
...~Happy Reading~...
Setelah kepulangan keluarga Nolan. Pagi hari nya, tepat saat usai sholat subuh, Maira kembali bertemu dengan gus Hilal. Keduanya kembali berbincang sedikit, karena Maira harus menyelesaikan urusan nya dengan gus Hilal agar tidak terlalu lama membuat nya menunggu.
“Assalamualaikum, Gus,” sapa Maira sambil membawa mukena di pelukan nya dan menundukkan kepala bersama dengan Khalifa.
“Waalaikumsalam, Humaira ... “ jawab laki laki bersarung biru dengan baju koko putih itu tersenyum ketika kembali di datangi oleh Maira.
“Gus, saya—“
“Katakan Maira, insyaallah saya sudah siap mendengar jawaban kamu,” potong gus Hilal dengan cepat seolah tahu dengan apa yang akan di sampaikan oleh gadis yang ia kagumi tersebut.
“Maafkan saya Gus, saya tidak bisa menerima ajakan gus Hilal. Karena lusa, saya harus menikah dengan Arga,” jawab Maira masih setia dengan menundukkan kepala nya.
Gus Hilal tersenyum, untuk menutupi rasa sakit hati nya. Bagaimana tidak, ia sudah menunggu sejak lama untuk bisa menikahi Maira. Bahkan, ia rela menjaga hati dan jarak demi hari yang begitu indah kelak, yaitu hari pernikahan.
__ADS_1
Tapi siapa sangka, bahwa ternyata dirinya masih terkalahkan oleh seorang Arga. Argantara Nolan yang pernah ia temui beberapa kali saat di Jakarta. Laki laki sedikit tengil dan minim agama.
Ya, tentu saja, jika di banding kan dengan agama keluarga gus Hilal, tentu saja keluarga Nolan akan tertinggal sangat jauh. Tapi, kembali lagi bahwa itu adalah keputusan dan pilihan Maira.
Dan gus Hilal bukanlah orang egois yang hanya memikirkan ego nya sendiri. Ia masih bisa berfikir positif, mungkin memang Maira bukanlah jodoh nya.
“Alhamdulilah, tidak apa Maira. Jika memang itu keputusan kamu, insyaallah saya bisa menerima nya. Dan insyaallah, lusa saya juga akan hadir di pernikahan kalian,” ujar gus Hilal begitu lembut dan penuh ketenangan.
Maira mendongakkan kepala nya, menatap wajah teduh gus Hilal dengan begitu lekat, namun hanya beberapa detik, gadis itu kembali menundukkan kepala nya saat mendapatkan senyuman lembut dari laki laki di depan nya.
“Maafkan saya Gus, saya benar benar minta maaf,” ujar Maira tanpa sadar ikut merasakan sedikit sesak di hati nya.
Ini bukanlah kali pertama dirinya menolak ajakan ta'aruf dari seseorang. Namun, entah mengapa ketika ia mendengar jawaban dari gus Hilal, justru malah membuat hatinya sakit.
Ia merasa sangat bersalah, dan tentu saja ada rasa mengganjal di dalam hati nya. Mengingat bahwa gus Hilal adalah anak dari kiai di Pondok pesantren yang di kelola bersama abi Mike.
__ADS_1
Yang mana , mereka sudah mengenal begitu lama. Maira sedikit merasa takut jika nanti harus bertemu dengan kiai Abdul yang tak lain adalah ayah dari gus Hilal.
“Hehehe , sudah ku katakan tidak apa Maira. Di dunia ini kita berhak memilih. Allah memberikan kita akal untuk berfikir dan menentukan jalan mana yang akan kita ambil. Serahkan semua nya sama Allah, insyaallah ini yang terbaik.”
“Menikahlah karena Allah, karena insyaallah, setiap langkah kamu akan di sertai ridho- Nya. Libatkan Allah dalam setiap langkah yang nanti akan kamu ambil, dan semoga ini benar benar pilihan terbaik untuk kamu Maira.”
“Meskipun kita tidak berjodoh, aku masih akan mendoakan yang terbaik untuk kamu, amin.” Imbuh gus Hilal panjang lebar dengan dada yang terasa sedikit sesak.
Maira menganggukkan kepala nya,”Amin ... Dan semoga, kelak gus Hilal segera di pertemukan dengan seseorang yang di takdirkan untuk Gus Hilal. Dan yang jelas, wanita itu adalah wanita pilihan Allah yang jauh lebih baik dari saya.”
Gus Hilal hanya membalas perkataan Maira dengan sebuah senyuman. Tidak ingin berlama lama, karena Maira juga akan segera berangkat ke Jakarta.
Akhirnya pertemuan mereka berakhir dengan Maira dan Khalifa yang pergi lebih dulu, meninggalkan gus Hilal yang hanya bisa menatap punggung Maira yang semakin berjalan menjauh dari nya.
...~To be continue ......
__ADS_1