
...~Happy Reading~...
"Sayang, udah dong marah nya. Jangan cuekin terus akunya, sini!" Arga berusaha membalik tubuh istri nya agar menghadap padanya.
Setelah pergulatan panas yang ia lakukan beberapa saat lalu, berharap istrinya bisa luluh dan memaafkan nya. Tapi ternyata ia salah, Maira justru semakin kesal padanya dan kini wanita itu langsung memunggungi nya seolah enggan untuk menatap nya.
Tubuh keduanya masih polos dan hanya terbalut selimut tebal saja. Namun, meski begitu, bagian bahu Maira masih ter ekspos dengan begitu kelas lantaran Maira hanya menutupi selimut di bawah tangan saja.
"Sayang... " Arga melingkarkan tangan nya untuk memeluk sang istri, mengusap lembut perut besar istrinya dengan penuh hati hati, "Jangan marah terus dong. Aku ngaku salah, aku memang yang salah. Udah yah maafin, kan aku udah jujur!" imbuh nya sedikit merengek seperti anak kecil.
"Minta maaf sono sama mantan mu!" cetus Maira berusaha menepis tangan Arga di perut nya, namun laki laki itu masih bertahan dan justru kini semakin mengeratkan pelukan nya.
"Gak mau!" Arga menempelkan wajah nya di punggung Maira, menghirup aroma tubuh istrinya yang lagi lagi kembali memabukkan nya, "Sejak awal, cinta aku cuma buat kamu Mai. Udah dong, percaya sama aku."
"Percaya sama kamu itu sesat! Rugi!" jawab Maira lagi semakin ketus dan berusaha menepis tubuh Arga di belakang nya.
__ADS_1
"Astaghfirullah, aku harus gimana lagi dong ayank, biar kamu maafin aku hem?" tanya Arga dengan suara memelas nya.
Arga memang paling pendiam di antara dua saudara nya. Arga juga terlihat paling kalem dan waras, hanya saja jika sudah berada di kamar dan hanya berdua dengan Maira.
Sifat Arga akan berubah drastis, laki laki itu akan menjadi anak kecil dan tak ragu ragu untuk merengek kepada Maira.
Bukan hanya merengek, bahkan bucin menurut Maira.
"Tidur! Jangan rese!"
"Jangan macem macem ya Ga! Kamu udah memperkosa ku tadi! Jangan—"
"Dihh, mana ada aku memperkosa kamu sih Sayang. Kan kamu juga mau, kamu juga menikmati dan kamu bahkan yang mimpin. Kok bisa bilang aku yang jadi pelaku, jika sejak tadi kamulah yang jadi bintang nya!" ceplos Arga seketika membuat mata Maira langsung membola.
Sontak saja, wanita itu langsung menoleh dan membalik tubuh nya lalu menatap tajam pada Arga yang kini tengah menyengir tanpa dosa.
__ADS_1
Memang benar, walaupun tadi Arga memaksa nya di awal. Namun di pertengahan dan akhir, Maira lah yang mengambil alih pimpinan pertempuran mereka.
Maira lah yang lebih dominan dan keduanya semakin bersemangat. Maira seolah melupakan kemarahan nya, di karenakan hormon kehamilan nya yang membuat keinginan melakukan itu semakin besar dan bersemangat.
Namun, saat mereka sudah selesai. Maka Maira akan kembali ke setelan awal, dimana ia sedang merajuk pada Arga dan kembali mendiamkan nya.
"Oh jadi aku yang memperkosaa mu begitu!" Seru Maira seolah tak Terima dengan pernyataan Arga yang walau pun memang benar adanya.
Hellow, Maira seorang wanita. Untuk apa Arga harus membahas hal memalukan seperti itu. Harusnya laki laki itu paham, Maira melakukan itu karena hormon kehamilan bukan keinginan nya. Yang mana berarti itu keinginan bayi bayi nya kan? Bukan kah begitu? batin Maira.
"Eh! Enggak Sayang, aku salah ngomong. Gak kok, maaf lagi ya!" Arga sedikit terkejut mendengar seruan istrinya, "Tadi aku yang maksa kamu, aku yang memperkosaa kamu, dan sekarang aku lagi deh yang mperkosa kamu, ya?"
Dan tanpa menunggu persetujuan, Arga kembali mengajak Maira untuk bermain ronde kedua. Dan kini, Arga lah yang memimpin, ia tak akan memberikan kesempatan untuk Maira bisa memperkosaa nya lagi, justru dirinya lah yang akan membuat wanita itu selalu berada di bawah nya.
...~To be continue... ...
__ADS_1