
...~Happy Reading~...
Siang hari, seperti biasa Arga kembali pulang namun tidak ke rumah nya, melainkan ke rumah tetangga sebelah. Laki laki itu membunyikan klakson yang langsung segera di bukakan oleh satpam penjaga di rumah itu.
“Ini buat mamang yang sudah bukain pintu terus buat saya!” Arga memberikan sebuah bingkisan makanan kepada penjaga di rumah itu, tentu saja itu sebagai imbalan karena sudah di bukakan pintu setiap hari.
“Waahh, terimakasih Pak. Akhirnya ada lagi yang ngasih makanan, biasanya pak Wisnu yang ngasih, tapi sekarang pak Arga. Sering sering aja Pak,” penjaga bernama mamang itu pun terkekeh sendiri saat menerima bingkisan dari pemilik rumah sebelah majikan nya.
“Pak Wisnu kemana Mang?” tanya Arga berbasa basi.
“Baru aja tadi pagi berangkat Pak, sama Ibu. Katanya mau mau itu, apa sih, mau nabung. Iya nabung!”
Seketika Arga langsung mengerutkan dahi nya mendengar ucapan dari Mamang penjaga, “Nabung? Ke Bank?”
“Bukan Pak, orang yang di tabung bukan uang kok.”
“Lalu?”
“Itu loh Pak, nabung Bayi.” Kini ekspresi wajah Arga semakin tak jelas. Mengerut bingung dan heran tentu nya, “Bapak bingung ya? Sama saja Pak, saya juga bingung. Memang pak Wisnu itu aneh. Orang mah nabung uang ke Bank, dia malah nabung bayi ke luar negeri. Padahal dia sendiri belum punya bayi, aneh kan Pak.” Jelas nya panjang lebar seketika membuat Arga sedikit paham, mungkin.
__ADS_1
“Bayi tabung?” tebak Arga memastikan.
“Iya Pak, nabung bayi.”
“Bayi tabung Mang, bukan nabung bayi!” Arga langsung menghela napas nya dengan kasar. Ternyata ada yang lebih random dari tingkah istrinya. Sejak kaan proses bayi tabung, menjadi orang nabung bayi. Entah darimana pemikiran seperti itu di dapatkan, Arga tak ingin ambil pusing, ia pun segera berpamitan dan menuju tempat singgasana nya yakni di atas pohon rambutan.
‘Astaga, Arga pengorbanan mu sungguh luar biasa.’ Gumam nya sendiri dalam hati sat sudah berhasil memilah tempat duduk ternyaman di salah satu dahan pohon yang tepat menghadap ke arah kamar anak anak nya.
Drrttt ... Drrttt ... Drrtt ...
“Woaahhh!” Hampir saja Arga terjatuh saat mendengar suara getaran ponsel di dalam saku nya, ia pun mencoba menenangkan diri agar tidak oleng, sebelum akhirnya mengambil ponsel itu dan mengangkat nya.
‘Assalamualaikum.’ Ucap seseorang dari seberang sana dengan suara sedikit ketus.
“Walaikumsalam yaa zawjatii ... “ seketika itu juga, hati Arga langsung terasa tenang saat mendengar suara istrinya, wajah panik akan terjatuh tadi seolah sirna saat mendengar suara istrinya yang walaupun sedikit jutek, namun terdengar begitu merdu di telinga Arga.
“Pulang sekarang! Atau gak usah pulang sama sekali!”
Deg!
__ADS_1
Arga langsung mengerjapkan matanya berulang. Apakah ini pertanda bahwa Maira sudah memaafkan nya dan mau bertemu dengan nya? Pikir Arga tanpa sadar tersenyum begitu lebar.
“Halo, Ga. Kamu denger gak sih aku ngomong. Pulang sekarang atau—“
“Iya Sayang, iya. Aku denger kok. Aku akan pulang sekarang juga, sabar ya menunggu suami kamu,” jawab Arga dengan cepat tersenyum semakin lebar.
Hatinya begitu bahagia, karena kini pada akhirnya setelah sekian lama, dirinya bisa kembali pulang ke rumah dan bertemu dengan anak anak serta istrinya. Namun, sesaat ia melupakan dimana posisi nya saat ini, Arga yang terlalu merasa bahagia sampai lupa dimana keberadaan nya saat ini, hingga melupakan tangan nya yang tadi ia gunakan untuk berpegangan dan pada akhrinya ...
Brukk!
“Aaarrrkkkkhhh!” Arga pun terjatuh dari pohon rambutan itu, hingga membuat Maira yang mendengar suara teriakan sang suami seketika terkejut dan panik.
“Halo, mas, kamu kenapa? Kamu gak lagi nyetir kan? Itu tadi suara apa, halo ga? Mas Arga, kamu baik baik saja kan? Kamu kenapa, jawab dong!” teriak Maira begitu panik sampai menangis karena sudah tidak mendengar suara Arga lantaran sambungan telfon itu sudah terputus.
Pikiran Maira semakin berkecamuk dan berkeliling kemana mana. Tanpa sadar membuat air matanya kini semakin deras membasahi pipi merah nya, karena takut terjadi apa apa dengan suami nya.
‘Ya Allah lindungi suami hamba, hamba menyuruhnya pulang, tapi pulang kesini. bukan pulang kepada—Mu ya Allah. Jauhkan suamiku dari malaikat maut Mu ya Allah. Hamba janji akan memaafkan nya jika dia pulang dengan sehat dan selamat. Hamba mencintainya ya Allah, jangan pisahkan kami lagi.’ Maira berdoa dengan berlelehan air mata, sebelum akhirnya ia berlari panik mencari keberadaan ibu dan mertuanya.
...~To be continue ......
__ADS_1