
...~Happy Reading~...
Usia kandungan Maira, kini sudah memasuki bulan ketujuh. Lika liku pertengkaran demi pertengkaran kecil di antara Arga dan Maira, nyatanya tak membuat hubungan keduanya renggang.
Maira yang memang sangat mudah marah dan tersinggung, namun Arga juga yang selalu sabar selalu menjelaskan dan menenangkan istrinya. Keduanya saling melengkapi dan menyayangi.
"Hari ini mau kemana?" tanya Maira saat menyediakan sarapan di meja makan.
Meskipun perutnya sudah semakin membesar dengan tiga bayi di dalam nya. Tak membuat Maira melupakan atau meninggalkan tugas nya sebagai seorang istri untuk Arga.
Begitu pun Arga yang semakin posesif dan membatasi pergerakan istrinya. Arga melarang Maira untuk melakukan pekerjaan berat. Kini, ia sudah menyediakan lebih dari sepuluh orang yang bekerja di rumah nya.
Hal itu sengaja ia lakukan untuk membantu istrinya serta mengawasi istrinya jika ada suatu hal yang tak di inginkan.
__ADS_1
"Cuma ke kantor Papa sebentar, habis itu lanjut ke rumah kak Yusuf untuk ngasih berkas untuk meeting besok." jawab Arga sambil menyeruput kopi nya yang sudah di buatkan oleh Maira.
"Emang kak Yusuf gak ke kantor? Kenapa harus di anterin ke rumah?" tanya Maira mengerutkan dahi nya.
"Abi masih sakit, makanya kak Yusuf gak ke kantor." Maira menganggukkan kepala nya tanda paham. Ia pun ikut mendudukkan diri di sebelah Arga dan memulai sarapan nya. "Oh iya, kapan jadwal periksa lagi? Nanti aku kosongin jadwal ku?"
"Dua hari lagi. Katanya Umma juga mau datang dan ikut," jawab Maira yang juga di balas anggukkan kepala oleh Arga.
Usai menyelesaikan sarapan, Maira mengantarkan Arga sampai teras rumah. Seperti biasa, sebelum laki laki itu berangkat bekerja. ia selalu berpamitan dengan para anak anak nya.
Kini, posisi nya sedang duduk berjongkok di depan sang istri. Arga tidak memperdulikan bagaimana tatapan para pegawai nya saat melihat nya duduk berjongkok setiap pagi di depan istrinya. Justru ia merasa sangat bangga karena bisa melakukan itu setiap hari.
Setelah begitu banyak drama penyebutan nama sebagai orang tua kelak. Kini, akhirnya Arga dan Maira sepakat akan menggunakan ayah dan bunda untuk anak anak nya kelak.
__ADS_1
"Iya Ayah, hati hati juga kerja nya. Jangan lupa bawa jajan ya nanti pulang nya," jawab Maira menirukan suara anak kecil, hingga membuat Arga terkekeh.
Bukan suara Maira yang membuatnya terkekeh. Namun, kata kata yang Maira ucapkan setiap hari selalu saja sama. Tidak pernah jauh dari kata makanan.
Memang sejak hamil, Maira tak bisa menjaga jarak dengan yang namanya makanan. Dimana ada makanan, pasti akan ada dirinya. Tak hanya itu, setiap kali dirinya merajuk, Arga hanya perlu menyiapkan sesajen makanan untuk istrinya agar luluh.
Maira tak butuh tas mewah, perhiasan atau uang untuk membujuk nya kala merajuk. Cukup di ajak pergi berkeliling dan membelikan nya makanan sepuasnya, maka wanita itu sudah sangat bahagia dan lupa akan kegiatan merajuk nya.
"Anak anak Ayah mau di bawain apa?" tanya Arga kembali berbisik di perut istrinya.
"Hemmm!" Maira menengadah kan kepala nya ke atas sambil mengetuk dagu nya dengan jari telunjuk, "Martabak red velvet. Full keju moza," imbuh Maira seraya menelan saliva nya membayangkan bagaimana lumer nya Mozarella di atas makanan itu.
Sementara itu, Arga yang mendengarkan request an istrinya langsung mengangguk paham. Tak ingin membuang waktu karena memang sudah cukup siang, ia pun segera pamit dan pergi ke kantor.
__ADS_1
...~To be continue... ...