
...~Happy Reading~...
Drrttt ... Drrttt ... Drrtt ,...
Arga membuka matanya saat mendengar sebuah getaran yang berasal dari ponsel nya. Usai makan tadi, Maira langsung tertidur sambil memeluk nya. Untuk sesaat, Arga tersenyum saat mengamati wajah istrinya yang sedikit tertutup rambut.
“Hemmm ... “ Seperti orang mengigau, Maira memanyunkan bibir nya sambil bergumam tidak jelas, lalu mengeratkan pelukan nya pada Arga seolah tahu bahwa laki laki itu hendak beranjak.
“Sayang... aku mau ke Toilet, sebentar!” ucap Arga berbisik di telinga Maira.
“Gak boleh!” gumam nya dengan suara serak dan semakin mengeratkan pelukan nya.
“Sebentar aja, ya?”
“Gak mau di tinggal.”
__ADS_1
“Mau ikut?” Maira menganggukkan kepala nya dengan mata yang masih terpejam, “Yakin?” tanya Arga kembali memastikan.
“Enggak!” jawab Maira, lalu segera melepaskan pelukan nya begitu saja dan berbalik dan memunggungi Arga sambil memeluk bantal. Arga terkekeh melihat bagaimana cara istrinya tertidur, sangat menggemaskan baginya, ia pun langsung mencium kening itu dengan begitu lembut.
‘Tetaplah menjadi pribadi yang seperti ini. Apapun yang terjadi nanti, sebesar apapun badai yang menerjang rumah tangga kita, aku berharap kita bisa melewati nya,” gumam Arga pelan sambil mengusap lembut kepala Maira.
Ia pernah mendengar dari kakak nya, ibu nya bahkan nenek nya. Bahwa usia pernikahan dibawah lima tahun, akan begitu banyak ujian yang menerjang. Entah apa ujian itu, bisa dari pekerjaan, kesibukan atau bahkan orang ketiga atau keluarga lain nya.
Lima tahun pertama, bisa menjadi sebuah penentu, atau bisa di bilang sebagai ujian pertama dalam rumah tangga. Saat kita berhasil melewati nya, maka kehidupan akan lebih baik tapi tidak menutup kemungkinan akan ada ujian yang lebih dahsyat lagi.
Tapi, apapun itu nanti Arga sudah menyiapkan diri. Ia sudah memiliki bekal untu menghadapi dan menangani masalah nya nanti. Meskipun ia tahu bahwa manusia hanya bisa berencana, tapi Tuhan lah yang menentukan takdir seperti apa yang akan kita jalani nantinya.
‘Akan ku pikirkan nanti!’ balas Arga pada kolom pesan itu, sebelum akhirnya ia menghapus agar tidak menimbulkan masalah.
...🕊🕊🕊🕊...
__ADS_1
Hari berganti hari, tanpa terasa sudah satu minggu Arga dan Maira berada di Busan. Dan selama itu juga, keduanya tidak ada yang keluar dari Hotel sama sekali.
Maira benar benar tidak mau keluar dari Hotel, saat makan ia pun hanya memilih delivery dari berbagai restauran untuk mencicipi nya tanpa berniat mengunjungi restauran nya langsung.
“Masih mual gak?” tanya Maira kala hendak Check out, namun Arga justru masih sibuk bolak balik ke Toilet karena perutnya terus bergejolak sejak pagi tadi.
“Sedikit,” jawab Arga seperti sedang menahan mual.
“Apa kita tunda dulu, pulang nya?” tanya Maira lembut, “Tapi kemarin kamu gapapa loh? Kita malah bisa olah raga setiap waktu, pagi siang sore bahkan malem, kamu sehat. Ini kenapa pas mau pulang, naik pesawat lagi kamu malah kaya gini sih Ga?”
Hoeeekkk!
Arga kembali berlari menuju toilet dan memuntahkan seluruh isi perut nya. Hanya mendengar kata pesawat, entah mengapa sudah membuat kepala Arga pusing serta perut yang bergejolak hebat. Apalagi saat nanti dirinya berada di pesawat.
Bayangan demi bayangan saat mereka berangkat satu minggu lalu, dengan menempuh perjalanan hampir sepuluh jam. Arga sangat tersiksa, dan kini ia harus kembai menderita untuk pulang ke Indonesia.
__ADS_1
‘Astagfirullah, maafkan suami hamba ya Allah. Jangan siksa dia sekarang, dia suami baik. Siksa dia, kalau dia nakal aja ya Allah,’ gumam Maira dalam hati merasa tak tega melihat suaminya yang tersiksa.
...~To be continue ......