
"Aku Bebas!!!"
Nara melempar tas kerja nya ke sembarang tempat, ranjang tidur menjadi sasaran untuk membuang penat yang ia bawa dari tempat kerja.
Seharian berkelumit dengan pekerjaan kantor yang berhasil membuat darahnya mendidih. Menyortir dokumen dan menyusun arsip seolah menjadi makanan pokok bagi Nara yang bekerja sebagai Sekretaris Junior di High Class Corp. Perusahaan ini membawahi berbagai unit usaha yang bergerak di bidang media, gaya hidup dan hiburan. Perusahaan yang di Pimpin oleh Arion Abhivandya ini memperoleh pendapatan terbesar hingga mencapai Rp 2,503 triliun.
Menyebut nama Arion rasanya menjadi hal paling menyebalkan bagi Nara. Boss besar yang sering bertindak seenaknya, memerintah sesuai dengan keinginannya dan Tidak suka di bantah.
"Ini kopi apa?? "
Tanya nya saat Nara menyodorkan segelas kopi di atas meja kerja Arion.
"Kapucino Mister."
Hampir setiap hari Arion memesan minuman paforitnya, dan Nara bertugas mengantar pesanan tersebut ke meja. Dia tidak suka orang lain masuk dengan sembrono ke dalam ruangannya termasuk office boy sekalipun.
"Loh, saya mau Amerika kopi kenapa yang datang Kapucino? kamu ini gimana sih?"
Sial. Mulut bebek itu berhasil mengoceh, padahal sudah jelas-jelas Kapucino adalah jenis kopi yang selalu ia pesan. Mengapa hari ini berubah menjadi Amerikano?
"Biasanya Mister kan pesan Kapucino." Nara menyela berusaha membela diri.
"Kamu membantah? lupa dengan aturan yang sudah kita buat? "
"Bukan. Bukan begitu Mister."
Tidak mungkin Nara lupa dengan aturan mutlak yang di berikan Arion. Bahkan Peraturan tertulis itu di cetak dan di pajang di ruangan kerjanya.
Jaga jarak sejauh satu meter karena Arion memiliki penciuman yang sensitif, ia tidak bisa menghirup aroma parfum orang lain karena akan membuat sinusitisnya kambuh. Di larang menolak apapun bentuk Perintahnya, karena sudah jelas katanya Boss selalu benar, Siap menerima perintah di dalam atau di luar kantor dengan alasan agar ia tidak sia-sia membayar Nara dengan gaji yang sepadan.
"Huaaaa!! " Nara menjerit sepuasnya ketika ingatan tentang Boss nya terlintas dan mengganggu pikiran. "Arion!! kau menyebalkan! egois!! dasar salju kutub!! "
Hanya di sini, sebuah rumah kecil yang ia sewa setiap bulan. Tempat paling aman saat Nara habis-habisan mengumpat Arion.
Menjadi Sekretaris di sebuah Perusahaan merupakan idaman setiap orang. Tapi Jika Boss nya baik, tidak berlaku jika itu berhubungan dengan Arion.
Nara lulus dari sebuah Universitas ternama dengan nilai dan predikat terbaik. Sehingga pihak Universitas merekomendasikan dirinya kepada High Class Corp. Beruntungnya, ia di Terima dengan mudah, terpilih Menjadi Sekretaris Junior dan menjalani masa tryning oleh Sekretaris Senior, Kevin Ardana.
Kevin Ardana, Sekretaris muda yang menjadi tangan kanan Arion Abhivandya. Dua pria tampan itu sama-sama memiliki suhu di bawah Nol derajat.
Kenapa Nara harus terjebak di Kutub seperti ini sih??
Dreeeettt.. Drrreeeetttt.. Drrreeeetttt..
__ADS_1
Ponselnya bergetar di atas nakas. Nara lupa mengganti mode silent di gawainya. Dan satu peraturan lagi, saat bersama Arion di larang ada suara notifikasi apapun.
"Manusia ini!! "
Kesalnya saat membaca nama Arion yang tertera di layar ponsel.
"Selamat malam, Mister." Sapa Nara mendayu-dayu padahal bibirnya mengerucut hingga lima senti.
"Apa!! ke apartemen anda?? malam-malam begini? "
"Ya Mister, saya akan segera kesana."
Panggilan itu terputus, lalu Nara melempar ponsel butuhnya ke atas kasur.
"Tuhan!!! Berikan hamba kekuatan!! " ia bersimpuh lalu menyandarkan tubuhnya di tepi ranjang.
...----------------...
Arion tampak gusar hilir mudik di dekat mobilnya yang terparkir di base ment. Berulang kali ia mengecek ponselnya, sudah lima menit berlalu, sepuluh menit, dan lima belas menit. Orang yang di tinggunya tak kunjung datang.
Keterangannya semakin menjadi, saat suara tangisan itu terdengar dari dalam bagasi mobilnya. Bayi mungil dengan selimut berwarna biru meronta-tonta dari dalam kotak berwarna coklat.
"Kemana saja perempuan itu? lama sekali! " Gerutunya.
"Maaf Mister, jalanan macet jadi saya terlambat." Nara datang tergesa dengan nafas yang tersengal.
"Terlambat, potong kerugian waktu dua ratus ribu." Arion melorik arloji di tangannya.
"Mister, maafkan saya kali ini saja. Lagi pula ini di luar jam kantor! " Nara menangkup kan telapak tangannya di depan wajah, ia memohon belas kasihan dari sang pangeran es.
"Ya sudah, saya maafkan."
Lengan Nara di tarik oleh Arion lalu ia di hadapkan dengan bayi lucu di dalam mobilnya.
"Ba-bayi siapa ini? Anda sudah punya bayi? "
Suara nyaring Nara membuat seseorang yang berjalan meninggikan daun telinganya.
"Sssttt!! Jangan keras-keras! "
"Ini sungguh bayi anda, Mister?? "
"Jangan asal bicara, atau ku potong lagi gajimu karena sudah lancang."
__ADS_1
"Maaf." Nara menunduk.
"Bayi ini ku temukan di dalam mobil, aku tidak tahu siapa orangtuanya." Arion mulai menjelaskan.
"Lapor polisi saja Mister, ya Saya yakin! " Potong Nara.
"Kamu pikir mudah jika berurusan dengan aparat? Hal yang pertama di periksa adalah kita. Aku orang penting tidak ada waktu untuk itu."
"Ya terus, kenapa Mister memanggil saya? saya lebih tidak tahu apa-apa soal ini dan tidak ada hubungannya."
Benar juga. Kenapa dirinya tidak memanggil Kevin saja, kenapa harus Sekretaris bawel dan pembangkang ini?? ya karena dia perempuan kan? naluri keibuan ada pada perempuan, setidaknya Nara tahu cara apa yang harus di lakukan sekarang.
"Bawa bayi ini ke rumah mu, jaga dia sampai kita menemukan orangtua yang membuangnya."
"What the____" Nara melotot.
Usianya baru menginjak 22 tahun, dan ia seorang gadis perawan. Bagaimana bisa membawa bayi ke rumah, apa kata orang-orang??
"Kamu membantah?? "
"Tidak Mister." Nara mulai merengek. Ia jadi serba salah. "Apa kata orang-orang jika mereka tahu saya pulang membawa bayi, bisa rusak reputasi anak bangsa."
"Ya terus bagaimana? itu sebabnya saya panggil kamu, agar menemukan solusi. Katanya mendapat predikat terbaik di kampus tapi menyelesaikan masalah seperti ini tidak bisa."
Tuhan. Seandainya melukai seseorang itu bukan tindak kriminal, ingin rasanya Nara melepas high hills yang di pakainya dan melempar ke wajah pria yang berdiri di hadapannya.
"Bawa ke apartemen Mister saja, di sana lebih aman kan? tidak ada orang yang akan penasaran. Di sini mayoritas pekerja yang sibuk."
"Tidak!! " Arion menolak keras.
Namun orang-orang yang berlalu lalang di sekitar mereka terus memperhatikan perbincangan diantara keduanya.
"Lihat Mister, mereka semakin mencurigai anda dan bayi itu." Nara memprovokasi
"Cepat bawa ke apartemen ku, tutup kotaknya dengan rapat, agar mereka tidak curiga bahwa ini bayi."
Arion mendorong punggung Nara. Nara menurut lalu merengkuh kotak itu dan menyapa bayi lucu yang kini sudah tertidur di dalamnya.
Bayi yang malang.
Sementara ini, Apartemen Arion adalah tempat aman untuk menyembunyikan bayi, setelahnya Arion akan mengatur rencana untuk mengambil tindakan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1