
...~Happy Reading~...
“Hiks hiks, sakittt! Umma, perut Maira sakitt, Abii!” Jeritan dan tangisan Maira di sepanjang perjalanan menuju rumah sakit terus memenuhi gendang telinga Arga. Laki laki itu, sejak tadi terus berusaha menenangkan istrinya, menggenggam tangan sang istri serta sesekali mengusap perut besar nya.
“Sabar Sayang, maaf. Aku bener bener minta maaf, maafin aku!”
“Diem kamu!” bentak Maira di sela isak tangis nya. Emosi nya semakin memuncak kala mengingat rasa sakit yang ia rasakan karena ulah suami nya, “Sumpah aku benci banget sama kamu. Aku benci!”
“Sayang, kamu itu sungguh hanya salah paham. Aku sama dia—“
“Aku bilang diem ya diem, Ga! Jangan buat perut aku makin sakitt!” seru Maira yang langsung menjambak rambut Arga dengan begitu kuat hingga membuat laki laki itu ikut memekik kesakitan.
__ADS_1
“Iya iya Sayang, aku diem. Aduhhh sakitt, lepas dulu Mai, lepas!” pekik Arga berusaha melepaskan jambakan tangan Maira di kepala nya.
Beruntung, karena kini mereka naik taksi. Tak bisa di bayangkan jika tadi Ara yang mengendarai mobil nya sendiri, sudah bisa di pastikan mereka akan berjalan bersama menuju surga akibat kecelakaan.
Setelah menempuh perjalanan beberapa menit, kini taksi yang di tumpangi Arga dan Maira sudah tiba di rumah sakit. Dengan cepat, Arga mengangkat tubuh istrinya dan membawa nya masuk ke dalam. Arga tidak menggunakan brankar, akibat terlalu panik dan khawatir, ia tanpa sadar menggendong istrinya sendiri menuju ruang UGD.
“Sayang, kamu harus kuat dan bertahan,” ucap Arga sedikit berbisik di telinga istrinya saat hendak keluar dari ruangan itu.
Begitu sampai di luar, Arga segera menghubungi keluarga nya dan keluarga Maira, sambil terus berdoa semoga anak dan istri nya akan baik baik saja. Tak berapa lama, kini Rahel dan Zaco pun sudah tiba di rumah sakit dan segera menghampiri Arga yang berada di depan ruang UGD.
“Om, maafin zaco. Sungguh Zaco gak sengaja hiks hiks,” gumam anak kecil itu tiba tiba langsung berlutut di depan Arga smabil menyatukan kedua telapak tangan nya dan ia letakkan di depan dagu.
__ADS_1
“Zaco, berdirilah. Kenapa kamu harus seperti ini?” Meskipun keadaan istrinya belum terlihat jelas, namun Arga juga tidak bisa menyalahkan Zaco sepenuh nya. Karena biar bagaimana pun ini adalah kecelakaan. Dan usia Zaco yang masih kecil, sangat tidak mungkin jika anak itu melakukan nya dengan sengaa, bukan.
“Tapi tante Maira sakit hiks hiks hiks. Zaco jahat udah buat tante Maira kesakitan, hiks maafin zaco Om!”
“Maaf Ga, beneran sumpah, aku gak nyangka kalau semua akan kaya gini. Aku dan Zaco bener bener minta maaf,” ujar Rahel dengan tulus meminta maaf.
Ia pun juga sama seperti Zaco, merasa bersalah. Padahal, niatnya hanya ingin emminta bantuan kepada Arga, namun lagi lagi diirnya kembali menjadi duri dan mengakibatkan luka yang sedikit fatal. Tak banyak yang bisa ia lakukan selain doa danberharap anak anak Aga dan Maira sehat juga selamat.
“Arga bagaimana keadaan Maira? Kenapa bisa sampai pendarahan? Dan—“ ucapan mama Naura yang baru saja tiba langsung terhenti kala matanya menangkap sosok wanita yang berdiir tak jauh dari putra nya, “R—Rahel ... “
“Ga, kenapa Rahel bisa disini? Bilang sama Mama, kenapa?” geram mama Naura sambil melirik tajam ke arah putra nya, “Jangan bilang Maira disini gara gara ini!” imbuh nya seperti singa yang hendak menerkam mangsa nya.
__ADS_1
...~To be continue ......