
...~Happy Reading~...
Sejak hamil, tingkah Maira semakin berubah. Wanita yang biasanya tangguh, bar-bar dan ceria. Kini wanita itu sudah seperti bunglon, lantaran mood nya yang selalu berubah-ubah.
Bahkan, ia sempat mendiamkan Arga sampai beberapa hari, hanya karena ia melihat suaminya itu salah memakai parfum.
Maira sendiri, sampai bingung. Mengapa perubahan dirinya bisa begitu besar. Sedangkan saat ia mengingat ketika kakak iparnya hamil, ia merasa tidak separah yang ia alami saat ini.
Tak hanya itu, bahkan, di usia kandungan yang belum genap empat bulan, tapi perut Maira sudah terlihat cukup besar layaknya wanita yang hamil tujuh bulan. Berulang kali ia membandingkan antara dirinya dan Eleena dulu saat hamil, dan semakin ia memikirkan nya, semakin ia menangis dan terisak.
“Aku jadi gendut banget ya?” gumam nya pelan saat berada di depan cermin. Dalam empat bulan ini, ia tidak menyangka bila berat badannya bisa bertambah dengan begitu pesat.
“Gak kok, kamu masih tetap cantik, dan kamu itu gak gendut Sayang. Kamu wanita hebat yang sedang berjuang untuk ketiga anak kita.” Maira sedikit terkejut saat tiba tiba Arga muncul dan langsung memeluknya dari belakang sambil mengusap perut besarnya.
“Bersyukur ya Sayang, jangan insecure dan jangan pikirkan apapun. Fokus dengan anak anak kita, pliss!” imbuh Arga kini meletakkan dagunya di bahu sang istri.
__ADS_1
“Aku ingin fokus dan gak perduli, Ga. Tapi—“ Maira menarik napasnya panjang, wajahnya terlihat semakin sendu, “Aku juga mikir, ini baru empat bulan. Bagaimana nanti kalau udah tujuh bulan, delapan dan sembilan? Aku takut hiks hiks hiks.”
Arga berusaha menenangkan istrinya. Memberikan motivasi dan semangat untuk sang istri agar tidak terlalu memikirkan soal perubahan tubuh nya. Karena memang hampir semua wanita yang hamil akan mengalami hal sama seperti Maira, bukankah begitu? (Tolong bu ibu komentarnya, biar istriku tenang! batin Arga)
“Arga!” panggil Maira langsung menghapus air matanya.
“Hemmm ... “ jawab Arga yang masih menguap perut istrinya.
“Laper!”
Seketika itu juga, Arga langsung menatap ke arah pantulan cermin. Dimana ia bisa melihat wajah istrinya yang tadi menangis kini sudah berubah lagi seperti biasa. Bahkan, wanita itu mengatakan bahwa dirinya lapar.
Padahal, belum ada satu jam keduanya masuk kamar setelah makan malam. Dan kini, Maira sudah mengatakan bahwa lapar, lagi? Benarkah? Batin Arga.
Tidak ingin terlihat gendut, selalu insecure dengan perubahan dalam tubuhnya. Tapi tidak bisa juga mengontrol nafsuu makan. Ingin rasanya Arga bicara seperti itu, tapi ia juga takut bila hal itu akan menjadi boomerang untuknya.
__ADS_1
“Kamu mau makan apa, Sayang?” tanya Arga seolah tidak terkejut dan berusaha sebiasa mungkin agar tidak menyinggung istrinya.
“Mpek-mpek! Tapi aku maunya Palembang,” katanya lagi lagi memasang wajah sedihnya.
“P—palembang? M—maksud kamu?”
Plis tolong, jangan sampai Maira menyuruhnya terbang ke Palembang hanya untuk mencari makanan itu, jerit Arga dalam hati. Ia masih begitu phobia dengan pesawat, jadi akan sulit baginya jika harus pergi ke Palembang.
“Kamu gak mau?” tanya Maira dengan ekspresi wajah datarnya, “Kalau gak mau yaudah, gak usah. Aku tidur aja!” Setelah mengatakan itu, Maira langsung melepaskan dirinya dari Arga.
Masih dengan wajah kesal nya, Maira segera beranjak naik ketempat tidur dan menutup tubuh nya dengan menggunakan selimut. Hingga tak berapa lama, Arga bisa mendengar suara isakan tangis yang benar benar membuatnya frustasi.
“Kamu yang buat aku kaya gini, Ga hiks hiks hiks. Jahat, mau nanem doang gak mau nurutin waktu ngidamnya, aku benci sama kamu Ga, aku benci hiks hiks hiks.” Racau wanita itu dari dalam selimut di sertai isak tangis.
...~To be continue ......
__ADS_1