Catatan Hati Mayra

Catatan Hati Mayra
Perubahan


__ADS_3

...~Happy Reading~...


“Bagaimana rasanya?” tanya Arga sedikit mengernyitkan dahi saat melihat istrinya tengah menikmati martabak nya.


Ya, setelah melakukan perdebatan yang cukup panjang dengan penjual martabak, akhirnya kini Arga berhasil membawa martabak sesuai pesanan Maira. Entah bagaimana rasanya, dari martabak itu, yang terpenting sesuai dengan permintaan istrinya.


“Agak aneh sih, tapi enak kok. Kamu mau cobain gak?” Maira menyuapkan martabak ke mulut suaminya, tapi sang empu nya langsung memundurkan kepala dan menjauh.


“Gak sayang, makasih. Buat kamu aja, tapi jangan banyak banyak ya,” kata Arga tersenyum paksa.


“Gak mau ya sudah!” Maira kembali menyuapkan makanan itu ke mulut nya lagi.


Tak butuh waktu lama, kini akhirnya kotak martabak itu sudah di kosongkan oleh Maira. Meskipun awal nya ia menolak untuk menghabiskan, karena tidak mau terlalu gendut, namun ternyata ia sangat sulit menolak rasa nikmat dari makanan itu. Bahkan, ia sampai melupakan berat badan nya yang saat ini saking menikmati makanan yang dia inginkan.


Sejak awal hamil hingga kini di usia kandungan nya sudah menginjak tujuh bulan, berat badan Maira sudah mengalami kenaikan yang drastis. Dari berat badan yang awal nya, hanya empat puluh lima kilo, kini naik menjadi hampir enam puluh lima kilo.

__ADS_1


Bisa di bayangkan betapa besar nya dirinya saat ini. Dua puluh kilo dalam waktu tujuh bulan, itulah yang membuat Maira tidak mau memakan makanan manis lagi.


Ia memang mengurangi makanan manis, makanya ia menolak untuk makan martabak red velvet yang manis. Akan tetapi, ia menghabiskan satu kotak utuh martabak telur istimewa.


Arga tidak mau menyinggung atau mengingatkan istrinya lagi, karena itu akan berujung dengan sebuah pertengkaran. Meskipun ujung ujung nya, mereka akan tetap berdebat di kamar setiap malam.


Seperti sekarang, usai menghabiskan makan malam nya. Maira yang sudah selesai mandi dan hendak menyisir rambutnya di depan cermin. Ia terus mengusap perut besar nya sambil sesekali berputar melihat perubahan pada tubuh nya yang sangat drastis.


“Mas Arga!”


“Tadi aku makan Cuma dikit kan? Tapi kok kayaknya makin gede aja sih? Lihat deh, perut aku makin gede banget,” keluh wanita itu lagi lagi membuat Arga menghela napas nya berat.


Arga segera meletakkan ponsel nya di atas meja samping tempat tidur, lalu beranjak dari tempat tidur dan menghampiri istrinya di depan cermin.


“Perut kamu besar, karena disini ada tiga nyawa. Kalau perut kamu kecil itu berarti anak anak kita kurang gizi, jadi jangan khawatir. Yang penting, kamu sehat anak anak juga sehat,” ucap Arga langsung memeluk istrinya dari belakang.

__ADS_1


“Tapi aku gendut banget,” gumam Maira pelan sambil matanyaterus menatap ke arah cermin, “Kamu gak akan ninggalin aku kan?”


“Astagfirullah, buang pikiran negatif kamu Sayang. Bagaimana bisa aku meninggalkan wanita yang sudah mengorbankan hidup nya untuk anak anak ku. Sampai kapan pun aku gak akan ninggalin kamu, hanya kematian yang bisa misahin kita. Janji,” Arga berpindah dan kini duduk berlutut di depan Maira.


“Aku takut kamu ninggalin aku, karena aku gendut. Rahel aja meskipun udah punya anak masih langsing, bahkan seksi. Aurat nya diumbar kemana mana, aku takut kamu—“


“Sayang! Ingat heh, sadar. Kamu jauh lebih sempurna dari dia, dan wanita manapun. Apa menurut mu aku mata keranjang? Ribuan wanita seksi di luaran sana, tidak akan bisa mengalahkan keseksian istri ku, cup!”


Senyuman di wajah Maira langsung terbit. Ia tersipu dan terharu mendengar pujian dari suaminya. Walau pun ia tidak tahu apakah itu jujur atau tidak, yang jelas kini dirinya merasa lega.


Dan memang benar, sejak awal kehamilan ia sangat sering berfikir negatif. Apalagi jika sudah menyangkut soal berat badan, hatinya sangat sensitif dan membuat nya sangat mudah menangis.


Awal nya, Arga juga sedikit heran mengapa istrinya sangat mudah tersinggung. Akan tetapi, ia juga banyak belajar dari kedua kakak nya dan juga ibu nya tentang wanita hamil yang memiliki sensitif an akut, maka sejak itu Arga memilih untuk selalu mengalah agar tak terjadi perang dunia ketujuh.


‘Tinggal dua bulan lagi, Ga. Bersabarlah.’ Kata kata itulah yang selalu di ingatkan oleh hatinya agar selalu mengalah dan lebih bersabar dalam menghadapi Maira, karena begitu bayi mereka lahir, menurut ayah nya, maka Maira akan kembali ke sifa nya yang semula. Dan Arga akan bersabar hinga hari itu tiba.

__ADS_1


...~To be continue ......


__ADS_2