
...~Happy Reading~...
Waktu terus berjalan dan berganti, kini Arga dan Maira sudah kembali ke rumah nya. Hubungan keduanya semakin baik, bahkan sangat baik. Maira pun juga sudah memutuskan untuk ikut tinggal di kamar utama bersama Arga.
Karena keduanya sudah kenal dan dekat sejak kecil. Jadilah, di antara mereka terkadang masih merasa sedang bersama teman sendiri. Terkadang, Maira memanggil Arga dengan embel embel depan ‘Mas’ akan tetapi terkadang juga tidak.
Arga pun juga tidak mempermasalahkan nya, selama itu di rumah dan hanya mereka berdua. Maira pun juga paham, jika di depan keluarga dirinya benar benar menjadi istri yang sangat sholehah. Akan tetapi, berbeda jika di rumah, ia akan kembali bersikap seperti biasa, bar-bar dan sedikit awur-awuran.
“Kamu masak apa hari ini?” tanya Arga yang tiba tiba langsung memeluk istrinya dari belakang sambil mengendus aroma parfum sang istri yang selalu membuatnya mabuk dan candu.
“Seafood, menu nya seafood semua,” jawab Maira tersenyum menyengir saat menoleh menatap wajah suami nya.
Arga menganggukkan kepala nya, semakin hari ia merasa keahlian Maira dalam hal memasak semakin ahli dan rasanya tidak jauh berbeda dengan masakan sang mama. Karena memang Maira selalu belajar dengan sang mama mertua.
Jika di bandingkan Ryana dan Kara, tentu Maira lah yang paling rajin dalam belajar memasak. Ryana sudah sibuk mengurus dua anak nya, hingga membuat nya kewalahan dan enggan untuk memasak.
Kara? Anak kandung dari mama mertua nya itu, tidak mungkin memasak. Karena sang suami selalu melarang nya. Jadilah, bisa di katakan Maira yang paling rajin, karena hampir setiap kali bertemu dengan mama mertua pasti selalu soal resep makanan yang akan di bahas.
“Kamu duduk aja dulu, sebentar lagi siap kok!” Maira membalik tubuh nya hingga berhadapan dengan sang suami, merapikan kembali dasi yang sudah terpasang sempurna di leher suami nya hanya sebagai formalitas.
“Baiklah ... nanti kamu ikut ke kantor ya?”
“Ngapain?” tanya Maira langsung mengerutkan dahi nya.
“Aku kangen,” bisik Arga di telinga Maira seketika membuat wanita itu kembali tersipu dan segera memalingkan wajah nya ke samping.
“Kangen, kaya apaan aja kangen. Tiap hari juga tiap malem sama aku terus kok,” gumam Maira berdecak dan menggelengkan kepala nya, namun ia juga bahagia mendengar perkataan dari Arga.
“Dihh, emang gak boleh kangen sama istri sendiri hem?” Tiba tiba Arga langsung memeluk istrinya dengan erat membuat Maira sedikit terkejut, “Pokok nya aku kangen dan akan selalu kangen sama kamu, cup!”
“Hemmm ... “ Maira menganggukkan kepala nya, “udah ah, aku selesaiin dulu masakan aku. Habis itu sarapan, atau mau bawain bekel sekalian?”
“Boleh!” Jawab Arga dengan cepat, “Itung itung gantian,”
__ADS_1
Maira pun langsung mengerutkan dahi nya, “Gantian? Maksud nya gantian apa?”
“Dulu waktu kuliah, aku yang buatin kamu bekal kan?” kata Arga, “Dan sekarang kamu yang buatin aku bekal,” imbuh nya membuat Maira ikut terkekeh mengiyakan perkataan dari Arga.
Tak ingin berlama lama, Maira pun segera menyelesaikan masakan nya yang tinggal sedikit lagi. Hanya sebentar, kini semua masakan nya sudah terhidang di meja, tentu saja atas bantuan dari Arga juga.
Namun, saat Maira hendak mendudukkan diri di kursi, tiba tiba ia terdiam. Entah mengapa ia merasa kepala nya berdenyut dengan pandangan mata berkunang kunang, hingga membuat nya spontan langsung mencengkram pinggiran meja dengan cukup erat.
“Kamu kenapa?” tanya Arga khawatir dan langsung berdiri memegang istri nya.
“Kepala ku kok pusing ya?” gumam Maira langsung merebahkan tubuh nya di atas sofa kala sudah tiba di ruangan Arga.
“Tadi katanya udah gapapa?” Arga ikut mendudukkan di samping Maira, sambil mengusap lembut kepala istrinya, “Pusing banget? Mau pulang lagi aja? Atau ke rumah sakit?”
Maira langsung menggelengkan kepala nya, “Gak sih, nanti juga ilang. Ya udah kamu kerja aja, aku disini deh.”
Setelah memastikan istrinya baik baik saja. Arga pun menganggukkan kepala nya dan pergi ke meja kerja nya. Selama beberapa jam, Maira terlihat begitu asik menonton sebuah drama di ponsel nya.
“Kamu terlalu baper dengan drama itu!” sesekali Arga juga akan ikut berkomentar saat melihat istrinya marah dan menangis.
“Bukan baper Ga, tapi emang ini cewek astagfirullah banget! Bikin emosi,” kata Maira langsung mendengus dengan kesal, “Kamu tahu dia pemeran utama dalam drama ini, tapi aku heran kenapa dia harus jadi jahat! Sungguh tidak adil bukan!”
Arga terkekeh mendengar celotehan istrinya, “Memang nya kalau pemeran utama itu harus selalu baik dan sempurna hem?”
“Tentu saja!” jawab Maira dengan cepat, “Pemeran utama itu harus baik agar selalu bisa menang. Kalau jahat itu akan jadi alamat palsu, yang ada sad ending!”
“Kata siapa orang jahat akan jadi alamat palsu? Siapa tahu nanti dia akan taubat dan berakhir happy ending,” kata Arga semakin gencar melawan perkataan Maira.
“Ihh disini mana ada kata taubat! Emang nya drama ikan terbang!” cetus Maira mendengus hingga membuat Arga kembali tergelak.
“Auuwhhh!” Maira kembali meringis saat merasakan adanya ketidak beresan di dalam dirinya.
“Kenapa? Sakit lagi? Pusing? Kita ke rumah sakit aja ya? Kita—“
__ADS_1
“Iks apaan sih, aku gapapa Ga! Cuma ini tenggorokan aku rasanya agak aneh, terus juga perut aku kaya perih gitu sshhhh!” Wanita itu menggigit bibir nya sambil memegang perut.
“Jangan di gigit terus!” Arga langsung menghampiri istrinya dan duduk berjongkok tepat di depan nya, “Ke rumah sakit aja ya?”
Lagi lagi Maira menggelengkan kepala nya, “Ga, perut aku mu—mual .... Hoeekkkk!”
Hoeeekkk!
Maira langsung melemparkan ponsel nya ke sofa dan berlari menuju toilet saat merasakan perut nya bergejolak dengan begitu hebat. Sementara Arga yang melihat istrinya berlari dan mual seketika ikut panik dan segera mengejar nya masuk ke dalam kamar yang dimana ada toilet di dalam nya.
Tok ... tok ... tok ..
“Mai, kamu gapapa?” tanya Arga mengetuk pintu toilet dengan khawatir.
“Aku gapapa! Bentar lagi keluar—hoeeekkkk!” jawab Maira yang di akhiri dengan suara muntahan lagi membuat Arga semakin cemas di buatnya.
Tok .. tok ... tok ..
Arga segera kembali ke ruangan nya saat mendengar suara pintu di ketuk. Namun, baru saja ia hendak berjalan membuka pintu itu, tapi ternyata sudah di buka membuat Arga langsung menghentikan langkah kaki nya.
“Honeyyy!” pekik seorang wanita cantik dengan pakaian sedikit terbuka dan berambut pendek dengan menggunakan high hells yang cukup tinggi.
Deg!
Tubuh Arga langsung mematung, terlebih saat kini wanita itu langsung berhambur dan memeluk nya. Tidak ada respon apapun dari tubuh Arga, ekspresi wajah nya datar dengan tanpa sadar tangan nya mengepal erat.
“Aku merindukan mu!” gumam wanita itu pelan sambil mengeratkan pelukan nya.
“Lepas!” ucap Arga begitu dingin, membuat wanita itu langsung mendongakkan kepala nya sambil memanyunkan bibir.
“Kamu tidak merindukan ku?” tanya nya dengan wajah yang begitu sayu dan mata berkaca kaca.
...~To be continue......
__ADS_1