Kan yang niat makan dari awal kamu! Dasar perut karet!” cibir anak pertama Raka dan Ryana itu tanpa mau mengaca diri.
“Sudah, jangan berantem ah! Pusing Bunda sama perdebatan kalian!” ucap Ryana langsung membuat keduanya benar terdiam, “Habiskan sarapan kalian, setelah itu berangkat sekolah sama Ayah!”
__ADS_1
“Loh, kok sama aku? Katanya hari ini mau sama kamu?” tanya Raka yang langsung menatap ke arah istri nya.
“Hehehe aku mau pergi sama Mama, iya kan Ma?” kata Ryana tersenyum lebar menatap sang ibu mertua.
“Yups! Bener! Hari ini, Mama mau ajak dua menantu mama jalan. Tapi sepertinya yang satu cancel, jadi kita berdua saja ya Ryana,” sambung mama Naura membalas senyuman menantu pertama nya.
“Oke Mama!”
Raka dan papa Kenzo hanya bisa menghela napas nya berat. Jika sudah begini, kedua laki laki itu tidak bisa membantah lagi. Mama Naura, adalah ras tertinggi di dalam keluarga itu, begitu pun dengan Ryana juga memiliki posisi tertinggi di dalam keluarga Raka sendiri, hingga membuat kedua anak dan suami nya menjadi begitu penurut dan takut.
...🍁🍁🍁...
“Sumpah, kamu gak capek apa?” tanya Maira sedikit mendengus kala baru saja menyelesaikan babak yang entah ke berapa kalinya sejak semalam.
Arga menyengir, lalu ia mengecup kembali kening istrinya dengan begitu gemas, “Kamu capek?”
__ADS_1
Pertanyaan yang sangat bodoh. Sudah jelas, sejak tadi Maira sudah melenguh dan mengeluh lantaran lelah. Dan kini dengan wajah tanpa dosa nya, Arga bertanya apakah dirinya capek.
‘Plis kasih tahu, gimana ngasih tahu suami mesumm model akut begini biar sadar diri!’ umpat Maira dalam hati terus menggerutu sambil menatap tajam pada suami nya.
“Kamu itu gak sadar diri banget sih Ga!” ucap Maira mendengus, “Ngapain pakai tanya begitu!”
“Salah ya?” tanya Arga yang membuat Maira semakin merasa kesal, namun justru membuat Arga semakin terkekeh.
“Kalau aku sih gak capek, malah aku seneng banget. Namanya olah raga kan biar sehat, Sayang!” imbuh Arga menyengir.
Kesal, namun tanpa bisa di pungkiri wajah Maira juga merona saat di panggil sayang oleh suami nya. Sungguh, ini sangat menyebalkan bagi Maira. Mengapa wajah nya sangat mudah memerah setiap kali bersama Arga.
Luntur sudah image tomboy yang sudah ia bangun selama ini, jika semudah itu dirinya tersipu hanya dengan perkataan atau perlakuan manis dari Arga.
“Jangan ketawa!” seru Maira langsung memukul dada bidang polos suami nya saat melihat Arga menyadari rona merah di wajah nya, yang mana semakin membuat laki laki itu semakin tergelak dan terus menghujani nya dengan ciuman di seluruh wajah.
__ADS_1
Menolak pun percuma, jadilah Maira hanya bisa pasrah. Walaupun wajah nya terlihat kesal, namun rona merah di wajah itu tak bisa ia pungkiri dan di dalam hatinya merasa sangat bahagia atas apa yang saat ini ia miliki dan jalani di kehidupan nya bersama Arga.
...~To be continue .......