
...~Happy Reading~...
“Pelan Sayang,“ Maira tersenyum sambil mengusap wajah bayi nya yang sedang menyusuu padanya. Sesekali, wanita itu terkekeh kala merasakan hisapann yang begitu kuat dari bayi laki laki nya.
Sudah menjadi rutinitas Maira setiap pagi dan sore untuk menyusui kedua bayi nya. Sementara untuk bayi perempuan nya, hingga kini masih harus menggunakan botol, lantaran kesehatan nya yang belum sepenuh nya membaik.
Tidak seperti kedua saudara kembar nya, untuk bayi perempuan Arga dan Maira memiliki imun yang lemah, tidak sekuat kedua kakak nya. Hal itu yang menjadi alasan utama Maira berada di rumah sakit, karena ia tidak mau meninggalkan atau memisahkan anak anak nya.
Cklek!
Maira tidak terkejut, atau takut saat mendengar suara pintu di buka. Karena ia sudah tahu, tidak akan ada orang lain yang masuk kecuali suaminya sendiri. Ruangan khsus untuk Maira biasa menyusui.
Ruangan itu hanya khusus untuk dirinya dan tidak akan ada yang berani masuk tanpa izin nya, terkecuali Arga. Karena laki laki itu, setiap kali di larang, sama saja dengan menyuruh nya.
“Sayang, mau makan dulu?” Arga mencoba untuk menawarkan makanan kepada istrinya, walaupun ia selalu emndapat penolakan dan berakhir pengusiran, namun Arga tidak pernah menyerah.
__ADS_1
Ia yakin, sekeras apapun batu karang di lautan, semakin lama akan terkikis jika terus terkena air. Begitupun dengan Maira, sebesar apapun kebencian nya dan kemarahan nya kepada Arga, laki laki itu yakin bahwa dengan kesabaran dan ketulusan nya, cepat atau lambat, istrinya akan luluh kembali.
“Biar Adam sama aku dulu,” imbuh Arga hendak mengambil bayi nya di pangkuan Maira karena saat ini bayi nya itu sudah melepaskan sumber makanan nya.
“Ini Agam bukan Adam!” cetus Maira memutar bola matanya dengan malas.
Padahal, sudah berulang kali mereka bertemu. Tapi hingga kini, Arga masih belum bisa membedakan anak pertama dan keduanya. Arga selalu salah menyebut nama anak- anak nya terkecuali yang perempuan.
“Astagfirullah, maaf Sayang. Ayah lupa,” Meskipun Maira mode merajuk atau marah, akan tetapi ia tetap menerima tawaran Arga. Karena memang dirinya sudah merasa lapar.
Jika sudah sepertiitu, Arga hanya bisa diam dan menghela napas nya berat, tanpa berniat untuk menjawab atau membela diri karena ia sudah tahu itu tidak akan pernah ada ujung nya.
“Tadi, aku ketemu sama Dokter. Katanya, besok sudah boleh pulang.” Arga memilih untuk mengalihkan pembicaraan.
“Kami gak akan pulang sebelum Aish juga boleh pulang!” kata Maira dengan tegas.
__ADS_1
“Iya Sayang, kita pulang sama sama, Aish juga akan pulang sama kita.” Arga tersenyum saat Mairalangsung menatap ke arah nya seolah tidak percaya dengan apa yang dia katakan.
“Kesehatan Aish sudah semakin mebaik. Bahkan, susu yang sudah kamu pumping untuk nya, dua hari ini selalu habis. Makanya, besok kita sudah boleh pulang,” imbuh Arga lalu mengusap wajah istrinya dengan begitu lembut.
“Alhamdulilah, “ untuk sesaat Maira bersyukur dan tersenyum, tapi hanya beberapa detik wajah nya sudah kembali ke mode sebelum nya, “Aku akan pulang ke rumah Abi.”
Deg!
Tak hanya wajah wajah Maira yang berubah, melainkan wajah Arga pun ikut berubah kala mendengar perkataan dari istrinya.
“Sayang ... “ Arga hendak prtes, namun segera di potong oleh Maira.
“Biarkan aku waras dulu, Ga. Aku mau sama Umma dan Abi untuk sementara waktu. Gak mau sama kamu!” pinta Maira dengan penuh permohonan.
‘Biarkan waras? Apakah selama ini kamu gila, Mai.’ Gumam Arga dalam hatinya lalu menghela napas berat.
__ADS_1
...~To be continue ......